Di sinilah Neno sekarang, berbaring di ruangan serba putih, berbau obat-obatan yang sebenarnya ia sama sekali tidak menyukai ruangan ini. Tubuhnya sedang diperiksa oleh seorang dokter yang diketahui namanya bernama 'Agam'.
"Neno, apa kamu sering melakukan kegiatan yang membuatmu lelah?" tanya dokter itu saat Neno masih berbaring.
"Iya dok,saya masih bermain basket," jawab Neno jujur. Dokter Agam hanya bisa menghembuskan napas nya pelan. Dia sudah pusing menasihati pasiennya yang sangat keras kepala ini berkali-kali.
Neno yang mengetahui raut wajah dokter Agam,mulai berbicara lagi.
"Dok,saya nga bisa berhenti main basket,jadi mau dengan cara apa saja dokter melarang saya,saya tetap ngak bisa dok,"ujar Neno meyakinkan.
"Tapi No, penyakit kamu setiap hari semakin parah, bahkan kamu sebenarnya sudah harus menjalankan terapi rutin, dan dianjurkan untuk home schooling," jelas Dokter Agam.
"Ngak dok,saya ngak mau yang namanya home schooling apalagi saya harus ke rumah sakit setiap hari," elak Neno kesal.
Dalam hatinya bertanya tanya. Kenapa dia harus ditakdirkan untuk memiliki penyakit seperti ini? Neno berpikir,jika ia tidak sekolah, bagaimana dengan Rere? Siapa yang akan menjaga gadis tersebut? Dan begitu juga dengan teman-temannya. Mau bilang apa jika nanti Neno mendapat pertanyaan dari keempat temannya itu.
Dokter Agam sudah selesai memeriksa Neno,kemudian ia duduk di meja Dokter,diikuti dengan Neno yang duduk di depannya.
"No, tolong saya minta sama kamu supaya kamu mengurangi kegiatan kamu yang bisa membuat penyakitmu tambah parah, kamu tidak mau bukan tubuhmu semakin hari semakin melemas? Dan apa kamu tidak kasihan dengan orangtuamu?,"tanya dokter Agam mengerutkan kening.
Awalnya, Neno berpikir tentang perkataan Dokter Agam. Ia tidak mau sampai terlihat lemah di depan semua orang,yang benar saja, Neno yang biasanya sehat ceria mendadak lemas dan tak berdaya nantinya.
Tapi setelah Dokter berbicara tentang orangtua, Neno sangat malas mendengarnya. Jika memang mamanya sayang, sudah pasti beliau sudah ada di sini menemani Neno periksa. Namun kenyataannya sangat berbalik bukan?
" Iya dok,saya akan coba," balas Neno pasrah. Tak lupa ia juga tersenyum tipis,meskipun senyumnya hanya sebagai penguat dirinya sendiri.
"Yasudah kamu boleh pulang,obatnya jangan lupa diminum. Ingat Neno,jangan lupa jaga kesehatan,kurangin aktivitas kamu yang tidak berguna," ujar dokter menyerahkan obat kepada Neno.
"Makasih dok,saya pamit," Neno menerima obat tersebut sambil berjabat tangan dengan dokter,lalu segera pergi dari ruangan tersebut. Sedangkan Dokter Agam hanya tersenyum sebagai jawaban.
**
Lain tempat, Rere sedang bersama Reza di sebuah taman. Raga Rere memang di samping Reza,tapi pikirannya terus berkelana tentang Neno.
Saat ini dimana Neno sekarang?apa dia baik-baik saja. Setelah dipikir kembali,Rere menyesal karena tidak mau ikut dengan Neno ke rumah sakit. Bisa saja kan dia membatalkan janjinya pada Reza dan pergi bersama Neno. Lagian juga tidak berkencan,hanya diajak ke rumah sakit. Bodoh sekali Rere itu.
Selain itu Rere juga masih memikirkan kata-kata dari Neno yang diucapkan tadi sewaktu masih di sekolah.
"Re,kenapa sih?" tanya Reza melambaikan tangan di depan wajah Rere.
KAMU SEDANG MEMBACA
Go Away
Novela Juvenil"Re,kalau misalnya gue udah pergi gimana?"Ucap Neno asal,sambil memandangi langit yang penuh bintang "Maksud lo apa?"Rere menoleh dengan alis yang bertaut "Lo mau janji sesuatu sama gue?"ujar neno "Apa?" "Jangan lupain kenangan kita,meski gue tahu...
