7. Sikap tak Terduga

343 64 9
                                    

Yerim dan Somi sudah masuk sekolah seperti biasa. Rencananya mereka akan mengurus kepindahan mereka dari asrama sekolah ke apartemen Somi, semua ini demi keselamatan mereka. Karena bangsa demon sudah mengetahui keberadaan mereka yang terbukti dengan bangsa demon yang menyerang Yerim tempo hari. Setelah mendapat persetujuan dari Jungkook mengingat Jungkook sedikit sensitif dengan kehadiran Yerim, mereka mulai mengurus kepindahan mereka.

Sepulang sekolah Yerim dan Somi berkemas dari kamar asrama sekolah mereka. Barang Yerim tidak terlalu banyak hanya menambah satu koper ukuran jumbo sudah cukup menampung semua barang barangnya. Tetapi barang barang Somi lumayan banyak, alhasil mereka harus dibantu Jungkook untuk pindahan. Jungkook memutuskan membeli mobil pagi tadi, untuk memudahkannya berpergian selama di Vancouver. Sikap Jungkook pada Yerim belum berubah masih dingin dan datar bahkan setelah kejadian semalam.

Beberapa barang Yerim dan Somi sudah berada di apartemen Somi. Yerim bahkan melesat membantu Somi membereskan barang barang mereka dari koper berpindah kedalam lemari atau rak rak didalam kamar. Yerim dan Somi tidak masalah berbagi kamar karena mereka sudah terbiasa seperti itu persis saat mereka tinggal di asrama sekolah. Setelah membereskan semua barang, Yerim dan Somi memutuskan pergi ke toko perabotan karena ada beberapa barang yang harus mereka beli.

"Som, kamu pulang duluan gimana ? Aku masih mau mampir bentar ke toko buku" Yerim meminta ijin untuk pergi ke toko buku dan menyuruh Somi pulang terlebih dahulu.

"Eh ? Jangan yer ! Ntar kalo kamu diserang sama demon lagi gimana ?" Somi menolak meninggalkan Yerim sendiri karena takut hal menggerikan seperti kemarin terulang lagi.

"Som, som mana berani demon berkeliaran dikawasan pusat kota kayak gini, ramai juga kan disini" Yerim sempat terkekeh dengan kekhawatiran Somi. "Iya juga sih yer" lamat lamat Somi berfikir dan membenarkan ucapan Yerim.

"Lagian toko bukunya yang deket apartemen kamu kok, gak toko buku yang biasanya" Yerim menyakinkan Somi untuk tidak khawatir lagi.

"Oke deh, hati hati yaa. Cepet pulang ! Gak usah kemaleman ! Kalo ada apa apa langsung kabarin" sebelum meninggalkan Yerim, Somi mewanti sahabatnya dengan sederet kata kata protektifnya. "Iya iya" Yerim menepuk bahu Somi dan tertawa karena sifat over protektif sahabatnya.

Somi sampai di apartemen saat hari menjelang malam. Jungkook sedang duduk menikmati popcornnya sambil menonton acara sepak bola di tv. Somi melewati Jungkook hendak menuju kamarnya, lalu mundur lagi tepat didepan Jungkook "Ada pizza di meja makan, tapi jangan dihabisin semua sisain buat Yerim. Dia pulang telat. Oke brother ?" Somi memberi winknya dan melanjutkan langkahnya ke kamar setelah memberitahu Jungkook. Jungkook tidak menjawab Somi dan melanjutkan kegiatannya menonton acara bola kesukaannya.

❄❄❄❄

Ditempat lain Yerim sudah selesai membeli buku incarannya. Saat dia keluar dari toko buku hari sudah gelap dan hawa dingin mulai menyambutnya. Dia terlalu keasyikan didalam toko buku sampai dia lupa waktu. Yerim segera pulang agar tidak terlalu malam saat dia sampai di apartemen dan Somi khawatir padanya. Yerim tidak bisa melesat, karena dia sedang ditengah pusat kota yang lumayan ramai dengan orang orang. Yerim juga sudah menetralisir bau vampirnya dan hanya bau manusianya yang tercium.

Yerim berjalan kaki menuju halte bis. Karena ada pertunjukkan di pinggir jalan sampai menyedot perhatian banyak penonton sehingga jalan yang akan Yerim lalui terlalu ramai dan padat oleh manusia yang menonton pertunjukan itu, akhirnya Yerim mengalah dan memutar jalannya sedikit jauh tapi bebas dari hambatan. Jalan yang Yerim lalui tidak terlalu sepi tetapi memang tidak banyak orang yang berlalu lalang disekitarnya.

Kurang sedikit lagi Yerim sampai dihalte. Tetapi ditengah jalan dia dikejutkan dengan kehadiran segerombolan pemuda yang berjalan dari arah berlawanan. Segerombolan pemuda itu terlihat sedikit mabuk dan sepertinya bukan pemuda yang baik baik. Yerim ingin sekali melesat tetapi tidak mungkin. Yerim memutuskan berpura pura tidak peduli dan mempercepat langkahnya. Tapi terlambat sebagian pemuda tadi memblokade jalan Yerim.

CHARTREUSETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang