Semilir angin malam menemani seorang pemuda dengan tubuh terbalut baju putih kebesaran dipadukan celana jeans hitam dengan robekan di bagian lutut kirinya. Pemuda itu memandang ribuan benda pijar yang terbentang luas di langit malam lewat jendela kamarnya.
Kepulan asap keluar dari celah bibir tebalnya. Pemuda itu kembali menyesap rokok yang masih tersisa diantara jari telunjuk dan tengahnya kala asap itu telah habis dari mulutnya.
Sesekali obsidian pemuda itu melirik satu bingkai foto yang terpajang di nakas samping tempat tidurnya. Pemuda itu terkekeh miris saat mengingat betapa buruknya ia di masa lalu.
Pembunuh bayaran.
Dengan hati yang ringan ia mengakhiri hidup banyak orang dengan sekejap mata. Orang-orang yang seharusnya masih memiliki hak untuk melanjutkan hidup mereka seketika lenyap di tangan pemuda itu.
Bahkan orang-orang terkasihnya harus meregang nyawa di tangannya sendiri. Mungkin kata 'kepar*t' atau 'ba*i*gan' sudah menjadi gelar tersendiri yang di lekatkan pada dirinya. Karna memang ia sadar, ia bahkan lebih rendah dari kata-kata itu.
Kini pemuda itu menyesal sepenuhnya. Jika dulu ia tak melakukan pekerjaan keji seperti itu mungkin kini hidupnya tak seberantakan ini. Jika dulu ia tak melakukan perbuatan berdosa seperti itu mungkin keluarganya masih ada bersama dengannya saat ini. Dulu..
Masa paling kelam bagi pemuda itu. Masa dimana ia menjadi satu titik noda kegelapan diantara banyaknya cahaya yang mengelilinginya. Gelap. Kotor.
Semuanya sudah terjadi. Entah itu gelap atau terang, sekarang terasa sama saja. Tak ada yang bisa ia bedakan. Penyesalan selalu menghantui kapan pun dan dimana pun ia berada.
"Maafkan aku.."
🎑
Jungkook dan Taehyung baru saja selasai mandi. Mereka sedang berganti pakaian, tak sengaja mata bulat Jungkook menemukan sesuatu yang menurutnya aneh di dada kiri Taehyung.
"Hyung! Itu.. Apa?" tanya nya seraya menunjuk sesuatu yang aneh tadi.
Taehyung melihat sekilas sesuatu yang Jungkook tunjuk. Taehyung tersenyum lalu meraba bagian yang sedikit timbul itu dengan jari telunjuknya, mengikuti garis memanjang dengan lekukan-lekukan halus yang menghiasi dada kirinya.
Taehyung tersenyum lagi namun kali ini agak sendu, membawa tangan Jungkook pada dadanya. Jungkook sedikit tersentak, namun tak lama Taehyung memulai cerita betapa istimewanya dirinya dulu.
"Kau merasakannya?" tanya Taehyung saat telapak tangan Jungkook tepat menyentuh dadanya. "Apa kau merasakan detaknya?" ulangnya lagi. Jungkook hanya mengangguk pelan.
"Dulu, hyung selalu dijaga dengan sangat baik layaknya sebuah kristal. Tapi lama kelamaan hyung merasa seperti kristal yang jika disentuh saja akan hancur menjadi kepingan-kepingan tak berguna."
"Mengapa begitu?" sela Jungkook yang sudah selesai berganti pakaian. Taehyung melanjutkan ceritanya seraya mengancingkan piyama miliknya. "Hm, karena sesuatu di dalam sana selalu menyakiti hyung. Saat itu, saat dia sudah benar-benar rusak, dia tak pernah mengizinkan hyung untuk bebas barang sedetikpun. Setiap kali hyung bergerak bahkan satu inci pun, ia selalu memberontak...
...Bukankah dia sangat jahat? Bahkan dulu eomma mengatakan jika hyung lelah, hyung boleh tidur. Tapi hyung masih ingin selalu disamping eomma, appa, dan hyungdeul. Hyung berusaha untuk tidak mengantuk agar eomma tak meminta hyung untuk tidur lagi, tapi dia tak mau bekerja sama. Susah payah hyung mempertahankan detaknya, namun dia memberontak dan selalu seperti itu, hingga akhirnya... Dia berhenti berdetak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Untitle
Fanfictionsudah ku katakan, bukan? tak perlu judul untuk menceritakan semuanya... .start. 2018.05.01
