"Hati dalam jiwanya yang tengah sakit bukan raga
Yang dapat disembuhkan dengan cara kasat mata.
Apalah arti cinta jika harus merasakan sakit yang menyiksa ketegaran jiwa.
Cukup sudah ia merasakan remuk redam, sebab luka telak menghantam.
luka dan fakta yang tak lagi bisa dipandang sebelah mata."
*****
Sudah hampir setengah jam Neira bungkam perihal situasi runyam yang tengah membelit rumah tangganya.
Meski sejak tadi baik Ayah Daniel dan Bunda Nana terus membujuknya untuk angkat bicara.
Gadis itu duduk di ruang keluarga bersama kedua orangtua serta adiknya. Pandangannya menatap kosong dengan air mata yang terurai mengalir di pipi. Sesekali tangannya terulur untuk menyeka basahnya.
"Dengan kau diam saja seperti ini sejak tadi, justru semakin membuat Ayah khawatir, Nak..."
"Ayolah bicara... Bagaimana suami brengsekmu itu telah menyakitimu? Benar bukan, dia orangnya?!" cecar Ayah Daniel dengan tidak sabar mendesak Neira untuk bersuara.
"Ayah, tenanglah... Sebaiknya jangan kita bicarakan masalah ini sekarang. Biarkan Neira beristirahat dulu. Kita bisa membicarakannya lagi saat Neira sudah lebih tenang dan bisa menguasai diri." Bunda Nana yang sejak tadi duduk di samping Neira sembari membelai bahu Neira, akhirnya angkat bicara ketika Ayah Daniel mulai emosional.
Sejujurnya wanita paruh baya itu juga sangat gelisah mengingat bagaimana ketika ia menyambut kedatangan anak gadisnya dalam pelukannya dengan berurai air mata. Tentu semua orangtua akan turut merasa bersedih dan khawatir yang berlebih.
"Iya, Ayah...Sekarang sudah hampir pukul dua dini hari, beberapa saat lagi akan tiba waktu subuh. Lebih baik biarkan Kak Neira untuk menenangkan diri, dan beristirahat. Besok pagi juga kita harus mempersiapkan keperluan untuk sholat idulfitri bukan?" ujar Arkan mencoba membujuk sang ayah yang sedang tersulut emosi.
"Baiklah... Ayah hampir lupa waktu." Ayah Daniel mengusap wajahnya yang menatap khawatir Neira. "Dan kau... Neira, Ayah tunggu saat kau siap untuk menjelaskan semuanya, Nak. Beristirahatlah...." tambahnya sesaat sebelum berlalu lebih dahulu meninggalkan mereka.
"Pasti kau sulit tidurkan, Sayang? Ayo Bunda temani kau tidur sebentar sebelum subuh tiba." Bunda Nana berdiri lebih dahulu dan membelai sisi wajah Neira yang dijawabi anggukan kepala olehnya.
"Arkan, pergilah ke kamarmu, Nak. Beristirahatlah." tambah sang bunda sebelum berlalu darinya dengan memeluk bahu Neira mengiringi langkahnya.
"Baik, Bunda." jawabnya lalu berlalu dengan kedua tangannya mengepal erat di masing-masing sisi tubuhnya. Rahangnya mengeras menahan emosi yang ditahannya sejak tadi di kediaman Reyhan.
Kedua iris matanya berkilat, amarahnya kali ini berkali lipat. Darahnya seakan bergolak merambah rongga dadanya yang bergejolak. Ia ingin segera menuntaskan semuanya.
"Argh! Brengsek kau Rey!!!"
*****
Malam telah menjemput pagi, tersebaran rintik-rintik embun yang menyejukkan seolah membelai pipi. Neira berdiri di depan jendela kamar yang telah terbuka beserta tirainya.
Ia mematung sejenak sembari memejamkan kelopak mata, menghirup dalam udara-udara di luar sana yang tak henti-hentinya menyusup lega ke rongga dada.
Neira masih menutup mata sembari hatinya bersuara merangkai kata.
Napas terasa bebas lepas meraup oksigen yang tak terbatas.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERDETAK (Berakhir dengan Takdir) {TAMAT}
General Fiction♡[BERCERITA SEPENUH RASA]♡ 🌟Genre Cerita: General Fiction🌟 Follow dulu ya sebelum membaca Neira, seorang gadis terpaksa berumah tangga dengan seorang laki-laki yang tidak dicintainya. Reyhan. Lebih tepatnya laki-laki tampan, tetapi menyebalkan dan...
