Dia menggenggam tanganku mantap dan tersenyum, seolah dia bangga dengan apa yang ada di sampingnya sekarang. Senyum merekah di bibirnya.
Sebenarnya bocah ini paham tidak sih dengan posisi kami sekarang ini. Bukankah lebih baik tidak terlihat bersama, demi kebaikannya? Kuhela napas panjang, “kau sadar apa yang kau lakukan sekarang?” tanyaku heran menghadapi kelakuannya.
Ia mengangguk mantap. Belum sempat aku protes dia sudah menarik tanganku memasuki bus yang barusaja datang dan berhenti siap membawa kami ke tujuan kami masing-masing.
Bus penuh penumpang, karena ini memang bus terakhir yang beroperasi, kami tidak mendapat tempat duduk dan dengan terpaksa kami berdiri berdesakan dengan penumpang yang lain, aku juga tidak mendapat pegangan untuk tanganku sendiri, dengan otomatis aku harus bersiap untuk terdorong kemanapun nanti. Sedangkan pemuda di sampingku masih belum melepaskan tangannya dariku. Aku hanya membiarkannya sampai dia bosan dan lelah sendiri. Abaikan dia, anggap tanganku memegang tiang bus.
Bus berjalan, awalnya tak masalah, namun saat berbelok dan berhenti lampu merah, penumpang saling mendorong dan tak elak akupun juga jadi korban dan ikut terdorong hingga menabrak tubuh Edfan. Segera dia memutarkan tubuhnya dan membuatku berada dalam pelukkannya. Posisi ini membuatku sedikit canggung. Karena desakan dan dorongan membuatku menempel dengannya. Merasa keadaan sudah tak terkendali, Edfan memutuskan turun dari bus dan menarikku ikut serta.
Menembus kerumunan penumpang dengan masih menggandeng tanganku erat agar tak terlepas. Ketika turun dari bus, akhirnya aku bisa bernapas lega. Bukan hanya karena berada terlalu dekat dengan bocah itu, tapi posisi terdesak seperti tadi membuatku sesak napas.
Edfan ternyata juga merasakan hal yang sama, ia menghela napas dan menghirup udara banyak-banyak. Sebelum akhirnya ia menoleh padaku dan tersenyum.
“Masih jam 8, kita cari makan dulu ya, sebelum pulang” ucapnya, kemudian menarikku lagi ke suatu tempat tanpa menunggu persetujuan dariku.
Tak berapa lama, Edfan melangkahkan kakinya memasuki cafe. Cafe kecil yang cukup ramai dengan anak muda. Ia mengajakku duduk di salah satu meja kemudian mengangkat tangan memanggil pelayan. Akhirnya tangan kami terlepas juga.
Seorang pelayan wanita menghampiri kami, terlihat dia begitu mengagumi Edfan saat tersenyum padanya. Apa pesonanya sampai pelayan itu mengaguminya seperti itu? pikirku.
Edfan menyodoriku menu. Mataku mengerjap, baru saja melamunkan dirinya. “Ada apa?” tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepala. Tidak mungkin kukatakan kalau barusan aku memikirkan apa daya tarik dari dirinya yang mampu membuat pelayan di samping kami ini menatapnya dengan tatapan mendamba. “Kakak pesan apa?” tanyanya yang sepertinya sudah memutuskan untuk memesan apa yang akan dimakannya.
“Apa saja” jawabku tak peduli. Lagipula aku tidak ingin makan apapun dan aku dibawa ke sini saja karena terpaksa. Bocah ini yang memaksaku ke sini.
“Kalau begitu pesan ini dua” pelayan itu tersenyum penuh kekaguman hingga ia meninggalkan kami.
“Kenapa ke sini? Kau kan tau kalau lebih baik kita nggak kelihatan barengan seperti sekarang” jelasku setenang mungkin menghadapi bocah keras kepala ini.
“Kakak ini, kan kita masih pacaran. Lagipula ayah sudah setuju dengan keputusanku asal aku serius kuliah dan bekerja membantu di perusahaan” sahutnya mantap. “Lagipula aku juga nggak mau lepas tangan setelah melakukan pelanggaran offside” mataku berkedip berkali-kali mencerna ucapannya yang sedikit membuatku bingung.
“Aku tidak akan buru-buru mengajak kakak tunangan atau menikah, sebelum kakak sendiri yang menyetujuinya” imbuhnya lagi.
“Aku nggak pernah setuju soal kencan. Aku kan sudah bilang kalau lupakan soal malam itu dan anggap kejadian itu nggak pernah terjadi. Kita jalan di jalan kita masing-masing. Itu demi kebaikanmu dan perusahaan ayahmu” ucapku berharap ia menyerah dan melepaskanku.
“Lalu kakak? Kakak akan mendapat cap buruk, belum menikah sudah keguguran, itu mengerikan. Akan kuperbaiki status kakak mulai sekarang. Aku nggak suka denger kakak dijelek-jelekin orang lain” ucapnya tegas.
Entah kenapa aku tidak mampu membantah ucapannya kali ini. Ia terlihat serius dengan apa yang diucapkannya saat itu.
Setelah makan dia mengantarku pulang ke apartemenku, sempat kami berdebat sebelumnya dan berakhir aku yang mengalah.
“Akhirnya aku tau tempat tinggal kakak, lain kali aku akan mampir” ucapnya saat kami tiba di depan pintu apartemenku.
“Pulanglah, sudah malam. Hati-hati di jalan dan...” sebuah kecupan kudapatkan.
“Selamat malam kakak” ucapnya tersenyum kemudian melangkahkan kakinya pergi. Meninggalkan diriku yang terkejut karena ulahnya.
Bocah ini sungguh membuat jantungku meletup-letup tak menentu. Sistem syarafku membeku tanpa dikomando. Sampai aku tak mampu merespon tindakan yang barusan dia lakukan dan hanya berdiri seperti patung tak beranjak sedikitpun.
@@@@@@
Helllooooo...di up nih lanjutannya si Edfan gesrek... Nggak gesrek sih, romantis 😊😊
Thank you buat readers yang berkenan mampir kecerita absurd ini... Koment juga yuk biar rame... Iya... Janji, dibales komennya kog... 🙏🙏🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
Off Side
RomanceBagaimana rasanya bila tiba-tiba dirimu bangun tidur di tempat asing bersama orang yang sungguh ingin kamu hindari. Kamu pasti akan berteriak, memaki, menendang, melempar bahkan jika didekatmu ada benda tajam, kamu pasti akan membunuh orang itu seke...
