7. Gemini

4.4K 644 82
                                        

Tepat jam delapan saat nyalang suara alarm itu membangunkanku separuh refleks. Memaksa mata untuk mengerjap saat terik mentari mencium lembut satu persatu kelopak lily yang kian merindu.

Juga,

Selamat pagi untuk semestaku yang masih tertidur lelap dengan segala keindahannya. Terbalut selimut tebal yang menggelung tubuh ringkihnya, yang semalam baru saja menggigil karena demam tinggi dan membuatku khawatir setengah mati, hingga aku baru bisa terlelap setelah larut malam. Pagi ini suhu tubuhnya sudah hampir kembali normal, hanya sedikit hangat dengan semburat rona merah di pipi.

Aku lantas memandanginya beberapa saat sebelum aku beranjak. Mencuri kesempatan untuk memperhatikan bagaimana wajah rupawannya berkali-kali lipat lebih mempesona ketika dicium bias sang mentari. Cantik, sama seperti kelopak lily. Sedikit iri karena sang mentari berkenan untuk menjelajah hidung bangirnya, mengelus rona merah di kedua pipi, dan bermain-main di bibirnya yang mengatup sempurna. Indah, andaikan Jungkook menyadari bahwa ia adalah seni. Selayaknya bait puisi, juga lukisan penuh warna.

Dan aku merasa begitu tolol karena telah meninggalkannya sendirian pagi ini, karena saat aku kembali ke mansion, aku mendapati Jungkook meringkuk ringkih sendirian. Menangis terisak seolah ketakutan, dan aku begitu panik karenanya.

"Jeon, heiㅡ kenapa?"

Lantas aku membawa tubuhnya kedalam rengkuhku, memeluknya erat dan berusaha menenangkannya. Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, masih dengan dirinya yang terisak lemah.

"Sayang, ini aku, kenapa? Ada apa?"

"Jangan pergi, Taehyung. Aㅡaku, aku takut,"

"Astaga, maafkan aku, Jungkook. Aku barusan pergi sebentar untuk membeli rokok. Maafkan aku,"

"Jangan pergi, kumohon."

Sendu membumbung dalam balut bulir bening di pelupuk matanya. Ada ketakutan yang menyelimuti obsidiannya yang basah, membuatnya menangis ringkih, dan sebab itu pula hatiku terasa sakit. Tidak, Jungkook. Manusia bodoh mana yang akan rela meninggalkanmu sendirian?

Aku mengecup bibirnya lamat, kemudian tersenyum seraya menyeka keningnya yang basah karena peluh. "Aku disini, sayang. Maaf karena membuatmu takut, tapi aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu."

***

"Kau pernah jatuh cinta, Jeon?"

Kulihat Jungkook sekilas menggeleng, kemudian aku mengangguk dan menyuapinya lagi. Ya, aku membuatkannya bubur pagi ini, dengan segelas teh hijau favoritnya. Kebetulan, katanya teh hijau bisa mengurangi tingkat stress pada tubuh, sangat cocok untuk keadaan Jungkook saat ini.

"Kenapa?"

"Karena aku memang tidak pernah jatuh cinta kepada seseorang,"

"Tidak satupun?"

Jungkook mengangguk, "Ya, tidak satupun. Aku tidak pernah mengenal cinta, Taehyung. Juga tidak pernah diberi kesempatan untuk mengenalnya. Semua yang ada dalam duniaku hanya hitam dan putih, atau abu-abu. Tidak ada cinta, dan akuㅡ"

"Aku tidak pernah mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang."

Ya, aku tahu. Jungkook bukan mati rasa, bukan pula menutup diri untuk merasa. Dia hanya tidak mengerti, dia tidak tahu seperti apa bentuknya cinta ketika selama ini dia hanya hidup dalam dunia yang abu-abu. Dan mungkin saja, dia bukannya tidak mencintaiku. Dia hanya, belum mengerti seperti apa caranya mencintai.

CLICHÉ ㅡ VKOOKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang