Setelah lama memikirkannya akhirnya Rangga punya jawaban. Tapi tak sengaja ia menangis, akhirnya segala masalah dan rasa sakit ini berakhir. Menangis tersedu di depan Dilan, tentu membuat Dilan bertanya-tanya.
Tapi Dilan berhenti kebingungan saat ia melihat senyum, di antara jeda isakan tangis Rangga. Saat itu juga dia tahu, tangis yang pecah ini adalah tangis bahagia.
"Tentu, tentu saja aku mau," Rangga memegang kedua tangan Dilan. "Aku mau semua itu, aku mau kamu. Tapi pertanyaan yang harusnya kau tanyakan adalah, apa aku sanggup."
Kemudian Rangga memegangi pipi Dilan.
"Apa aku sanggup melihatmu di tiap harinya tanpa berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi? Apa aku sanggup melihat kebencian yang akan datang silih berganti dari kerabatku—"
Sebelum Rangga menyelesaikan kalimatnya, Dilan mengunci bibir Rangga dengan bibirnya. Rangga tak menolak, ia menyambutnya dengan bibir terbuka. Lembab, lembut, dan lunak. Tiap kali Rangga membuka mulutnya untuk membiarkan lidah Dilan perlahan menyelusuri ruang mulutnya.
Lama mereka saling mengkait bibir, akhirnya keduanya saling menarik diri untuk mengambil napas. "Kau sanggup," Dilan kemudian menarik tangannya dan menciumnya. "Kau pasti sanggup, Rangga dan ketika kita sudah bersama, lihat aku. Aku akan berada di sampingmu saat titik terendahmu, membantumu bangkit, dan bersama kita lalui lautan kebencian. Kita sanggup," kali ini Dilan mengakhiri kalimatnya dengan menarik Rangga ke pelukannya. Melepaskan dingin dan menyambut kehangatan.
Mereka terus saling melekatkan diri, tanpa mereka sadari sudah hampir tiga jam tepat mereka berada di pembicaraan ini.
"Jadi, sekarang bagaimana?" Rangga menggenggam tangan laki-laki yang jika semesta merestui akan terbangun di sebelahnya esok hari.
"Kamu selalu bilang, kau ingin tinggal di Amerika?"
"Serius?"
"Ayo, kita mulai," Dilan kembali memeluk Rangga. Tapi pelukan kali ini benar-benar berbeda. Jikalau bisa dia tunjukkan suasana hatinya sekarang, akan lebih meriah daripada pesta kembang api empat Juli. Lebih banyak warna dari sebelumnya. Keinginannya untuk bahagia bersama orang yang dicintainya akan segera terwujud.
Ia jadi ingat pesan bunda padanya, untuk selalu mengejar kebahagiaannya terlebih dahulu. Tapi Dilan akan bahagia setelah Rangga bahagia, jadi bisa dibilang; kebahagiaan Dilan adalah Rangga.
Dan semoga sama pula yang Rangga rasakan akan kehadiran Dilan di hidupnya.
"Dilan, ingin melanjutkan apa yang kita tidak selesaikan di hotel kemarin?" Rangga menunduk, mukanya memerah dan suaranya pecah pelan.
Dilan tertawa, mengangkat dagu Rangga. Menciumnya, empat, tidak kurang lima. Lima kali.
"Mau tidak ya?"
Pagi hampir tiba, tapi itu tak akan menghalangi pasangan baru kita untuk bercinta.
Tragic Author,
Rangga dan Dilan Series, Pemberhentian Terakhir (Selesai)

KAMU SEDANG MEMBACA
Rangga Dilan Series
RomanceRangga, remaja yang mencinta puisi dengan segenap jiwa bertemu dengan Dilan, remaja pencinta penyair-penyair yang ada di semesta. Lantas kemanakah mereka akan berlabuh? Pulau asmara atau ujung tubir derita?