Semuanya terasa berakhir.
Terhitung dari sekarang.
Gadis itu masih terbaring diatas ranjang berisi kapuk disalah satu ruangan rumah sakit. Matanya tertutup rapat, namun nafasnya masih teratur. Seorang pemuda duduk didepan ruangan, dengan wajah frustasi sambil menggepal tanggannya, berdoa kepada Tuhan-nya supaya menyembuhkan gadis itu.
Ia bangkit, kemudian berdiri dipojokan, menatap gadis itu dari sebuah kaca transparan. Tubuh mereka berada diruang yang sama, namun tidak dengan jiwanya.
Dirasakan hatinya terpilih. Sesuatu telah menggerogoti hatinya sampai habis, rasanya sakit. Sangat sakit melihat orang yang kalian cintai, sekarang harus berbaring lemas ditempat tidur-yang entah nyawanya akan selamat atau tidak.
"Please. Stay. No matter how hard is it to be with me, please just stay. I need you," bisiknya dari luar jendela. Air mata menggenang dipelupuk matanya, mengintip tidak sabar untuk keluar, menginginkan semua orang tahu bahwa dirinya sedang berduka. Kemudian, ia kembali terduduk lemas. Sesekali mengacak rambut coklat keemasannya itu dengan kalut.
***
Agust.
The anniversary school.
Orang-orang kembali berseru, terlalu bersemangat menyambut anniversary sekolahnya itu. Justin juga sama, dia sudah siap dengan kamera SLR yang tergantung dengan kuat dilehernya. Sesekali ia menjepret objek-objek yang terlihat menarik. Seperti, air mancur coklat berlapis keju contohnya. Lalu ia menggeser kameranya lagi, mendapatkan kepala sekolahnya yang sedang memeluk kerabat kerjanya (re: guru-guru disekolah itu dan stuff) sambil tersenyum mengucapkan sesuatu yang jujur saja tidak mampu didengar oleh Justin. Ia menjepret sekali, kemudian memindahkan fokus lensanya kearah dihadapannya. Disana ada bayangan seorang perempuan berpostur badan tinggi, berkulit putih yang akrab dipanggil Abby Lyder. Seorang yang termasuk dikatagorikan cewek populer juga cewek yang atletis. Malam ini bertema night party yang menggunakan dress dan segala macam. Namun gadis itu tidak mengikuti yang lainnya, ia hanya menggunakan tanktop hitam yang tak terlalu ketat ditimpal dengan jaket kulit selengan dan celana pendek berwarna hitam. Ia tersenyum ramah kepada teman-temannya. Kemudian, dengan sigap tangan Justin langsung mengabadikan pemandangan itu. Cewek itu terlihat sangat natural, senyum tipisnya terukir disana, matanya masih melihat balon-balon yang sengaja diterbangkan diudara, menandakan pesta baru saja diresmikan dimulai.
***
Saturday.
Augusts.
"Apa arti teman untuk kamu?" Tanya seseorang yang suaranya khas betul itu. Gadis itu menoleh kebelakang, mendapatkan bayangan seorang laki-laki usil yang biasanya menganggunya,
"Menurut ku? Teman adalah mereka yang selalu disampingmu, susah denganmu, sedih denganmu." Katanya kemudian gadis itu tersenyum kecil, "Mereka yang selalu menawarkan bahunya saat kita menangis, dan menangis bersama kita."
"Lalu apa arti persahabatan untukmu?" Tanyanya bingung lalu gadis itu terdiam kemudian tidak memilih menjawab sama sekali. setelah ditelan hening beberapa saat, gadis itu akhirnya memutuskan membuka suara,
"Arti persahabatan terlalu luas. Aku bahkan tidak bisa melampirkannya satu-persatu. Namun aku tahu, sahabat adalah mereka yang tidak pernah meninggalkanmu, bahkan saat kamu mulai melupakannya." Jawabnya mantap, ia kemudian memalingkan wajahnya, menatap hamparan rumput-rumput berwarna hijau dihadapannya.
"Kamu cocok masuk sastra." Gadis disampingnya hanya melirik sesaat kemudian ekpresinya berubah menjadi bingung, namun ia tidak mengeluarkan suara lebih lanjut. "Kamu jago berfilosofi, kata-kata kamu terlalu cantik. Kamu cocok masuk sastra," gadis itu tersenyum lebar kemudian memeluk pemuda disampingnya dengan cepat, namun terasa hangat sekali. Keduanya berpelukkan, dirasakan tangana itu menggusap-usap kelapa si gadis,
