06. Aldebaran

2.7K 347 80
                                        


[WARNING]

Mature Content. Explicit Words and Abusive Scene.


Aku pernah berharap bahwa semua ini hanya mimpi panjang tak bertepi yang akan membawaku ke nirvana suatu saat nanti. Atau jika bukan ke surga, kuharap aku masih di dunia saja, terbangun keesokan harinya dibawah cahaya mentari yang mencium samar pada rembulan. Kemudian menjadi manusia biasa yang mencinta, bukan seperti boneka yang tak lagi bisa merasa.

Aku berharap semua ini fana, hanya khayal yang melelahkan diantara semua mimpi yang berpendar dalam semesta. Bukan hal yang nyata serta penuh angkara. Segala hal yang menyakitkan ini, semua ingatan yang penuh luka ini, kuharap semua ini hanya pekat yang akan hilang ketika malam berganti pagi. Namun nyatanya, aku tak pernah bisa lari darinya. Aku tak pernah bisa lepas dari belenggu rasa sakit itu, dan kembali menggores luka yang sama setiap kali aku pulang.

Ya, hari ini aku memilih pulang ke rumah tanpa sepengetahuan Taehyung. Rumah dalam artian, gubuk kecil tempat ibuku tinggal bersama kekasihnya yang sudah dua tahun ini menjadi ayah tiriku. Entah apa yang membawaku ke sini, namun tadi pagi, tiba-tiba saja aku ingin bertemu ibu. Aku benci mengakuinya, tapiㅡ aku memang merindukannya. Setidaknya, bertemu sesekali tak akan membuatnya kembali menyakitiku, kan?

      
Namun ternyata aku salah. Benar-benar salah.

        
"Lama tidak berjumpa ya, jalang manis."

Itu ayah. Bukan, dia kekasih ibuku. Dia tidak pantas kupanggil ayah karena ayah tidak pernah menyakitiku. Tidak akan pernah.

Malam itu, ibu belum pulang ke rumah. Di sana hanya ada si bajingan tengik, berandalan brengsek yang sedang duduk dengan santai di ruang tamu. Psikopat gila yang kupanggil ayah itu menghembuskan asap rokoknya saat aku datang, menyesap sisa kopinya lalu menghampiriku dengan seringaian menjijikkan.

       
Tidak, jangan lagi.

        
Kumohon,

         
"Bagaimana rasanya menjual diri? Oh, katanyaㅡ kau mendapat majikan kaya, benar begitu, Jeon?"

Aku hanya menggeleng, berusaha melangkah mundur saat ia justru mendekatkan langkah. "Dㅡdimana ibu?"

"Belum pulang, mungkin sedang menemani bos barunya. Jika kau mau menunggunya pulang, sebaiknya kau temani aku juga sekarang."

"Tㅡtidak ayah, aㅡaku, aku harus pulang."

Langkahku tercekat saat lelaki tua itu dengan sigap menarik sebelah tanganku, mencekal di pergelangannya kuat-kuat dan membuatku meringis karena sakit.

"Jangan melawan, cantik. Atau kau akan terluka lagi."

          
Oh, tidak. Kumohon, jangan lakukan itu lagi ayah.

             
Namun perlawananku tak ada yang berarti, hanya berakhir dengan punggungku yang kembali membentur tembok. Tersudutkan dengan kasar, dan dicumbu begitu kurang ajar.

Ada rasa sakit yang sama seperti yang dulu kurasakan, persis sama hingga aku tak dapat membedakannya lagi. Kupejamkan mataku erat agar aku tak mendapati bagaimana aku kembali teracak begitu kurang ajar untuk yang kesekian kalinya lagi, namun yang kembali merajam ingatanku adalah bagaimana aku menangis dan berteriak saat bajingan tengik itu melakukannya pertama kali. Dulu sekali, mungkin lima tahun yang lalu. Menyakitkan, menggema dalam ingatan yang terbisukan luka, dan membuatku pening hingga segalanya nyaris menggelap.

CLICHÉ ㅡ VKOOKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang