Tadi malam Taehyung tidak bisa tidur, entah karena apa. Ia pulang ke mansion tepat sebelum denting jam berganti hari, jam dua belas malam. Cukup tidak tahu diri untuk mengetuk pintu saat aku tertidur di sofa sambil memeluk bantal.
Taehyung tidak terlihat lelah, juga tidak ada gurat sedih yang terulas di raut wajahnya. Hanya diam dan tersenyum tipis bahkan saat aku merengkuhnya, seperti orang bisu. Kukira dia marah padaku, atau aku membuat kesalahan lagi yang mungkin tidak kusadari. Tapi ternyata tidak, dia menggeleng lemah dalam pelukku saat aku bertanya kenapa. Ya, seperti kata Taehyung, aku terlihat menyebalkan karena selalu bertanya kenapa.
"Tae, sini."
Aku melepas rengkuhku di bahunya, tapi tidak berusaha lebih untuk melepas lengannya yang melingkar di pinggangku, hanya membiarkannya tetap seperti itu. Lalu aku mengusap keningnya yang berpeluh, seperti keringat dingin, atau memang dingin karena udara luar malam hari.
"Bersihkan tubuhmu dulu ya? Mau mandi air hangat tidak? Aku temani kalau kau mau,"
Mendapati Taehyung menggeleng lagi, kemudian bersandar lemah di perpotongan bahuku. "Aku hanya ingin memelukmu,"
Maka selain mengizinkannya, apa lagi yang bisa kulakukan? Melihat Taehyung yang begini sepertinya sudah menjadi salah satu kelemahanku sekarang. Bagaimana tidak, Taehyung yang selalu kulihat brengsek, angkuh, atau juga manja seperti anak kecil, sekarang terlihat sepertiㅡ rapuh?
Bahkan ketika aku sudah mengganti pakaiannya dengan sebuah kaus putih polos dan celana rumahan, dia masih saja diam dan menunduk tanpa ingin berbicara sedikitpun. Well, kuakui, Taehyung yang diam seperti ini jauh lebih menyeramkan dari biasanya. Meskipun aku sudah biasa melihatnya tersenyum angkuh dan penuh dominansi, aku tidak pernah ingin melihatnya diam bak orang bisu seperti saat ini.
Maka aku memilih untuk ikut berbaring disisinya, membuat tubuh kami saling berhadapan dan terbalut selimut beludru hangat yang menutupi hingga ke pinggang. Lantas mengelus helai rambut hitamnya lagi, menyibaknya agar tidak menutupi kening. Setelah itu, dia baru menatapku. Tatapnya tidak cerah seperti biasa, tidak sehangat setiap kali dia berkata aku mencintaimu, hanya dingin dan sendu yang merundung manik hazelnya yang indah.
"Mau bercerita?"
Dia menggeleng lagi.
"Taehyung, kenapa?" Aku mengelus pelipisnya lembut, sebatas sentuhan ujung jemari. "Jangan seperti orang bisu begini, aku bingung."
"Kau memang selalu bingung,"
Refleks membuatku terkekeh pelan sambil mengelus pipinya, kemudian dia berujar lagi, "Untuk mencintaiku saja kau juga bingung."
"Jangan mengalihkan pertanyaanku, Taehyung. Jawab dulu, kau kenapa?"
"Masih tidak mau bercerita?"
Lagi, Taehyung cuma menggeleng. Kemudian menghela nafas tipis sebelum berpura-pura memejamkan mata. Pada akhirnya aku menyerah untuk terus bertanya kenapa, lalu beranjak pergi menuju dapur tanpa mengatakan apapun lagi.
Ekspresi wajah Taehyung tidak sedikitpun berubah bahkan ketika aku pergi tanpa izin barusan, dan saat aku kembali dia hanya memalingkan wajah, sepertinya dia mengira aku marah karena mengabaikannya. Padahal aku cuma mengambil susu strawberry dari kulkas, lalu menghangatkannya dan membawa segelas untuk Taehyung.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLICHÉ ㅡ VKOOK
FanfictionMaka, apa lagi yang bisa kau lakukan jika semestamu telah pergi? BxB fanfiction. TAEKOOK. Top!Tae with Bottom!Kook. 🔞 for Mature Content (contain explicit sex scene and harsh words), Drugs, Mental Illness, and Self-Harm. [On Going] Start : 10/10/20...
