Elena terbangun setelah tidur semalaman karena pengaruh obat yang dia minum. Matanya menatap sekeliling ruangan dan baru ingat kalau tadi malam dia sudah kembali dari rumah sakit setelah berdebat dengan Robert. Laki-laki itu memaksa agar Elena beristirahat dulu di rumah sakit, tapi dia menolak. Elena merasa kalau tubuhnya sudah baik-baik saja dan dia ingin pulang. Akhirnya dengan berat hati Robert mengabulkan permintaannya untuk pulang.
"Kau sudah bangun?" tanya Robert yang sudah masuk ke dalam kamar Elena dengan membawa satu mangkuk bubur.
Elena mengangguk kemudian memperbaiki duduknya agar bisa bersandar di kepala ranjang.
"Bagaimana keadaanmu? Mau sarapan?" Robert menyodorkan bubur tersebut ke arah Elena.
Wanita itu tidak langsung menerima bubur tersebut. Dia malah melihatnya sekilas kemudian beralih menatap wajah Robert.
Apa laki-laki ini menginap di apartemennya semalam?
Apa dia yang menjaganya semalaman?
Namun, pertanyaan itu tidak lantas keluar. Elena malah hanya menunduk.
"Ada apa?" tanya Robert yang tidak mengerti dengan sikap Elena.
Elena diam saja. Dia bingung harus bicara apa atau mulai membuka mulutnya. Wanita itu ingat jika Robert-lah yang telah membawanya ke rumah sakit. Mungkin saja laki-laki itu sudah tahu tentang keadaannya yang tengah hamil.
Lama, tidak ada yang bersuara. Elena pun hanya mampu membuka mulut lalu menutupnya kembali tanpa ada kata yang keluar.
Terdengar Robert menghela napas."Makanlah dulu. Setelah itu kau bisa bicara apa saja. Aku akan mendengarkan."
Kepala Elena mengangguk. Kemudian mengambil mangkuk bubur dari tangan Robert, tapi dia tidak langsung menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya. Wanita itu malah hanya diam sambil memandangi makanan tersebut.
"Ada apa? Mau kusuapi?" goda Robert sambil tersenyum kecil.
Wanita hamil itu langsung menggeleng, lalu segera mengambil satu sendok bubur dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri. Dia masih bisa makan sendiri. Akan sangat memalukan jika sampai disuapi oleh Robert.
Lima belas menit kemudian bubur tersebut telah habis. Elena sendiri juga tidak menyangka jika selapar itu. Mungkin juga karena dia belum makan dari kemarin.
"Aku akan mencuci mangkuk ini, setelah itu kita bicara. Minumlah obatmu dulu." Setelah itu Robert keluar dari kamar Elena.
Wanita itu mengembuskan napas kemudian melihat obat dan air putih di atas nakas. Dia kemudian mengambil dan meminumnya. Elena harus segera pulih dan melanjutkan rencananya. Dia tidak bisa terus seperti ini.
Tak berapa lama Robert sudah kembali lagi kemudian duduk di pinggir kasur. Laki-laki itu tampak biasa saja. Elena tidak dapat membaca wajah Robert.
"Kau sudah meminum obatmu?" tanya Robert dan Elena mengangguk.
Suasana menjadi hening setelah itu. Elena masih bingung bagaimana merangkai kata untuk diucapkan pada Robert.
"Aku...."
"Aku sudah tahu. Kau tak perlu menjelaskannya lagi," potong Robert cepat.
"Maafkan aku." Elena menunduk. Dia merasa bersalah karena sudah membohongi Robert selama ini, dengan menyembunyikan kehamilannya.
Robert menangkup wajah Elena dengan kedua tangannya, kemudian menatap mata wanita itu. Mata laki-laki itu seperti memberikan ketenangan dan kehangatan. Dia tidak ingin wanita hamil itu merasa bersalah karena itu bukan kesalahannya. Elena mungkin hanya korban. Walaupun dia belum tahu persis masalah yang wanita itu hadapi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Baby, Pull Me Closer- E-BOOK DI PS
RomansaElena harus terbang ke New York, tempat Jefferson Campbell berada. Cukup satu yang diinginkannya. Status dari bayi yang dikandungnya saat ini. Setelahnya, dia akan menghilang dari kehidupan laki-laki itu. "Apa kau yakin, bahwa itu benar-benar anakku...
