Jika mengulang kembali akan tiap butir memori mereka untuk menerka bagaimana sang asmara bekerja. Kadang ia hanya perlu menyatukan dua insan dalam jangka waktu satu bulan pendekatan dan mereka akan selamanya berikatan. Kadang ia harus bekerja ekstra dengan menyatukan dua insan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun dan jika berhasil mereka akan berikatan sampai maut memisahkan, jika tidak berarti pekerjaan masih belum selesai.
Kadang satu insan butuh dicoba dengan insan yang lain, mungkin lebih dari satu. Kadang hanya butuh satu lalu menyatu.
Itu yang masih menjadi bayang-bayang kebingungan Rangga. Asmara itu sebuah paradoks. Sebuah jalan dengan seribu, bahkan ratusan ribu cabang. Sebuah pohon dengan ranting-ranting tak pastinya. Asmara itu rumit, sakit; nyelekit.
Asmara itu sebuah ketidakpastian. Tapi berjuta manusia memanggilnya, membutuhkannya, mengabdikan hidup padanya. Termasuk dirinya, Rangga adalah budak sang asmara. Ia seakan butuh validasi dari sang asmara, apakah dia sudah bahagia?
Dengan pikiran yang sangat membebankan, Rangga perlahan melangkah memasuki tempat 'istimewa'. Dia berjalan sembari mengayunkan tangannya pelan. Tempat ini begitu berbeda di siang hari, terlihat lebih menenangkan jikalau kau datang di malam hari. Terlihat lebih peduli, lebih mengasihi.
Dengan lampu yang menerangi seadanya, tempat ini terlampau sederhana. Rangga suka. Rangga cinta. Mungkin ini yang dia inginkan dari seorang Dilan, sebuah kesederhanaan. Ia letih bergelut dengan jerat-ketat keadaan. Ia hanya ingin Dilan, di sampingnya, dengan tangan saling menggenggam.
Rangga duduk di bangku kayu yang berada di pinggir garis lapangan. Meski malam ini terlalu dingin, bangku kayu itu sama sekali tak menyerap dinginnya. Terasa hangat, seperti seseorang habis mendudukinya. Terasa nyaman.
Tak lama, dia membuka telepon genggamnya, guna melihat jam. Dan sekarang sudah bisa dibilang larut. Pukul sebelas malam. Ia masih menunggu. Tiba di sini juga saat jam sepuluh lewat beberapa menit. Belum terlalu lama, pikirnya.
Tak sampai satu menit lepas ia melihat jam, ada seorang yang ternyata sudah berdiri dari tadi di bawah lampu kuning jalanan. Dari perawakannya, mungkin itu Dilan. Tidak, bukan mungkin. Itu pasti Dilan.
Dengan canggung, ia berdiri, dan kemudian melambaikan tangan ke arahnya. Tak ada balasan. Sampai ada panggilan masuk, ia mengangkat, dan—
"Jangan melambai, terlihat norak." suara yang ia rindukan. Benar, ia masih bisa merasakan kehadiran Dilan. "Aku tadi duduk di situ sebelum kau datang, bagaimana hangat, kan?" Rangga tertawa, ia merasa bahagia. Sedikit bahagia. Lalu ia kembali diingatkan rasa sakit. Ia menangis. Ia bahagia tapi ia menangis.
"Kemari. Jalan kemari, Dilan. Aku mohon," Rangga menutup panggilannya. Sontak membuat Dilan bergegas berjalan ke arahnya. Semakin cepat tiap langkahnya. Sampai mereka berhadapan. Dengan jarak satu sama lain hanya sepanjang penggaris lima belas sentimeter. Dilan hendak menepuk pundak Rangga, mungkin mengelusnya. Tapi apadaya yang ia lakukan hanya tersenyum memelas di depan wajah Rangga yang jelas sedang menyedu tangisnya yang baru pecah.
"Bodoh, kau sangat bodoh," Rangga kembali bersuara.
"Iya, memang benar," Dilan memejamkan matanya, tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat menyakitkan.
Tragic Author,
Rangga dan Dilan, Pemberhentian Terakhir (Bagian 1).

KAMU SEDANG MEMBACA
Rangga Dilan Series
RomanceRangga, remaja yang mencinta puisi dengan segenap jiwa bertemu dengan Dilan, remaja pencinta penyair-penyair yang ada di semesta. Lantas kemanakah mereka akan berlabuh? Pulau asmara atau ujung tubir derita?