Diam-diam aku masih sering memperhatikanmu lewat lirikan sekejap. Aku takut kamu tahu aku sedang sibuk melihat dirimu dari kejauhan. Walaupun kamu faktanya tak pernah sadar, aku sedang memandangi punggungmu yang bergerak menjauh.
Hari-hariku berubah total setelah kita sama-sama sadar untuk melangkah pergi. Kamu tak lagi menyapaku. Kamu tak lagi menebar senyuman manis untukku. Kamu tak lagi mau melihatku, walau hanya untuk sekedar melirik. Kamu tak mau lagi bertatapan denganku, walau terpaksa berselisihan. Kamu bahkan sering kali membalikkan badan ketika kita akan berpapasan.
Kamu tak lagi butuh aku.
Perpisahan yang seharusnya ku coba untuk melupakan, justru sangat terasa menyakitkan disaat kamu bersikap dingin padaku. Mata kita tak lagi mau untuk saling pandang. Kaki kita tak lagi mau melangkah mendekat. Mulut kita tak lagi berkuasa untuk sekedar menyapa.
Bayangan gelap tentang kebersamaan kita justru menjelma menjadi sebuah metafora dalam benakku. Kamu tak kunjung hilang dari ingatanku. Malahan kamu terus-terusan menyelinap dipikiranku. Pasti ada, walaupun aku sedang memikirkan hal lain, pasti ingatan tentangmu terasa nyata berada di sela-sela kecil.
Setelah perpisahan itu, kamu berubah menjadi membingungkan. Aku sering menangis karena kesal denganmu. Aku sering memaki karena kamu membuatku merasa lemah dan lelah setiap harinya. Lagian, kalaupun aku menyesali semua kesalahanku, takkan pula membuatmu menjadi seperti sedia kala. Kalaupun aku menyesali semua kesalahanku, takkan juga membuatmu sadar kalau kau justru lebih banyak menorehkan luka.
Aku tau, semua yang kamu lakukan padaku sekarang adalah bentuk kekecewaanmu atas segala ketidakjelasanku.
Tapi, ini justru lebih berlipat ganda menyakitkan. Karena kamu tak sadar, aku juga memikul beban berat, dan kamu tak pernah mengerti itu.
Untuk kamu,
Aku sudah lama mengikhlaskan. Jikalau kamu ingin pergi, aku juga sudah tau itu akan menjadi keputusanmu sejak lama. Jadi, pergilah... kalau itu membuatmu bahagia.Tapi, jangan sakiti aku lebih dalam lagi hanya karena kau menyimpan dendam. Sungguh, aku kesal denganmu yang membuatku harus menahan emosi di hari-hariku. Mungkin kau juga menyimpan banyak rasa ingin tahu sejak kau menanti jawaban dariku.
Dengar,
Aku hanya bingung bagaimana menyuarakannya. Dan apabila ku tulis perasaanku disini, kamu juga takkan tau. Tapi semoga ketidakjelasanku, terjawab dari coretan yang terlambat ini.
Aku juga sayang padamu.
Dan sikapmu, sudah cukup membuat aku mengepalkan tangan. Kamu menyebalkan. Kamu bersikap begini hanya membuatku gagal melupakan. Kamu bersikap begini hanya membuatku tak berhasil melupakan momen dimana kita bersama dan saling menggenggam.
Kamu sekarang hanya membuatku menangis. Maaf, perpisahan ini takkan kuduga akan seperih ini. Semua luka dan duka serta pikiran pikiran yang berkelebat seakan menjadi benang kusut untukku.
Setelah kita berpisah, yang berubah dariku; aku menjadi melulu memikirkanmu setiap saat. Dan kamu; menjelma menjadi orang asing yang tak kusukai.
