"Rei... Rei... bangun, yuk. Ayo pindah ke dalam kamar."
Reihan perlahan membuka mata saat merasakan goyangan pelan pada punggungnya. Dia mengerjap sebentar mengumpulkan kesadaran. Kepalanya terasa berat sekali hingga sekadar mengangkatnya pun dia merasa malas. Dengan pipi yang masih menempel pada permukaan sofa, dia melirikkan mata ke samping dan mendapati sesosok pria tengah menungguinya sambil berjongkok di atas lantai.
"Maaf, kalau sudah mengganggu tidurmu, Rei. Aku hanya nggak bisa membiarkanmu tidur di luar," ucap pemuda itu lagi sambil mengusap-usap lembut pucuk kepala Reihan.
"Apa kejadian barusan yang kualami hanyalah sebuah mimpi?" Reihan mulai berpikir sembari mengerjap-ngerjapkan mata. "Ah, bukan. Aku nggak sedang bermimpi. Hatiku masih terasa sakit, yang seharusnya menghilang ketika aku terbangun. Ironisnya, biang dari semua masalahku masih berani mendekatiku tanpa rasa bersalah sekarang. Apa sebenarnya maumu, Daff?"
"Ok, jika kamu tetap nggak mau bangun. Jangan salahkan aku melakukan hal ini, Rei."
"Eh... eh... mau ngapain kamu, Daff?" Reihan terkaget saat mendadak terselip sepasang lengan kokoh pada permukaan dada dan pahanya. Lalu tubuhnya terasa terangkat seraya sedikit diputar hingga wajahnya menghadap ke atas.
"Cepat, turunkan aku, Daff!" protes Reihan sambil meronta dalam dekapan pemuda yang dari tubuhnya menguarkan aroma alkohol bercampur asap rokok.
"Maaf, maaf, Rei. Aku nggak bermaksud membuatmu jadi nggak nyaman seperti ini. Aku hanya ingin kamu menemaniku tidur di kamarku. Aku..." ucap Daffa terhenti sambil menurunkan tubuh Reihan. Dia takut Reihan jatuh karena terus memberontak, jika dia memaksa tetap menggendongnya. Lalu dia menatap wajah pemuda yang cepat-cepat mengambil jarak setelah lepas dari dekapannya.
"Bisa tidak, kamu sekali-sekali nggak bersikap semena-mena dan memaksakan kehendakmu, hah?" tanya Reihan meradang. "Aku nggak mau tidur di kamarmu, Daff! Aku tidur di sofa saja sebagaimana perjanjian awal kita. Meskipun sofa ini nggak seempuk ranjang di kamarmu, tapi aku lebih nyaman tidur di sini karena seharusnya tempatku memang di sini. Terima kasih kamu sudah menyadarkan posisiku, Daff."
Daffa tersentak. Perkataan Reihan barusan menusuk hatinya dalam-dalam. "Maaf... aku benar-benar minta maaf, Rei..." lirih Daffa penuh penyesalan sambil menatap mengiba ke arah Reihan. Lalu dengan sedikit ragu, kakinya perlahan melangkah maju berniat memupus jarak di antara mereka.
"Stop! Jangan mendekat, Daff!" Reihan langsung memperingatkan dengan telunjuk teracung. "Atau aku akan pindah ke kamar Bella saat ini juga," lanjutnya serius dengan tatapan tajam sembari menahan rasa perih dalam hati. Reihan sebenarnya tidak tega tapi dia terpaksa harus bersikap kejam supaya hatinya tak tersakiti lagi.
Daffa langsung mundur beberapa langkah agak panik setelah mendengar ancaman Reihan. Pengaruh alkohol membuatnya sedikit parno dan ketakutan sendiri. "Jangan, jangan tinggalkan aku, Rei, please... Aku... aku nggak akan memaksamu tidur di kamarku. Kamu boleh tidur di mana saja asalkan kamu nggak pergi dari ruangan ini. Aku... aku nggak mau sendirian, Rei..." lirih Daffa memelas sambil menatap Reihan, membuat hati pemuda itu mulai goyah saat memandangi sosok pemuda yang biasanya digilai ribuan orang di luar sana, sekarang terlihat begitu menyedihkan. Kain kemeja mahal yang membalut tubuhnya tampak lusuh dengan beberapa kancing atas tidak berkait pada lubangnya. Lalu rambut yang biasanya selalu tersisir rapi kini tampak kusut dan acak-acakkan hingga beberapa helai poninya jatuh menutupi sebagian manik mata yang menyorotkan keputus-asaan.
Namun Reihan memutuskan untuk mengeraskan hati. Dia tidak mau memberi celah yang pada akhirnya malah menyakiti dirinya sendiri. "Sebaiknya kamu segera istirahat di kamarmu, Daff. Aku mau melanjutkan tidurku," ujarnya dingin sembari berjalan kembali menuju ke arah sofa. Sementara Daffa tetap bergeming tidak beranjak dari tempatnya, terus berdiri serta enggan melepaskan pandangannya pada Reihan barang sedetik pun.

KAMU SEDANG MEMBACA
Superstar (BXB)
Teen Fiction"Grand Prize for 3 Luckiest Winner: Having One Night Romantic Dinner with The Rising Star Rahardian Permana in 5 Star Luxurious Hotel at Bvlgari Bali." "Sial... ini pasti sebuah kesalahan! Hal ini nggak mungkin terjadi padaku! Masa seorang pria bisa...