28. Terusik Kenangan

1K 219 106
                                        

"Kenangan adalah telaga kesunyian yang menyakitkan dalam ingatan.
Ketika diri hanya mampu mendekap semu bayangan."
*****

"Semoga kau tak lupa...untuk hadir dalam sidang perdana perceraian kita." Perkataan Neira sesaat setelah kepergiannya itu masih terdengar jelas terulang di pendengaran Reyhan. Membuat otot-otot di wajah tegas laki-laki itu kian mengeras mengingat kelancangan seorang Neira menyatakan perang dingin dengannya.

"Yaksa!!!"

"Yaksa! Di mana kau?!"

"Saya, Tuan..." Pemilik nama itu datang dengan tergopoh-gopoh mendekat. Menyadari hal buruk sedang mengintainya detik itu juga.

Plakk!!!

Telapak tangan itu melayang ringan di udara lalu tepat mendarat mengenai sasaran. Wujud kemurkaan Reyhan sebagai salam pembuka tanpa aba-aba.

"Brengsek! Siapa yang memberimu izin untuk bertindak lancang, hah?" Tatapan mengintimidasi itu seperti berapi-api. Membuat lawan bicaranya gentar dan gemetar menyadari kelalaiannya akan suatu hal penting yang belum sempat ia sampaikan.

"Am-ampuni saya, Tuan... Sa-saat itu An-Anda sedang tidak--" Nadanya bergetar diliputi ketakutan mengambil posisi berlutut di hadapan Reyhan.

"Kau dipecat dengan tidak terhormat!" sergah Reyhan memotong ucapan terbatanya yang dengan sisa-sisa keberanian ia utarakan. Selama dua tahun bekerja dengan majikannya baru kali inilah ia mendapati tatapan kekecewaan dan kemurkaan yang mengerikan dari sang tuan mudanya. Lalu sekarang ia dipecat? Tentu ia merasa pantas mendapatkan konsekuensi dari kebodohannya sendiri.

Yaksa tertegun seiring hentakkan langkah panjang Reyhan berlalu darinya. Yaksa akhirnya merasa serba salah dengan keputusannya mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan perihal surat dari pengadilan kala itu. Kini dan nanti nyatanya tidak ada perubahan yang berarti.

Kala itu ia mengurungkan niatnya karena mendapati Reyhan dengan keadaan berantakan. Babak belur menodai wajah rupawan sang majikan. Ia akhirnya tak banyak bicara sembari membantu menyediakan apa yang dipintanya sebelum akhirnya dokter keluarga Atmajaya datang menyelesaikan tugasnya merawat dan menjahit luka sobek di bagian wajah Reyhan.

Sebelum kejadian itu Yaksa sempat beberapa kali mendapati majikannya itu bermain piano atau banyak menyendiri di taman lantai teratas bangunan mewah itu. Hal yang ia tahu sudah jarang majikannya itu lakukan selepas berumah tangga.

Hingga akhirnya keraguannya tentang tuan mudanya sedang dalam masalah terjawab seusai ia tanpa sengaja menemukan Reyhan berenang di malam hari. Yaksa pun membenarkan rumor yang beredar dari mulut ke mulut pelayan di lingkungan rumah mewah itu. "Tuan Reyhan akan berenang di malam hari jika ada masalah berarti menganggunya."

Membuatnya semakin urung memberikan kabar dan mencari celah situasi yang tepat nanti, hingga hari di mana kesialannya itu tiba menghampiri. Tepat hari ini. Semuanya selesai dengannya.

*****

Diteguknya air dalam gelas itu hingga tandas. Kali ini Reyhan benar-benar merasa geram kepada asisten tidak bergunanya dan jelas terhadap wanita sialan itu.

Belum cukupkah ia merasa terusik saat ingin menjemput mimpi akhir-akhir ini? Dirasakannya ada hal yang janggal. Tepatnya ketika Reyhan memutuskan pisah ranjang dari Neira. Laki-laki itu tidak bisa melanjutkan kembali tidurnya ketika mimpi buruknya datang lagi. Seakan ada kekosongan di sisi lain ranjang tidur kebesarannya?

"Kegilaan macam apa ini? Sial!" umpatan yang hampir sering dirapalkannya sesaat seusai menemukan dirinya terbangun dengan napas tersengal atau menggeram dalam keresahan seperti yang sudah-sudah. Lalu kini ia kembali merasa diusik oleh pengakuan wanita itu di sore tadi? Lengkaplah sudah dirasakannya!

BERDETAK (Berakhir dengan Takdir) {TAMAT}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang