Bagian 4

60 18 8
                                    

Hari-hari berlalu. Kini hari masuk sekolah awal semester genap pun tiba. Aku berangkat paling awal seperti biasa. Sambil menunggu teman-teman datang, aku membuka Facebook ku. Aku melihat Dave memposting video rekaman konser piano solo nya. Aku tak menyangka dia tampil di panggung.

Dia memainkan Nocturne Op. 9 No. 2 milik Chopin. Piece ini terdengar sangat familiar tapi aku baru tau kalau judul nya itu. Haha payah. Untuk piano piece se-terkenal ini aku baru tau judulnya? Maklumlah... Aku jarang mendengarkan musik klasik.

Dave terdengar sempurna di penampilannya itu. Enjoyable. Semua orang di concert hall itu memberi applaus kepada Dave. Aku benar-benar kagum dengan permainan piano nya. Yup, setelah mendengarkan ini aku semakin tak sabar untuk bertemu dia.

Satu persatu teman-teman sekelasku datang memenuhi kelas. Aku memang tidak punya teman di lingkungan rumah, tapi kalau di sekolah untunglah aku masih punya teman-teman yang mendukungku. Wajar saja, ayahku tidak ada di sini untuk melarang ku bergaul dengan orang lain.

"Hey Rina! Apa kabar?", sapa Sari. Dia adalah salah satu sahabat terdekatku.

Aku tidak sabar menceritakan semua yang terjadi padaku, "Kabar baik Sar... Emm... Sebenarnya ada hal yang mau aku ceritakan".

Sari menarik sebuah kursi dan mendekatkannya dengan kursiku, "tentang apa? Buruan cerita. Aku dah lama gak denger cerita darimu".

Belum sempat aku ucapkan satu kata tiba-tiba Nita dan Yuli mengejutkan ku. "Hey Rina!", teriak mereka berdua. Aku terkejut, "Ngagetin aja, aku mau cerita nih. Kalian pasti bakalan kaget dengernya".

Nita duduk di kursi depan ku, "Apa? Kamu ditembak kakel?". Aku menggeleng. "Dapet undian lagi ya?" tebak Yuli. Aku tertawa. Aku memang sering memenangkan undian meskipun hadiahnya tidak banyak. "Bukan itu Yul. Ini lebih mengejutkan", kataku.
"Buruan Rin", Sari tentu saja sudah tidak sabar.

Aku menarik nafasku, "Aku mau pergi ke Jepang". Mereka bertiga melongo tak percaya. "Itu hadiah undian mu Rin? Tumben hadiahnya gede", Yuli masih saja mengira aku membicarakan undian. Aku menggeleng "bukan undian Yul... Aku benar-benar mau pindah ke sana. Maksudku bukan cuma satu atau dua minggu saja".

Aku melirik Nita yang nampak iri denganku. "Kenapa sih teman-teman ku pada pindah ke Jepang. Dulu si Ayu, sekarang kamu Rin. Padahal kan aku yang dari dulu suka Jepang malah gak dapet kesempatan pergi ke sana", gerutu Nita. Aku tersenyum, "Makanya sekarang belajar lebih rajin lagi biar kita bisa pergi ke sana bareng-bareng".

"Emangnya kamu ke Jepang dalam rangka apa?", tanya Sari. Aku tersenyum masam, "mau nerusin sekolah. Orangtuaku dah gak mampu bayar".

"Heh? Gak mampu bayar kok malah sekolah di Jepang?", celetuk Yuli. Aku pun akhirnya menjelaskan semua yang terjadi kepada ku. Mereka mengangguk paham.

"Emangnya kamu mau nerusin sekolahnya di sekolah mana?", tanya Sari.

"Aku belum tau sih. Tapi mungkin ya gak jauh dari tempat tinggalku besok di daerah Minato"

Bel masuk berbunyi. Kami kembali ke bangku masing-masing. Hari ini belum pelajaran seperti biasa. Cuma ada sedikit ceramah dari wali kelas. Wali kelas ku mengumumkan bahwa hari ini kami bisa pulang pagi setelah kerja bakti membersihkan ruang kelas.

Setelah selesai kerja bakti, aku dan Nita tidak langsung pulang tetapi duduk-duduk sebentar di bawah pohon besar yang tumbuh di halaman sekolah. Aku menceritakan kepadanya tentang Dave.

"Eh aku punya kenalan di Facebook nih. Kebetulan dia orang Jepang dan tinggal di Shibuya. Gak jauh dari Minato. Siapa tau dia bisa membantuku di sana", ceritaku.

"Mana orangnya? Lihat..."

Nita merebut ponselku. Dia membaca chattingan ku dengan Dave dan stalking profilnya, "wah gila... Keren banget... Dia juga ramah Rin... Kenapa kamu gak tanya-tanya aja tentang kehidupan di sana itu gimana? Tanya aja sekarang biar kamu makin bisa persiapan mental, hehe."

Memang sudah dua minggu ini aku tidak chat dengan Dave, "Baiklah aku coba".

Aku: hello
Dave: hi
Aku: Dave, I'm going to live in Japan ^^ maybe I can meet you there

Ah sial. Kenapa pesanku jadi centil gitu. Sayangnya Facebook tidak punya fitur untuk menarik pesan.

Dave: oh really? Which part of Japan?
Aku: in Minato. That's close to Shibuya, right?
Dave: yes it is.

Stop basa basi nya. Sekarang ke pertanyaan yang sebenarnya

Aku: well, I have a few questions to ask about living in Japan. How do you feel about living in Japan? Especially in Tokyo

Huh? Dia online. Tapi tidak membalas. Kutunggu 5 menit lagi. Masih tidak membalas.

"Kok gak dibales ya Nit..."
"Mungkin dia sibuk"
"Hmm ya mungkin gitu. Positif thinking ya"

Aku malah merasa khawatir sekali mengetahui dia tidak membalas pesanku. Apa dia merasa terganggu ya? Padahal di saat aku penasaran gini malah dia tidak membalas.

Aku pulang. Rumahku pada pukul 11 seperti sekarang ini memang biasanya sepi. Aku lapar tapi aku tidak mengambil makan. Melainkan malah cemas terhadap pesanku yang tidak dibalas Dave.

"Ah sudahlah Rin... Dia juga bukan siapa-siapa mu. Bertemu saja belum pernah", gumamku sambil tersenyum. Tapi perkataan ku itu tak mempengaruhi sikapku. Sampai pukul 5 sore aku masih terbaring sibuk scrolling beranda Facebook mengharapkan Dave membalas pesanku. Aku cuma melihat dia online dan membalasi komentar-komentar di grup.

Mama mengetuk pintu. Sial. Aku belum beres beres rumah sama sekali.

Aku membukakan pintu. Mama belum sempat masuk rumah, tapi mama malah aku cegat di depan pintu "emm... Ma... Maaf ya aku belum beres beres rumah". Mama tersenyum "gak apa-apa Rin... Ya sudah ayo kita beres-beres bersama".

Aku tau mamaku masih lelah. Tapi percuma saja menyuruh mama istirahat. Dia tetap saja kekeuh untuk membantu ku. Aku kurang ajar sekali ya. Cuma gara-gara pesan tidak dibalas sampai aku melupakan kewajibanku. Aku bahkan belum membuatkan minuman untuk mama.

Selesai beres-beres aku mengambil makan siang ku yang dari tadi belum aku makan gara-gara pikiran bodohku itu. "Loh? Kok baru makan sekarang Rin?", tanya mama. Aku tidak heran mama tanya seperti itu. Ini sudah jam 6 dan memangnya siapa yang makan siang pada jam 6?

Aku tentu tidak bisa menjawab jujur, "ah iya ma. Tadi aku ketiduran. Makanya aku lupa beres-beres rumah dan makan siang".

"Kamu pasti kecapean tadi di sekolah ya? Atau kamu tadi malam gak bisa tidur lagi? Mama pijitin ya".

Seharusnya aku yang nawarin buat memijat mama, "Enggak ma, aku cuma ngantuk aja". Aku dari tadi masih scrolling di Facebook. Bodoh. Dia tidak akan membalas pesanku lagi. Apa pertanyaan ku salah?

Aku kembali ke kamarku lagi. Bukan untuk belajar. Tapi masih scrolling gak jelas di Facebook. "Ayolah Dave...", gumamku. Aku membaca kembali pesan yang sudah aku kirim ke dia. Di mana letak kesalahannya? Perasaan pertanyaan ku sopan saja.

Aku belum pernah seperti ini. Aku belum pernah sampai terus-menerus kepikiran hanya gara-gara orang yang belum kukenal dan bahkan belum kutemui itu tidak membalas pesanku. Apa mungkin aku ada rasa kepada dia?

A Tribute For You (Hiatus)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang