Kabar baiknya, aku pulang ke rumah hari ini. Ya, rumah. Seperti yang Jungkook bilang, tempat orangtuamu tinggal masih harus disebut sebagai rumah, 'kan?
Meskipun aku enggan, entah kenapa aku justru berakhir disini. Mendapati pemandangan yang biasa, sepi. Dingin, tak sedikitpun ada jejas kasih sayang dan kehangatan didalamnya. Terasa begitu hampa. Tidak ada ibuku yang malam itu jelas sedang pergi entah kemana, hanya ada ayahku yang menungguku datang sembari menyesap tehnya di ruang tamu.
"Apa kabar, Taehyung? Apa kau baik-baik saja?"
Aku mendengus mendengar pertanyaannya. Klise.
"Jangan bertanya seolah aku adalah orang yang sakit, tuan Kim. Kau melihatku didepan mata saat ini, kupikir kau bisa menilai sendiri jawabannya."
Ia menyesap tehnya lagi, menatapku dengan begitu tenang sembari menyandar di sudut sofa. Oh, bahkan aku begitu benci melihat senyum yang tergurat di wajah angkuhnya itu.
"Kenyataannya, kau memang masih sakit, sayang. Makanya aku bertanya, barangkali saja kau sudah sembuh sejak kejadian kakakmu." Dia terkekeh pelan, sarkastik. "Ternyata aku salah, kau justru menjadi lebih sakit sekarang."
Aku masih berusaha tenang menghadapinya, hanya menghela nafas tipis lalu mengalihkan tatapku dari wajahnya yang menjijikkan.
"Teruslah berkata begitu, dan jangan harap aku akan peduli."
Aku berbalik, beranjak pergi sebelum terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan. Memukul ayahku sendiri, misalnya. Tapi langkahku urung saat dia menyebut sebuah nama yang begitu familiar, yang paling tidak ingin kudengar disebut dari mulutnya.
"Jeon Jungkook, ya?"
Langkahku terhenti, kelu menjalari saraf otakku saat mendengar namanya. Tanganku refleks mengepal kuat sembari menatapnya dengan penuh kebencian. Dan sialnya, aku yakin ada segaris seringaian tipis di wajahnya. Senyuman picik, seperti yang biasa kulihat saat dia menyebut nama kakakku.
Ya, si manusia tua sialan itu memang selalu bisa menemukan kelemahanku, lalu memanfaatkannya sebagai senjata untuk memenjarakanku dalam permainannya. Menjeratku seperti anjing peliharaan yang harus menuruti semua keinginannya, tanpa dia sadari bahwa yang lebih pantas dibilang menggonggong bak anjing liar adalah dirinya sendiri, bukan aku.
"Apa kabar dia? Oh, tentu saja peliharaan barumu itu bahagia, uangmu cukup banyak untuk membelinya, kan? Omong-omong, kau mengambilnya dari tempat sampah mana?"
"Kurasa aku tidak perlu menjawabnya, tuan Kim. Mohon maaf, tapi dia bukan urusanmu."
"Jelas urusanku, karena dia adalah sampah yang membuatmu sakit, sayang." Ia mengubah posisi duduknya, menopangkan sebelah kakinya lalu mendecih remeh lewat seulas senyum. Dasar bajingan pongah, apakah ia pikir dunia dan seisinya ini berputar disekelilingnya?
"Bagaimana rasanya menjadi sakit seperti ibumu? Menyenangkan, bukan? Benar-benar ya, cinta memang bisa membuat seseorang menjadi gila. Klise sekali."
"Tapi sayangnya, aku tidak akan membiarkanmu menjadi gila seperti ibumu, Taehyung. Kau tidak boleh sakit, kau satu-satunya yang kupunya di dunia ini, dan aku tidak mau kehilanganmu."
Aku hanya balas mengulum senyum, "Sayang sekali, tapi kau bahkan telah kehilanganku sejak kau menyakiti ibu dan kakakku."
Ia menggeleng, lalu berdiri menghampiriku. Mengikis jarak sehingga ia kini berdiri tepat dihadapanku dengan tatapnya yang angkuh. Menatapku selayaknya anjing peliharaan yang nakal, dengan dia sedang mencoba menjinakkanku lagi. Selalu begitu, dia selalu menganggap seolah dunia ada dibawah kakinya. Seolah semua orang yang menurutnya tidak berharga adalah sampah, pantas untuk dibuang dan dicampakkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
CLICHÉ ㅡ VKOOK
FanfictionMaka, apa lagi yang bisa kau lakukan jika semestamu telah pergi? BxB fanfiction. TAEKOOK. Top!Tae with Bottom!Kook. 🔞 for Mature Content (contain explicit sex scene and harsh words), Drugs, Mental Illness, and Self-Harm. [On Going] Start : 10/10/20...
