"Sebuah langkah yang oleh satu pihak diharapkan menjadi titik usai yang benar-benar selesai. Tak lagi ingin ada janji suci yang menaungi kedua hati untuk saling membersamai,"
*****
Benar saja. Aksa datang siang itu membawa barang yang dimintanya. Namun, kehadirannya justru membuat Reyhan beberapa kali memutar bola mata, hanya karena mendengar serentetan ucapannya.
"Reyhan yang malang. Sekarang kau bahkan, tak memiliki seorang pun dari keluargamu yang berada di sisimu. Ah, kau bahkan diusir," cerocos Aksa tanpa merasa segan, sedangkan tangannya masih merawat luka di tubuh Reyhan yang memilih bersandar pada ranjang.
Begitu Aksa datang Reyhan langsung menyuruhnya layaknya pelayan. Hal itu sukses membuat Aksa berceloteh sepanjang waktu merawatnya. Meski mendapat tatapan tajam dari Reyhan tak urung membuatnya berhenti.
Reyhan berpikir apakah yang di hadapannya ini seorang dokter atau seorang penagih hutang?
"Kau ini seorang dokter atau beralih profesi menjadi penagih hutang? Banyak bicara, cepat selesaikan. Kau menyebalkan."
"Kau yang dokter pemalas, bahkan untuk merawat diri sendiri saja kau enggan," jawabnya lalu dengan gemas menekan luka memar itu yang seketika mendapat jitakan dari Reyhan. Aksa meringis kesakitan.
"Sudah tahu rasanya sakit? Aku bukan pemalas. Hanya saja tidak ingin berkaca...dan meneliti lukisan indah dari Ayahku. Itu merepotkan. Dengar, aku bahkan masih mampu menghajarmu," tandasnya penuh sarkastis.
"Reyhan yang malang. Reyhan yang sombong," ujarnya diakhiri gelak tawa.
Tawa Aksa terdengar menyebalkan di telinga Reyhan yang semakin membuatnya geram.
"Hentikan! Ternyata kau semakin menjengkelkan." Ia menepis kasar tangan Aksa dari pelipisnya. Memar-memar dibeberapa bagian tubuhnya itu semakin jelas membekas daripada yang semalam.
"Rey, jika kau bisa kembali bersama dengan Neira, kau tidak harus mengalami kemalangan ini. Jadi sebaiknya kau menemuinya. Ayahmu akan menerimamu, dan kau aman dengan profesimu,"
Perkataan Aksa tidak mendapat reaksi darinya yang sedang sibuk mengenakan kembali bajunya. Lebam yang membiru juga tampak jelas ditubuhnya.
"Wah, benarkah?" tanya Reyhan terdengar sekadar berbasi-basi.
"Cobalah, meski sepertinya akan sulit."
"Kau tahu, tetapi masih saja menyarankanku dengan hal itu. Sudahlah aku lapar. Pesankan aku makanan,"
"Terus saja menyuruhku!" dengus Aksa, tetapi masih saja terlihat membuka ponselnya.
"Kau telah berhasil untuk terlihat seperti sahabat yang baik," Kali ini Reyhan yang tersenyum mengejek, sembari menepuk bahunya.
*****
Malam sunyi mulai melarutkan bunyi menuju kelengangan sendiri. Hanya samar nada-nada alam sekitar terdengar oleh pemilik kedua kelopak mata penuh ketegasan seorang lelaki, yang detik itu tak jua dapat terlelap dengan tenang.
Ada yang tidak beres dirasakannya, tetapi sejauh pikirannya mengembara tak juga dapat ditemukan jawabannya. Entahlah, nyatanya ia tak mampu mengetahui perihal itu dengan pasti. Seakan mengambang pada pijakan yang tertumpu di kedua kakinya sendiri.
Pandangan Reyhan teralihkan saat menatap obat yang disiapkan Aksa di atas meja. Ia berdiri lalu meraih air dan menenggak obatnya hampir bersamaan.
Ia tertawa hampa, mengingat ada benarnya yang dikatakan Aksa bahwa sekarang ia menjadi orang malang yang terbuang dari keluarganya sendiri.
Reyhan mengingat saran Aksa. Namun, kecamuk pikiran yang sejak tadi jauh lebih mengganggunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BERDETAK (Berakhir dengan Takdir) {TAMAT}
General Fiction♡[BERCERITA SEPENUH RASA]♡ 🌟Genre Cerita: General Fiction🌟 Follow dulu ya sebelum membaca Neira, seorang gadis terpaksa berumah tangga dengan seorang laki-laki yang tidak dicintainya. Reyhan. Lebih tepatnya laki-laki tampan, tetapi menyebalkan dan...
