My angle should not change your form.
You are the one who changed it.
--Mp--Suasana ruangan kuliah sangat sunyi. Bahkan jika Adolf ingin tidur, ia pasti sudah terlelap sekarang. Suasana yang sangat berbeda dengan ruangan kelas saat ia masih di FKIP matematika. Sungguh. Jangan masuk diangkatan itu. Mereka adalah manusia-manusia aneh yang ngak bisa kalo diem. Soal bawel, ngak ada yang bisa lawan mereka pokoknya. Bayangin aja gimana gaduhnya ruangan itu. Horor.
"Adolf.." Seorang wanita berambut cokelat menghampiriku. Aku membuka mataku, mencoba mengenali sosok didepanku.
"Apa?" Aku kembali menutup mataku.
"Aku tadi pagi lihat kamu." Mata aku terbuka lebar.
"Lihat dimana? Di mimpi kamu?"
"Cih... Di gereja. Lagi melamun." Gadis itu pergi begitu saja.
Datang ngak diundang, pergi juga pergi aja. Dasar cewe.Aku melamun? Sungguh?
Bangunan bercat putih selalu terkesan mewah, bersih. Aku melangkahkan kakiku memasuki gedung gereja. Hari ini adalah hari rabu abu. Aku ingat betul, aku baru saja bertemu Renha pagi ini. Aku duduk di bangku tengah paling pinggir, agar mudah saat aku harus keluar nantinya. Tapi apa yang aku pikirkan? Oh.. ya.. Aku memikirkan percakapan ku dengan Renha beberapa hari yang lalu.
"Minggu depan rabu abu." Aku tersenyum, sedang Renha hanya mampu menatapku.
"Doa?" Renha mencoba menebak.
"Ia. Ini satu kali setahun. Keren kan? Berpasan dengan hari kasih sayang." Aku mencoba menjelaskan. Renha memang tidak tahu, tapi aku hanya ingin dia tau.
"Hm.. keren." Renha tersenyum, lalu mengotak-atik hpnya.
Dia ngak tertarik?
"Nih.. nanti ada ini juga?" Renha menyodorkan hpnya, menunjukkan beberapa hasil gambar yang ada di hpnya.
"Salib di kening kamu. Nanti ada?" Renha menatapku sungguh.
Dia aneh.
"Ialah. Kamu mau lihat?"
"Mau..." Suara manjanya terdengar.
"Ya sudah. Aku perginya pagi. Supaya pas ke kampus kamu bisa lihat."
"Beneran loh.. jangan dihapus salibnya."
"Iya emang ngak boleh dihapus."
"Seriusan? Sampe kapan?"
"Sampe hilang sendirilah. Pokoknya ngak boleh dihapus."
"Hm.... oke.. Emang ada berapa kali ke gerejanya nanti?"
"Masing-masing gereja beda. Kalo aku 2X hari ini."
"Aku tunggu loh."
"Iaia. Okeh!" Aku bersemangat.
Benar.. Aku memikirkan Renha. Renhaku yang selalu jadi Renha.
Renha menyukai banyak hal. Salah satu yang ia sukai adalah perbedaan. Dia berbeda karena menyukai perbedaan. Tidak semua orang seperti Renha. Aku ingat dia begitu tertarik denganku, dengan kepercayaanku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello From Distance.
RomansaJangan menghilang, agar tidak ada yang merasa kehilangan. Renha menatap layar handphonenya, kepada sebuah kalimat yang tertera disana. Hasil tulisan tangannya, perasaannya. Sebenarnya sulit, mencintai temanmu. Apalagi jika temanmu bukan teman biasa...