"Terlalu manis," Aku mendesah pelan saat menyicipi segelas kopi buatanku sendiri pagi ini. Aku tidak suka, sejujurnya, menjejas rasa manis dalam kopiku bukanlah sebuah selera yang kusukai.
Aku tidak menyukai hal-hal yang manis. Permen kapas, caramel macchiato, coklat, atau americano yang tidak sengaja diberi kelebihan gula seperti buatanku ini. Mungkin lidahku memang buruk untuk menyukai hal-hal manis yang menurut orang lain justru adalah makanan paling enak di dunia. Satu-satunya rasa manis yang kusukai jelas hanya Jungkook. Bibir plumnya terasa begitu manis, seperti cherry jika aku melumatnya di pagi hari, dan akan menjadi semanis vodka ketika dia menciumku sebelum terlelap di malam hari. Manisnya Jungkook itu adiktif, terlampau candu, dan aku menyukainya. Ya, mungkin maksudnya, terlampau menyukainya.
Lalu, saat aku masih mengomel karena americanoku yang terlalu manis, kurasakan seseorang memelukku dari belakang. Nafasnya hangat menyentuh tengkuk, juga kepalanya dengan sengaja ia sandarkan di bahuku, menggumamkan sebuah sapaan selamat pagi dengan suara halusnya yang mendengung. Itu Jungkook, si boneka cantik yang selalu kudamba bahkan saat wajah indahnya masih merengut ketika bangun tidur. Seperti sekarang, saat dia masih mengantuk tapi memaksakan dirinya untuk bangun dan menghampiriku di dapur.
"Masih mengantuk, sayang?"
"Hmm,"
Dia mengusak kepalanya diatas bahuku, menenggelamkan wajahnya diantara ceruk leherku, yang berhasil membuatku terkekeh geli karena surai halusnya yang menyapu di kulit leher.
"Kenapa bangun kalau masih mengantuk?"
"Aku selalu butuh untuk dipeluk saat bangun pagi."
"Dan?"
"Kau tidak ada disampingku lagi pagi ini,"
Aku tertawa sekilas, mencium lembut pelipisnya karena ia masih bersandar di bahuku. "Hehe, maaf. Aku bangun lebih dulu dan ingin membuat kopi."
"Such a bastard, menukar pelukanku demi segelas kopi?"
"Yea, tapi ini terlalu manis."
Manisku melepas peluknya, sekedar merubah posisi untuk beranjak kesampingku dan menyicip sedikit americano yang kubuat. Tahu apa responnya? Alih-alih memuji hasil kerja kerasku membuat kopi, dia malah tertawa. Puas sekali, namun begitu lembut dan menggelitik. Membuatku refleks berdecak kesal sembari mengamit pinggangnya.
"Seburuk itu sampai kau menertawakannya, huh?"
Kulihat bibirnya melengkung mengulum senyum jahil. Lantas aku dengan sengaja menghimpitnya di sudut kitchen set, menggodanya dengan kecupan-kecupan kecil di lekuk wajah sebelum aku mendudukkan tubuhnya diatas meja. Memandang sejenak saat mengagumi paras indahnya, lalu membubuhkan satu lumatan halus yang mengawali ciuman pertama kami pagi ini. Menyalurkan rindu lewat afeksi lembut yang saling berbalas, bersama rengkuh kedua lengannya yang tersampir di leherku. Jemarinya meremat tengkuk sesekali, bermain nakal diantara helai anak rambut sembari bergumam tipis menyahut namaku. Semua tentangnya, segala afeksinya, beserta seluruh friksi ini terlampau indah untuk dicerna nalar. Dan aku nyaris terbuai untuk menyentuhnya lagi dan lagi. Membiarkan gelas kopiku terbengkalai di sudut meja dan mendingin begitu saja karena si pemilik sedang mencuri jatah ciuman paginya.
"Taeㅡ ungh,"
Nafas Jungkook terengah putus-putus saat aku melepas ciuman kami lebih dulu. Sekilas ranum merah muda itu melengkung mengulas senyum tipis saat aku mengusap sudut bibirnya yang basah. Binar matanya meredup, kelopak matanya terpejam ragu-ragu.
Cantik.
Dengan kedua bilah bibirnya yang merah seperti kelopak sakura. Basah, bersama sisa jejas saliva yang mempercantik pesonanya. Mengkilap ketika ia mengulum senyum, sebelum Jungkook kembali membubuhkan satu kecupan final di bibirku.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLICHÉ ㅡ VKOOK
FanficMaka, apa lagi yang bisa kau lakukan jika semestamu telah pergi? BxB fanfiction. TAEKOOK. Top!Tae with Bottom!Kook. 🔞 for Mature Content (contain explicit sex scene and harsh words), Drugs, Mental Illness, and Self-Harm. [On Going] Start : 10/10/20...
