22. Berserah Diri

1K 268 61
                                        

"Bersimpuh, berserah diri kepada Sang Pemilik Hati, tempat mengadu meminta teduh di sanubari yang tengah gaduh.

*****

Terdengar bunyi ketukan pada pintu yang menjadi batas pemicu antara dirinya dan pencipta kegundahan hatinya.

Neira yang sedang berkhidmat kepada-Nya dalam sujud terakhir sholatnya tentu tidak akan menghiraukannya.

Sepersekian menit kemudian terdengar rapalan salam dari bibirnya yang bergetar.

Ya, seiring air matanya yang kembali jatuh. Tangannya sesaat menangkup wajahnya yang basah lalu dihapusnya pelan jejak linangan itu.

Bersimpuh menengadahkan telapak tangan dalam kegelisahan yang tak terbantahkan. Nyatanya iya benar-benar tengah terluka di kedalaman hatinya.

Bibirnya lirih merapalkan suara risaunya...

"Ya Robb... Tangguhkan hatiku, damaikan ia dalam teduhnya rengkuhan kasih-Mu. Engkaulah yang Maha Tahu kerapuhan hatiku bahkan tanpa bibir ini sempat mengadu... Mengeluh, memohon kekuatan darimu."

Kembali pipinya berlinang, wujud sesak yang mengekang...

"Maafkan segala dosa dan khilafku yang tak terhitung, tidak sebanding dengan curahan kebaikan dari-Mu hingga hamba masih bertemu dengan bulan ramadhan penuh rahmat... Milik-Mu, Ya Allah...."

Diakhir kalimat tangis Neira pecah seketika, saat rentetan ingatan dosa yang pernah dilakukannya berkelebat menyapa ruang ingatnya.

Benar. Tiada manusia yang sempurna, pun dirinya. Kesempurnaan yang hakiki hanya milik-Nya.

Setelah beberapa saat berdialog dengan Sang Maha Cinta. Neira merasakan kelapangan dalam dadanya yang tadi sempat mendesak sesak.

Tok tok tok!!!

Neira tersentak. Bunyi ketukan yang masih bertahan itu bahkan kini terdengar semakin keras saja. Ternyata seseorang itu sejak tadi tidak beranjak pergi dari sana.

Siapa? Neira membantin sembari mengernyit curiga memalingkan kepala, menelisik pemilik di balik pintu yang menimbulkan sumber kegaduhan.

Gadis itu menanggalkan mukenanya, lalu melipatnya beserta sajadah. Beranjak mengambil langkah mendekat. Jemarinya membuka pintu yang dikuncinya beberapa waktu lalu.

Seiring pintu itu terbuka seketika menampilkan seseorang yang sangat Neira kenal dan membuat Neira mengernyit bingung.
Ternyata...

Belum sempat ia melontarkan tanya, sejurus kemudian telinganya mendengarkan ia berbicara panjang lebar.

"Non... Apakah Nona baik-baik saja?
Maaf sebelumnya telah lancang mengetuk-ngetuk dengan keras pintu kamar, Nona."

"Saya sangat khawatir mendengar Nona menangis. Saat saya hendak mengantar makanan ini, Non," tambahnya sembari menunjuk makanan dengan ekor matanya tertuju kepada nampan di kedua tangannya, yang sesaat lalu ia letakkan di lantai saat mengetuk-ngetuk pintu itu.

Wanita paruh baya itu tampak cemas dari ekpresi wajahnya. Ia berkata tulus terlihat dari pancaran bola matanya yang sendu dan Neira dapat merasakan kebenaran tentang hal itu.

BERDETAK (Berakhir dengan Takdir) {TAMAT}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang