"I'm sorry, i chose to left you"

24 5 0
                                    

Kemarin malam, aku lihat suasana memang agak mendung. Suara gemuruh yang saling menyahut, tak membuatku takut. Hanya saja, selain menjadi malam yang mendung, malam itu menjadi malam yang menyedihkan pula untukku.

Sejak beberapa bulan yang lalu, sejak kita tak lagi saling tegur sapa, kamu memang lebih dominan di otakku dibanding semua hal. Aku sibuk mencari sebab, sedangkan kamu semakin menjauh tanpa arah.

Aku tau, kamu bukan melakukan itu tanpa alasan. Akulah alasanmu, mengapa kamu bergerak mundur tanpa memberi penjelasan.

Aku butuh sedikit penuturan darimu. Sedikit kata penenang, kalau kamu hanya ingin waktu, dan akan kembali. Aku menanti-nanti saat itu datang. Menanti kamu mengingatkanku untuk menjaga diri, seolah nantinya kamu akan kembali pulang.

Aku selalu menanti, sembari melihat gaya jalanmu yang khas dari kejauhan. Tak sadar aku melengkungkan senyuman getir. Rasa getir itu kemudian berubah menjadi sedikit mencubit kala aku mengingat, aku sendiri yang seolah menanti. Padahal, kamu memang benar pergi, dan mungkin saja takkan kembali.

Setelah kamu melangkahkan kakimu, aku jadi sulit berkata-kata... rasanya, aku hanya ingin menikmati lukaku dalam diam. Aku juga sibuk menunggu, akankah kamu kembali menghubungiku dan memberiku sebuah kalimat terbaikmu?

Sudah tak perlu diragukan, perihal air mataku yang terus-terusan mendesak ingin bebas. Namun, aku tahan hingga mataku perih dan memerah. Untuk apalagi aku menangis? Kamu juga takkan peduli.

Setelah berbagai uraianku diatas, pernyataan itu masih sama. Malam kemarin, tetap membekas di benakku, karena benar, malam itu sangat menyedihkan.

Disaat kamu menjadikan orang lain sebagai perantara maafmu. Mataku kian memanas saat membaca kata demi kata. Rasanya, bukan hanya aku yang hancur, ternyata kamu pun sudah gila-gilaan mencari cara bertahan.

Kamu mengikrarkan maaf. Kamu juga bilang, kalau kamu menjauhiku, bukan karena benci, tetapi karena rasa sayangmu yang besar.

Walaupun kalimat itu menjadi bagian tersedih, tetap saja, aku menyimpan bermacam kebingungan yang menyelinap.

Bukankah kalau kamu sayang, kamu akan terus berjuang?

Hei, harusnya, kamu baca ini.

Aku tak pernah butuh maafmu yang kamu titipkan melalui kurir. Aku hanya ingin kau punya nyali untuk berbicara perihal kamu yang menghilang. Aku hanya ingin kamu yang menuturkan, sehingga aku tak lagi merasakan sesak.

Sayangnya, kamu memang tak cukup berani. Kamu juga lemah dan juga pesimis. Padahal, aku ingin kamu tau lukaku. Sesalku.

Maafmu, bukanlah menjadi bagian yang kudambakan. Tapi, malam itu, maafmu yang membuatku kembali nyaris jatuh.

Walaupun beragam kekuranganmu...

Kau sudah putuskan untuk menyayangiku dengan jalur yang berbeda.

Terima kasih sudah mau mengucapkan maaf walau menggunakan perantaramu. Aku harap, lain kali, kamu mengerti, aku ingin kau menyatakannya tanpa orang lain ketahui dan hanya kita.

Terima kasih, kamu tak mau membuatku menangis dengan menyakitiku.

Tetapi, harusnya kamu sadar. Tentang segala maaf, tindakan, dan kata-kata kamu, sudah berhasil membuatku menangis malam itu.

Dan itu, benar-benar sangat mencekam hatiku.

Tak apa, kamu menyayangiku dengan berbeda. Ya, aku harus tak apa.

Sekali lagi, terima kasih.

Dan maaf, ternyata memang aku yang membuat kita berpisah.

Tentang MerelakanmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang