33. Insiden Tidak Terduga

1.4K 198 120
                                        

"Mungkin pagi masih berembun, tetapi situasi di setiap hari dapat menguji diri silih berganti."
*****

Neira terhenyak dari tidurnya. Bagaimana bisa ia tidur nyenyak dalam situasi begini? Ah, ia hampir lupa. Ia diberi obat tidur semalam saat berada dalam mobil.

"Apa yang terjadi?" Ia merasa pusing saat mengedarkan pandangan ke sekeliling yang terasa asing.

Bukankah dirinya sedang di culik, lalu ruangan ini tidak tampak seperti tempat penyekapan, ataukah penculiknya sedang memanjakannya sebelum dirinya dieksekusi?

Neira bergidik ngeri dengan pemikirannya sendiri. Ekor matanya menatap pada jam dinding yang menunjukkan pukul 07.30. Ia bersyukur sedang datang bulan. Maka ia tidak lalai melaksanakan kewajibannya menghadap Sang Pencipta.

Terdengar langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya. Kedua bola matanya menatap waspada pada pintu itu.

Pintu terbuka lalu menampilkan seorang wanita muda yang lurus menatapnya. Ia mendekat membuat Neira lebih waspada.

"Bersihkanlah dirimu, gunakan pakaian ini. Lima belas menit dari sekarang, kau harus sudah selesai dan tampil dengan layak," cecar suara bernada dingin itu membuat Neira mengernyit sebelum akhirnya timbul asumsinya atas perintahnya.

Mandi, mengganti pakaian dan tampil dengan layak? Ya ampun...apakah aku akan dijadikan...oh tidak! Neira terbeliak, tangannya meremas selimut yang telah ia singkap sesaat lalu.

"Lakukan segera. Jika kau masih memiliki motivasi untuk hidup." Wanita itu berkata kembali sebelum berlalu dari hadapannya, setelah meletakkan bingkisannya.

Baiklah, selagi ia mencari cara untuk kabur. Neira akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri.

Beberapa saat berlalu, Neira keluar lengkap dengan pakaian gantinya. Ia mendapati makanan hangat yang masih mengepulkan uapnya itu ada di atas nakas.

"Bukankah mereka penculik yang berperikemanusiaan?" Neira tertawa hambar. Sejujurnya ia hanya sedang menghibur dirinya sendiri, sebab kegamangan sejak tadi meliputi perasaannya.

"Baiklah, lari juga butuh tenaga bukan?" Ia memutuskan untuk makan terlebih dahulu, lalu menyisir rambut dan memakai peralatan dandan yang ada pada wajahnya.

Neira terhenyak ketika daun pintu dibuka kembali dari luar lalu dikunci setelahnya dari dalam.

Namun, yang lebih membuatnya terkejut bukan kepalang adalah siapa yang melakukannya dan sekarang ia ada di hadapannya.

Menatap lurus dirinya yang seketika membuatnya bangkit berdiri.

Astaghfirullah...dia yang menculikku? Neira menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.

Reyhan. Laki-laki itu mendekat membuat sirine kewaspadaan dalam diri Neira meningkat berkali lipat.

"Hai, Neira! Wah kau rupanya tidur nyenyak semalam," sapaannya membuat Neira mengernyit tak percaya. Suaminya itu tengah tersenyum ke arahnya?

"Kenapa kau menculikku? Apa yang kau inginkan?" hardik Neira menatap tajam Reyhan.

"Apa yang kuinginkan?" Reyhan mengulang ucapannya, lalu menyeringai setelahnya. Tatapan menelisik serta suara dinginnya membuat nyali neira menciut.

Langkah Reyhan mendekat, membuat Neira terkesiap dan tercekat rasa gugup dan ketakutan yang hampir bersamaan. Ia mengambil langkah mundur, tetapi percuma sebab jarak gerak di sisinya terbatas.

"Cabut gugatan perceraian itu." Kedua mata Reyhan menatap dalam tepat pada bola mata Neira.

"Jika kau ingin hidup tenang," tambahnya membuat Neira mengernyit tak percaya.

BERDETAK (Berakhir dengan Takdir) {TAMAT}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang