6. Taurus

4.4K 649 60
                                        

Dulu sekali, aku pernah tidak sengaja menemukan salah satu buku milik kakak perempuanku, lalu kuambil. Esok harinya, kubaca tanpa sepengetahuan kakakku karena aku penasaran. Judulnya menarik, 'When Pain Feels Good' yang didalamnya menuliskan sebuah fakta bodoh yang tidak masuk akal. Katanya, ketika kita terlalu sering merasakan sakit, entah itu berwujud fisik atau abstrak, lama kelamaan kita akan menjadi terbiasa. Rasa sakit itu direkam dalam memori, dan otak kita akan memberikan respon motorik yang sama setiap kali kita merasakannya lagi. Maka dengan impuls yang terus menerus itu tubuh kita akan terbiasa, dan yang lebih buruknya lagi, kita mulai meminta rasa sakit yang lebih.

"Rasa sakit itu candu, Taehyung."

Aku masih ingat saat Jungkook mengatakannya malam itu, ketika aku berhenti sejenak karena tidak bisa mengontrol diri. Aku tidak terbiasa menyentuhnya dengan kasar, namun malam itu pikiranku sedang kacau, dan Jungkook ada disana untuk menawarkan dirinya. Membiarkanku merusaknya sekali lagi, menjamah tanpa rasa, mengacak kurang ajar, dan membuatnya meneriakkan namaku lagi dan lagi. Dia selalu ada untuk kujadikan pelampiasan biologis setiap kali aku merasa sakit, padahal aku tidak pernah ingin menyakitinya.

"Bisa berbahaya, tapi bisa juga menyenangkan. Bagiku, keduanya berlaku. Aku menyukai hal-hal menyenangkan yang berbahaya, jadi, lakukan saja."

Awalnya aku tidak percaya dan sempat berpikir 'teori bodoh macam apa itu?' karena menurutku, manusia cenderung menghindari rasa sakit dengan pelarian lain yang lebih menenangkan, bukan? Ya, setidaknya, itu yang kulakukan setiap kali aku merasa sakit. Mencari pelarian lain yang menenangkan seperti menyesap nikotin, menikmati candu kokain, atau menenggelamkan diri dalam suatu pelampiasan biologis yang memabukkan.

Tapi sejak aku mengenal Jungkook, aku mempercayai bahwa teori bodoh itu nyata adanya. Ya, Jungkook adalah suatu bukti nyata yang membuatku percaya bahwa ada jenis manusia yang memperlakukan rasa sakit seperti itu, persis seperti yang dijelaskan dalam teori yang baru saja kusebut bodoh. Kalau harus dibilang, Jungkook itu pemuja rasa sakit. Dia sudah terbiasa dengan segala bentuknya, baik fisik maupun rasa, bahkan hingga ia tidak bisa merasa apapun lagi karenanya. Rasa sakit baginya hanya berupa sensasi fisik, dan Jungkook sudah terlampau terbiasa dengannya. Maka dari itu, dia selalu menginginkan rasa sakit yang lebih dengan cara apapun, termasuk dengan menyakiti dirinya sendiri.

Aku mengetahuinya sejak pertama kali aku menjamah tubuhnya, ada beberapa jejak luka goresan ㅡjuga luka sayatan yang cukup dalam di tubuhnya, salah satunya adalah bekas luka di tangan kanan yang kuceritakan sebelumnya. Hari ini luka yang sama bertambah di lengan kirinya. Kembali menggores cacat di kanvas putihnya, namun tak sedikit pun mengurangi kadar keindahan rupanya.

"Aku pulang ke rumah hari ini,"

Dan aku baru mengerti satu hal, bahwa Jungkook akan melakukan hal yang sama ketika ia sedang merasa tertekan. Sangat tertekan, hingga ia tidak bisa lagi berkompromi dengan rasa sakitnya. Dia harus mengalihkan rasa sakit itu dengan rasa sakit yang lain sebelum ia kehilangan kewarasan dan memilih untuk menyerah. Maka disaat seperti itu dia akan melukai dirinya sendiri, mencari kepuasan dari rasa sakit yang dibuat olehnya sendiri, barulah setelahnya dia akan kembali merasa baik-baik saja.

"Apa hal yang menyakitkan masih bisa kau sebut sebagai rumah, Jeon?"

Aku menghela nafas tipis sekali ketika aku baru menyadari ada lebam di bagian perutnya, juga tepat di rahang bawahnya. Merah keunguan, yang menandakan bahwa itu adalah luka yang baru.

"Setidaknya, tempat dimana ibuku tinggal masih harus kusebut sebagai rumah, 'kan?"

Lantas aku hanya bisa menelan ludah, berusaha membasahi kerongkonganku yang tercekat ketika aku menyentuh perlahan luka lebam di rahang bawahnya. Aku tersenyum getir ketika otakku memutar suatu memori, mengingat bahwa Jungkook pernah menceritakan sesuatu tentang ibunya. Seorang pecandu alkohol yang temperamental dan sering menjadikannya sebagai pelampiasan amarah. Ditambah lagi kekasih ibunya, atau yang lebih tepat disebut sebagai ayah tirinya juga memperlakukan Jungkook dengan cara yang sama. Tidak heran jika luka lebam seperti ini akan Jungkook dapati setiap kali ia pulang. Lantas aku mengelus wajahnya yang indah sebelum membubuhkan satu ciuman halus tepat diatas luka itu.

"Tapi rumah tidak akan pernah menyakitimu, sayang."

Kuperhatikan ia sekilas menggeleng, tersenyum tipis. "Kau lupa satu hal, Taehyung. Rumah bisa menjadi tempat yang nyaman, tapi sekaligus menjadi tempat yang paling berbahaya."

Tangan kanannya yang tidak kugenggam beralih mengelus pipiku, lembut sekali, sebelum dia mencakup daguku dan mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara kami. Satu kecupan teramat halus kurasakan tepat di bibirku, dan aku refleks terpejam karenanya. Setelahnya, dia kembali menatapku sendu.

"Rumah juga bisa menyakitimu. Kau rumahku, tapi kau juga menyakitiku. Disaat kukira kau adalah satu-satunya orang yang memandangku sebagai manusia, ternyata kau sama saja. Semua orang memandangku serendah itu, termasuk dirimu."

"Tidak ada yang benar-benar bisa kujadikan tempat pulang di dunia ini. Dan mungkin, tidak ada yang pernah menungguku untuk pulang. Hidupku menyedihkan, ya?"

Aku mencelos mendengar kalimatnya. Sesak memenuhi jeram hati, dan ada rasa sakit yang begitu besar menyentak hatiku saat dia mengatakannya. Rasanya semestaku luluh lantak, tidak ada yang tersisa selain debu dan kepingan luka. Taehyung, kau benar-benar gagal mencintainya. Mana ada cinta yang justru hanya bisa menggores luka?

"Jungkook, maafkan akuㅡ"

"Jangan berkata maaf lagi, Taehyung. Aku yang salah disini. Aku yang terlalu berharap ada seseorang yang benar-benar bisa mencintaiku, padahal kenyataannya, aku yang seperti ini memang tidak pantas untuk dicintai 'kan?"

Jungkook menggurat senyum lagi. Demi Tuhan, aku benci melihatnya seperti ini. Aku benci melihat dia berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja, padahal kenyataannya jauh lebih buruk. Aku menghancurkan harapannya, aku menghancurkan perasaannya, dan aku menghancurkan semestaku hanya karena kebodohanku sendiri yang tidak bisa mencintainya dengan benar. Kurasakan rengkuhnya memelukku. Begitu lemah, seakan semua yang ada dalam dirinya telah teramat hancur dan putus asa. Dan bulir bening dari pelupuk mataku kembali mengalir bersama dengan luka dalam dirinya. Menyesakkan rasanya melihat semestamu hancur dalam pelukanmu sendiri.

"Maaf, Taehyung. Maaf karena aku terlalu berharap padamu. Maaf karena aku hanya mengganggu hidupmu. Kau tidak pernah benar-benar membutuhkanku, hanya aku yang terlalu banyak menaruh harapan. Hanya aku yang terlalu menginginkan tempat pulang, disaat seharusnya aku sadar, bahkan semesta pun tidak menginginkanku."

Kalau saja bisa, rasanya aku ingin mendekapnya erat hingga dia tak merasakan sakitnya lagi. Kalau saja bisa, aku dengan sukarela bersedia menanggung segala rasa sakitnya, juga segala kesedihannya. Menukarnya dengan semua kebahagiaan yang pernah kumiliki, agar dia tidak terluka lagi. Setidaknya sebagai balasan yang pantas karena aku telah menghancurkannya, semestaku yang paling berharga.

Rengkuhnya meninggalkan hampa, terasa begitu kosong dengan hatinya yang hancur bagai debu. Manik gelapnya yang basah terpejam dalam lelah, bersama hening yang merajam dalam sepi. Menenggelamkan luka dalam kalut rasa yang tak bertepi, membawanya menyelami malam yang teramat hampa. Begitu dingin, seperti hatinya yang tak pernah merasa hangat seberapa besar pun aku menyayanginya.

"Maka ajarkan aku cara untuk mencintaimu dengan benar, Jungkook. Agar aku tidak melukaimu lagi, agar aku tidak menyakitimu lagi. Dan agar aku bisa menjadi satu-satunya tempat untukmu pulang." []

CLICHÉ ㅡ VKOOKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang