34. Titik Kebenaran

1K 179 49
                                        

"Sebuah kebenaran yang tak disangka-sangka. Fakta yang di luar dugaannya."
***


Kejadian seusai sidang lanjutan mereka. Saat pertemuan pertama Reyhan dengan Anna, hingga Reyhan mengetahui sebuah kebenaran yang tak disangka-sangka. Fakta yang di luar dugaannya.

Ketika itu ia sedang melangkah menuju tempat di mana seharusnya mobilnya terparkir. Pikirannya benar-benar tidak pada kondisi yang selayak biasanya ia amankan.

Langkahnya melambat saat atensinya perpusat pada seseorang itu. Sontak bola mata Reyhan membulat sempurna. Saat tiba-tiba sekelebat bayangan Anna melewati dirinya. Begitu saja.

An-Anna? Reyhan mempertajam penglihatannya, dan benar saja sangat jelas yang terlihat olehnya masihlah Anna. Kekasihnya yang telah diberitakan meninggal dunia.

Dia masih hidup? Bagaimana bisa Anna melewatiku begitu saja? Reyhan tak percaya atas kemunculannya. Juga sikap tak acuhnya terhadap dirinya.

Adrenalinnya berpacu cepat seiring dengan sesak yang bergolak dalam dada. Dia tidak terima. Seharusnya penjelasan panjang patut ia terima saat ini bukan? Reyhan merasa diabaikan. Dipermainkan.

Reyhan tergesa memangkas jarak di antara mereka. Anna terkejut saat merasa lengannya dicekal tiba-tiba. Reyhan memandang lurus Anna, tetapi tatapan asing yang justru diterimanya.

Tanpa membuang waktu lagi Reyhan segera saja menarik Anna dalam pelukkannya. Hal itu justru mendapat penolakan darinya. Disusul dengan ucapan pedas yang tak disangka-sangka oleh Reyhan.

"Hei kau sialan! Lancang sekali memelukku. Lepaskan!" Wanita itu memukul beberapa kali tubuh Reyhan, sebelum laki-laki itu melepaskan pelukannya. Tanpa merentang jarak mereka.

Dia menatap nyalang Reyhan "Kau gila? Siapa kau? Aku tidak mengenalmu. Kurang ajar sekali tiba-tiba memelukku!" Disentaknya tubuh Reyhan, kemudian bergegas cepat meninggalkan Reyhan yang meradang. Ia dikepung ketidakpercayaan dengan omong kosong Anna. Cara Anna melihat, bersikap dan meresponnya tentu sangat tak bisa diterimanya.

Anna? Bagaimana bisa dia...? Sialan! Lelucon macam apa ini?

Wanita itu menyapukan pandangan untuk menemukan seseorang yang dicarinya sejak tadi. Hal itu tak lepas dari perhatian Reyhan.

Begitu dirinya melihat Neira ia berteriak memanggilnya. "Neira!"

"Sialan!" Habis kesabaran, Reyhan melangkah lebar dan dengan gerakan cepat meraih pergelangan tangan Anna. Menariknya kasar menuju mobilnya. Reyhan tidak peduli dengan berbagai cara pemberontakan dan luapan amarah darinya.

Begitu kemunculannya di hadapan Reyhan, kenapa justru Neira yang sibuk dicarinya? Reyhan benar-benar tidak habis pikir.

*****

"Sialan! Siapa kau? Kau pasti orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa," ucapnya berapi-api penuh emosi. "Aku sama sekali tidak mengenalmu. Untuk apa kau menggangguku,hah?"

Dia duduk tidak tenang di samping Reyhan yang sedang mengemudikan mobilnya. Wanita itu kembali bersuara ketika Reyhan tidak menanggapinya "Hei, kau punya mulut atau tidak? Wah-wah mendadak kau jadi bisu?"

"Sialan! Diam! Hentikan sandiwara dan omong kosongmu, Anna!" Reyhan membentaknya. Tangannya memukul kemudi. Dia sudah sejak tadi menahan gejolak emosi.

"Kau terus saja berbicara seperti orang bodoh. Mengulang kalimat, 'Kau siapa? Aku sama sekali tidak mengenalmu? Kau...kau benar-benar melukaiku, Anna."

Bukan perlakuan seperti ini yang Reyhan harapkan darinya. Alih-alih sebuah pertemuan mengarukan dengan banyak penjelasan atas kehilangannya. Anna bahkan lupa atas dirinya?

BERDETAK (Berakhir dengan Takdir) {TAMAT}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang