Beberapa minggu telah berlalu. Di sebuah hari, hujan turun sejak malam dan tidak berhenti sejak semalam. Jessie memutuskan untuk berangkat naik taksi karena tidak ingin mengambil resiko untuk kuyup saat menunggu dan jalan menuju sekolah. Sekalipun ia memakai payung, hujan angin seperti ini juga dapat membuatnya kebasahan. Di sekolahpun tidak sedikit murid yang kebasahan, tak terkecuali Luna dan Miko.
Hari itu, pelajaran berjalan seperti biasa. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini banyak murid yang memutuskan untuk tidak langsung pulang dan lebih memilih untuk menunggu hujan reda di sekolah. Walau sahabat-sahabatnya sudah memperingati Jessie, tapi ia tetap memutuskan untuk pulang. Wilson ikut berjalan menuju gerbang di belakangnya. Luna, Miko, Adrian, dan Bobby semakin yakin kalau Wilson benar-benar memiliki perasaan lebih dari seorang teman kepada Jessie.
Jessie membuka payungnya dan berjalan menorobos derasnya hujan. Tidak jauh, ia berhenti dan menengok ke belakang, Wilson berjalan tepat di belakangnya, kemudian ia menaikan payungnya agar Wilson dapat ikut sedikit terlindung dari hujan. Saat berjalan ke tempat menunggu taksi, sebuah mobil dengan 'strip' berwarna biru mengkilap berhenti di dekat mereka.
Jessie tau mobil itu. Kaca mobil itu terbuka setengah, seseorang di dalamnya berkata "Ayo, kamu ngapain hujan-hujanan. Cepat naik!", setelah berpikir sejenak, Jessie membuka pintu depan lalu masuk, meninggalkan Wilson di tengah derasnya hujan dengan payungnya. Leo –si pengendara mobil- pun menyeringai.
Leo meraba-raba kursi belakang, ia mengambil selimut dan memberikannya kepada Jessie. "Ujung-ujungnya kamu masih milih kakak.", Jessie menerima selimut itu dan langsung menghangatkan diri dengan membungkus dirinya di dalam selimut.
Karena hujan, banyak orang yang memilih keluar rumah menggunakan mobil pribadi daripada motor atau kendaraan umum. Jalanan menjadi lebih padat. Leo berusaha untuk mencari topik pembicaraan, tapi semua perkataan yang dikatakan tidak ditanggapi oleh Jessie. Ia pun berkata "Jes.", Jessie tetap mengarahkan pandangannya ke luar jendela, lalu Leo memanggilnya sekali lagi.
Jessie akhirnya menoleh, Leo melanjutkan "Kakak tulus minta maaf sama kamu. Hari itu kakak emang lagi capek banget. Kakak mau ngajak balikan.", setelah mendengar perkataan Leo, Jessie justru membuang pandangannya kembali ke luar jendela. Leo mengerutkan bibirnya, kemudian ia memasang lagu-lagu yang sering mereka dengarkan berdua, bahkan salah satunya adalah lagu yang mereka berdua pernah ciptakan bersama.
Leo kembali membuka ingatan Jessie ketika mereka masih bersama, lama-kelamaan ingatan-ingatan itu menarik perhatian Jessie. Mereka berdua pun larut dalam nostalgia. Kali ini, percakapan yang panjang itu adalah percakapan dua arah, karena Jessie menanggapinya dengan baik.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Jessie, setelah pamit kepada Leo, Leo sempat menahan tangan Jessie dan menariknya, Jessie kembali terduduk, lalu Leo mencium pipi Jessie. Jessie terkejut dan terdiam, lalu Leo berkata "Nanti langsung ganti baju, biar gak sakit." sambil mengusap-usap kepala Jessie. Jessie tersipu malu dan langsung keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Perasaan yang dulu seperti kembali kepadanya, tapi, Jessie masih menutup hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Left Behind
Teen FictionDi dalamnya terkandung bagian Intro (2 part) dan Main Story, juga terkandung penjelasan singkat dari karakter yang ada (Muncul) di dalam cerita maupun hanya sebagai pelengkap (Tidak muncul dalam cerita).
