Rangga dan Dilan Series 2 #4

401 63 4
                                    

Hampir menangis Rangga saat Dilan bergegas pergi begitu saja. Bagaimana tidak, Dilan hanya mengucapkan maaf, memeluknya, dan meninggalkannya. Ia mencoba menghubunginya tapi tak diangkat.

Sesuatu yang buruk jelas terjadi, entah apa itu. Rangga mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Kali ini dia kembali ke tempat tidur dan berbaring sebentar. Dipejamkan matanya, dan membayangkan jika Dilan masih menindihnya. Dia menghela napas, terengah-engah, dan mengerang. Tangan kanannya asik bergerak di bawah. Terus, terus hingga tangannya berlendir dan lengket. Rangga merasa puas.

Lepas melampiaskan hasrat ia kembali beranjak ke kamar mandi, waktu menunjukkan pukul tiga pagi. Masa bodoh, Rangga tak perduli dengan dinginnya pagi dini hari. Tangannya berlendir begitu juga dengan kemeja yang ia pakai. Ia harus mandi. Ditanggalkannya kemeja, celananya, dan dalam hitungan detik ia tak berbusana.

Dinginnya air mengguyur dirinya. Sesekali dia memalingkan kepalanya untuk menghadap ke arah datangnya air. Tak akan ada yang tahu bahwa ia sedang menangis. Menangis tersedu-sedu sebab ia masih jatuh ke lubang yang sama. Ia masih menderita karena cinta.

Kemudian dia merasa tak kuat lagi untuk berdiri, dia jongkok. Melipat kedua kakinya untuk menopang dagunya. Membenamkan kepala. Dia benar-benar tersakiti. Seharusnya Dilan tak pergi meninggalkannya begitu saja. Seberapa pentingnya urusan Dilan, ia setidaknya harus cerita alasan ia pergi ataukah Rangga tidak sepenting itu?

Apakah Rangga hanya sebuah fasilitas yang bisa ia gunakan setiap kali ia butuh? Apakah Rangga sebuah wahana yang ia datangi hanya saat dia sedang muram?

Rangga terus menerus mempertanyakan eksistensi asmaranya dengan Dilan. Terlalu sakit untuk dipikirkan tapi harus dipikirkan.

Waktu berlalu cepat, sudah pukul delapan pagi. Rangga bersiap untuk menghadiri pertemuan dengan pemilik lahan yang akan ia beli. Baru saja hendak melangkahkan kakinya. Ia mendapat panggilan dari Dilan. "Cukup, sudah terlalu—," belum sempat ia meluapkan amarahnya, Dilan memotong. "Dania, Dania di rumah sakit."

Senyap menjeda pembicaraan mereka. "Lalu sekarang ia sudah tidak apa-apa?"

Rangga melontarkan pertanyaan bodoh, seolah ia peduli pada wanita yang sedang berbagi cincin yang sama dengan Dilan. Padahal tidak.

"Ia baik-baik saja, maaf aku pergi begitu saja. Aku hanya berpikir betapa aku akan sangat terpukul dan menyesal saat kehilangan dirinya," Dilan mengatakannya dengan jelas. Terlalu jelas dan sangat menyakitkan saat memasuki telinga Rangga. Ia hanya bisa menjawab, "sudah dulu ya, aku ada meeting." Rangga bodoh.

Ia terlalu bodoh, tentu saja ia hanyalah sekedar mainan bagi Dilan. Ia terlalu mencintai orang lain, dan orang lain itu bukan Rangga. Dia kemudian tersenyum, senyum yang akan sangat pedih untuk dilihat orang lain.

Sudah cukup, Rangga sudah membulatkan niatnya untuk tak akan pernah kembali kepada Dilan.

Tragic Author,
Rangga dan Dilan Bagian Rangga.

Rangga Dilan SeriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang