Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

13. Tak terduga

2.6K 294 20
                                        

Felix & Nancy
"FWB"

Belajar menghargai karya orang lain ya.
Targetnya minimal 10 vote.

Pulang sekolah gue langsung ke apartment Felix tanpa ganti baju, karena baju gue juga ada yang di apartment Felix jadi tinggal ganti aja pas di sana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pulang sekolah gue langsung ke apartment Felix tanpa ganti baju, karena baju gue juga ada yang di apartment Felix jadi tinggal ganti aja pas di sana. Pikiran gue sedikit gak tenang, Felix demamnya separah apa sampai hubungin gue aja gak bisa?

Sampai di apartment Felix gue langsung masukin passcodenya, karena gue hapal jadi ya gpp aja. Pertama gue masuk, gelap banget dan lumayan berantakan. Padahal baru 3 hari yang lalu gue beresin, ini udah kayak kandang ayam.

"Felix..." gak ada jawaban, setelah gue buka gorden biar ada cahaya masuk, gue langsung ke kamar Felix.

"Felix?" masih gak ada jawaban, gue lihat Felix masih meringkuk di bawah selimutnya.

Karena gak ada sahutan Felix, gue langsung menuju ke pintu kaca balkon. Gue buka gordennya, terus gue buka pintunya. Gak lupa gue matiin ac yang suhunya diatas rata-rata ini, dingin banget.

Gue dengar suara decakan dan erangan Felix, tapi sumpah ini suaranya dia lemah banget. Gak kayak biasanya yang ngebass.

Gue nyibak selimut Felix, "Felix?". Panggil gue terus nempelin punggung tangan gue ke jidatnya Felix. Dan beneran panas banget.

"Felix, kita ke dokter aja ya?"

"Gak usah," jawab Felix masih meremin matanya.

"Tapi ini kamu panas banget badannya."

"Gak mau, ambilin obat di kotak obat aja."

"Hm... yaudah tunggu dulu, kamu udah makan belum?" dan Felix cuma gelengin kepalanya.

"Tunggu dulu, aku masakin sesuatu terus kamu minum obat."

Gak pake lama gue langsung menuju ke dapur apartment Felix. Sedikit khawatir karena takut gak ada bahan makanan di kulkasnya. Tapi pas gue buka kulkasnya, ternyata banyak bahan makanan.

Dengam cekatan gue buat sesuatu yang bisa dimakan sama Felix. Gue yakin, dari pagi pasti dia belum makan apa pun. Gue melirik ke atah jam tangan gue, ini udah jam 5 sore ternyata.

Sambil nunggu masakan gue matang, gue beresin apartment Felix. Mulai dari naruhin baju kotor ke keranjang cucian, ngambilin bungkus makanan ringan sama bungkus mie instant dan terakhir adalah sapu bersih apartment si brengsek itu.

Kalau Felix sakit ya gini, gue jadi pembantu dadakan dia. Gak cuma saat dia sakit sih, seminggu sekali gue yang bersihin apartment Felix. Bucin parah kayaknya gue.

Setelah beres, gue langsung nengokin masakan gue yang ternyata udah matang. Nasi tim ayan, simple tapi enak. Gak lupa gue cari obat demam di kotak obat dekat dapur. Terus gue langsung ke kamar Felix lagi.

"Bisa bangun enggak?" tanya gue sambil letakin nampan di meja nakas.

"Hm," jawab Felix terus dia bangun, dan gue bantuin dia buat senderan di kepala ranjangnya.

"Sekarang makan dulu, abis itu minum obat terus kamu istirahat lagi."

Dengan sabar gue nyuapin Felix, kasihan juga kalau dia sakit. Mana jauh dari mama papanya, iya sih mama papanya sibuk kerja di australi. Karena jarak rumah Felix jauh dari sekolah makanya dia beli apartment di sini. Gak jauh beda nasibnya sama gue, tapi mama papa gue gak sesibuk mama papanya Felix.

Beres makan terus minum obat, gue nyuruh Felix buat istirahat. Pas gue mau berdiri dia tiba-tiba narik tangan gue.

"Kenapa?"

"Cium dong."

"Apaan sih!, udah ah mau ke dapur dulu."

"Ck!"

Karena mungkin greget sama sikap gue, Felix langsung aja nyosor. Dia ngecup bibir gue, gak lama tapi sukses buat gue diam gak berkutik.

"Ekhem!"

Gue sama Felix langsung nengok ke arah pintu, dan di sana ada Rachel. Gue langsung syok banget, apa Rachel lihat gue dicium Felix tadi? Mampus kalau iya.

"E-eh Rachel, sini masuk aja," kata gue sok ramah, dan gak harus gue suruh juga Rachel emang mau masuk ke kamar Felix.

"Y-yaudah gue ke dapur dulu ya, lo temenin Felix, Chel." Rachel gak jawab segala ocehan gue, dan tatapan matanya ke gue tetap sama. Tatapan dingin dan gak suka.

Di dapur, gue langsung cuci piring dan gelas bekas Felix. Pikiran gue kemana-mana, terutama tadi soal Felix cium gue, takutnya Rachel tahu. Gue menghela napas kasar berkali-kali, kenapa gue sebodoh ini sih.

Pas gue balik badan setelah cuci piring sama gelas, mata gue langsung ketemu sama mata Rachel. Jujur gue kayak maling, gugup dan kebingungan sendiri.

"Eh Rachel, apa kabar?" tanya gue sambil menaruh piring dan gelas tadi ke lemari.

"Baik."

"Bagus deh, lo butuh sesuatu, Chel?"

"Gak usah sok jadi tuan rumah di sini." Gue langsung terdiam, senyum gue luntur seketika.

"Maksud lo apa?"

"Jangan pura-pura bodoh, akting lo gak bagus!"

"Gue gak ngerti maksud lo, Chel."

"Jangan sok akrab sama gue, gue gak sudi akrab sama orang yang diam-diam ngerusak hubungan gue!"

"Chel, gak usah ngaco deh lo!"

"Cih, jangan kira gue gak tau apa yang lo sama Felix lakuin di belakang gue!"

"Chel..."

"Apa? Lo mau ngebela diri kalo lo sama Felix cuma sahabatan?! Iya?! Basi banget sih, ciuman, pelukan, tidur bareng itu sahabatan iya?! Jawab gue!"

Lidah gue kelu, gue cuma bisa natap Rachel dengan ekspresi paling menyedihkan gue saat ini.

"Gue muak lihat muka lo, pelacur!"

Makian terakhir Rachel sukses bikin air mata gue turun, hati gue sakit. Sakit banget, apa benar gue serendah itu?

Aku rencananya besok atau lusa mau buat story  tentang Bang Chan, ada yang mau baca enggak?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku rencananya besok atau lusa mau buat story  tentang Bang Chan, ada yang mau baca enggak?

[1] Friend with benefitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang