Tepat pukul 11 malam, listrik di satu komplek atau mungkin bahkan satu desa padam.
Sepertinya pihak PLN melakukan pemadaman bergilir.
Untung saja para bapak-bapak komplek telah membekali diri dengan senter masing-masing.
Bu Ratna menyuruhku untuk tidur bersama Leo dan Lea.
Sedangkan Bu Ratna tidur sekamar bersama anak pertama dan keduanya, Rachel dan Viona.
Ini kami lakukam untuk menghindari kejadian yang tak kami inginkan.
Para tetangga lain dihimbau untuk tidur bersama agar terhindar dari kejadian serupa.
Semua dalam keadaan waspada.
Entah kenapa, tepat pukul 03.00 pagi kami semua terbangun bersamaan.
Rasanya kami terlelap dengan cepat tadi.
Tak lama kemudian terdengar suara ramai-ramai dari luar rumah.
Kami pun ikut keluar rumah untuk memastikan apa yang terjadi.
"Ada apa Bik?" Tanyaku kepada Bi Yati yang sedari tadi sudah lebih dahulu berasa di luar pagar rumahnya.
"Itu Na. Kayaknya ditemukan mayat lagi" katanya dengan serius.
Karena saking penasarannya, aku bergegas ke arah selatan komplek yang sedang dikerumuni mobil polisi dan para warga.
"Korbannya siapa pak?" Tanyaku kepada Pak Adi, majikanku yang kebetulan sedang melihat juga.
"Yono... Dia baru pulang dari rumah temen katanya. Eh sekarang ditemukan sudah jadi mayat. Tadi ditemukan di tempat pembuangan..."jelasnya
"Loh.. Bukannya tadi bapak sama bapak-bapak yang lainnya ngeronda?" Tanyaku keheranan.
"Nah itu dia masalahnya... Gak tau kenapa kami semua malah tertidur lelap tanpa sadar." Katanya
Semua warga juga tidak ada yang mendengar keributan
Semuanya sedang terlelap dan terbuai mimpi.
Bagaimana ini bisa terjadi???
Pihak kepolisian juga sudah pernah mengintrogasi Pak Juna yang dicurigai oleh warga.
Tetapi, tidak ada bukti yang kuat.
Apa benar Pak Juna dalang dari semua kejadian ini??
Rasanya seperti ingin pindah lagi ke rumah lama. Tinggal disini benar-benar tidak aman.
Jalan ntuk menuju rumah sakit lumayan jauh, menempuh sekitar 2 jam.
Sedangkan untuk kantor polisi sekitar 1 jam.
Walaupun ini komplek perumahan mewah, tetapi lokasinya agak jauh dari kota besar.
Kami berharap agar pelakunya cepat tertangkap.
"Lebih baik kita pindah aja dari sini" kata Rachel si anak pertama.
"Nah ide bagus tuh, jugaan uang Papa banyak kan?" Sahut Viona.
Tidak ada tanggapan dari Pak Adi dan Bu Ratna. Mereka hanya bertatap pandang beberapa detik, lalu melanjutkan lamunan mereka.
Sekarang kami sama sekali tidak bisa melanjutkan tidur.
Perasaan was-was menghantui pikiran kami.
Takut kejadian tadi terulang lagi. Suasana benar-benar mencekam.
----------------------------------------
Tak terasa, mentari menyinari komplek AsriMekar. Suasana pagi tidak seperti biasanya. Kesedihan masih menyelimuti seisi komplek.
Bahkan tukang sayur tang biasanya ramai dipenuhi pembeli, sekarang sepi dan tak laku.
Apa para ibu-ibu lebih memilih puasa?
Rasa empati warga memang sangat erat.
Bagaimana dengan Pak Juna?
Dia tak pernah sekalipun bertegur sapa atau bahkan menampakkan batang hidungnya.
Atau mungkin aku juga sudah lupa dengan wajahnya. Saking jarangnya ia menampakkan diri.
Yang aku ingat Pak Juna memiliki wajah super seram, mirip dengan karakter pikopat di TV. Pokoknya kalo aku bertemu dia, aku tidak akan mau menegurnya.
--------------------************----------------------
KAMU SEDANG MEMBACA
The Neighbor (TAMAT)
Mistero / ThrillerKeluarga kami pindah di suatu komplek yang lumayan asri dan sangat nyaman. Namun... Selang 2 hari, kami memiliki tetangga baru yang sangat tertutup. Ada yang aneh dengan dirinya. Tidak hanya itu... Kasus mutilasi dan pembunuhan berantai mulai marak...
