Jeon Jungkook, kalau perlu dijelaskan, adalah definisi harfiah dari sebuah frasa sempurna. Andai di dunia ini sejatinya tidak ada yang sempurna, aku berani membuat pengecualian hanya untuk Jungkook. Dia itu sempurna, setiap detailnya, seluruh raganya. Tidak ada cacat, tak memiliki cela, yang ada hanya pribadi penuh puja yang pantas untuk diagungkan.
Ada semesta yang memelukku dalam binar teduh sepasang maniknya, senyumnya menjejas rasa manis yang teramat candu, dan rengkuhnya begitu hangat menenangkan sanubari. Sehangat pelukan seorang ibu, seindah sentuhan sang dewi surga. Bahkan hingga saat ini aku belum bisa memahami bagaimana Tuhan bisa menciptakan manusia seindah Jungkook. Apakah binar paling terang sang mentari dan ciuman terindah sang rembulan saja cukup untuk membuatnya seindah itu? Ataukah Tuhan juga memilih permen termanis dan bunga tercantik dari surga untuk mengukir pesonanya? Mungkinkah Tuhan sedang teramat bahagia saat menciptakannya?
Aku bodoh karena berani mencintainya tanpa memiliki apapun yang bisa kuberikan, tapi Jungkook lebih bodoh lagi karena baru saja mengatakan dia mencintaiku, yang justru sama sekali tidak pantas untuk dicintai oleh seseorang seindah Jungkook.
"Ayo kita sudahi semuanya,"
"Permainan bodoh ini, semua sandiwara dan lelucon ini. Aku ingin mengakhirinya, Jungkook. Aku muak,"
Ada serpihan luka yang tergurat begitu menyakitkan dalam maniknya, menjejas rasa sakit yang teramat sangat setiap kali aku menatapnya. Rasanya teramat hancur, seolah aku mati perlahan hanya karena sengguknya yang pilu.
"Taehyung, kㅡkumohon,"
"Ini yang selalu kau tunggu, bukan? Meninggalkanku setelah melihatku hancur tepat dihadapanmu. Kau tidak pernah mencintaiku, Jungkook. Tidak akan pernah, maka apa lagi yang bisa kau harapkan dariku?"
Lengannya merengkuhku erat, meski rasanya teramat lemah. Seolah seluruh dirinya sedang hancur secara perlahan, tak dapat menapak lagi. Tapi aku hanya bisa menepisnya, menjauhkan langkahku darinya. Menarik diri seolah tak ingin dia menyentuhku lagi.
"Apa lagi yang kau inginkan memangnya? Uangku? Kalau begitu bawa saja sebanyak yang kau mau jika itu bisa membuatmu pergi. Aku tidak membutuhkanmu lagi, Jungkook. Aku muak denganmu,"
"Kau tahu, dari awal aku memang tidak pernah benar-benar menginginkanmu. Kau hanya sebuah boneka kotor yang tidak sengaja kupungut dari tempat sampah karena kukira kau menarik."
"Aku memeliharamu karena pada awalnya kau terlihat cantik. Begitu menggoda hingga membuatku buta, tidak menyadari bahwa kau ternyata begitu menjijikkan. Aku muak, Jungkook. Kumohon, pergilah."
Tubuhnya merosot ke lantai, menangis dalam hening. Terbisukan dingin, tercekat rasa sakit, dan terkubur dalam luka, hingga rasanya sulit sekali bahkan untuk sekedar mengucap untaian kata.
Aku ingin merengkuhnya, menariknya kedalam pelukku. Menenangkan isaknya yang pilu dan menghapus sakitnya yang membelenggu. Tapi yang kulakukan hanya berdiam diri, menatapnya menangis penuh luka, memohon seolah ia ingin mati. Aku hanya membeku tanpa melakukan apapun selain menatapnya menangis lirih, terbelenggu ego yang membutakan hati. Membiarkan boneka kacaku yang berharga kini menangis sebegini hancur, teramat putus asa hingga semestanya melebur bagai abu.
"Kumohon, Taehyung. Aㅡaku, aku tidak ingin pergi. Aku tidak ingin apapun lagi selain dirimu."
"Kau juga semestaku, Taehyung. Duniaku. Setelah semua yang kulalui bersamamu, setelah semua yang kau ambil dariku, apa itu tidak cukup untuk kujadikan alasan agar tetap bersamamu?"
Aku berusaha tersenyum samar, tipis sekali. Menggeleng angkuh dengan lengkung senyuman sarkastik. "Aku tidak pernah mengambil apapun darimu, Jungkook."
"Kau sudah rusak bahkan sebelum aku menyentuhmu. Aku hanya memakai apa yang telah kubeli, dan kini aku perlu membuang apa yang sudah tidak kubutuhkan lagi. Sebelah mana kesalahan yang perlu kujadikan alasan untuk mempertahankanmu?"
"Kau ingat, Jimin mengatakan padaku bahwa aku bisa membuangmu kapan saja jika aku sudah bosan bersamamu. Dan kini aku bosan, bahkan melihatmu saja membuatku merasa jijik. Tidakkah kau mengerti?"
Jungkook menggeleng lemah dalam sengguknya. Binar matanya meredup, bersamaan dengan semestaku yang ikut hancur didalamnya. Segalanya seolah menjadi semu. Bahagia, cinta, dan rindu. Perlahan hilang tenggelam dalam luka yang merajam begitu dalam di sepanjang nadi.
"Aku tidak mau mengerti apapun jika itu artinya aku harus kehilanganmu. Aku hanya ingin kau tetap bersamaku. Aku mencintaimu, Taehyung. Itu kan yang selalu ingin kau dengar dariku?"
Iya, Jungkook. Aku selalu ingin mendengarnya, aku selalu mengharapkannya terucap darimu. Tapi mengapa rasanya begitu sakit setelah mendengar kau mengatakannya?
Aku masih mencoba menelaah setiap arti dari tatap teduhnya yang merengkuh hati, mencoba mencetak makna dari setiap ciuman yang kami bagi, namun semuanya hanya berakhir abu-abu. Tidak ada jawaban lain yang kudapati selain melepasnya pergi.
"Jika kau tidak ingin pergi, maka aku yang akan pergi."
Aku mendudukkan tubuhku di lantai, bertumpu lutut untuk menyejajarkan tubuhku dengan Jungkook yang bersimpuh begitu lemah. Kudapati Jungkook yang tidak lagi menangis, air matanya tak lagi jatuh dari sepasang manik indahnya yang terlampau lelah. Hanya ada jejas basah yang mulai mengering, bersama luka yang menyayat dalam raga. Jungkook sudah lelah bahkan untuk sekedar memohon, Jungkook sudah lelah untuk mengucap frasa yang sama; aku mencintaimu. Bersama dengan namaku yang terucap lirih diantara hela nafasnya.
"Kㅡkumohon, Taehyung,"
Aku mencakup kedua pipinya, mengelap bekas basah yang bahkan mulai mengering saat dicumbu sayup angin malam yang sunyi. Lantas setelah aku menyelami cakrawalanya, setelah aku mengartikan sejuta rasa yang tak terucap kata, aku kembali menciumnya. Menariknya kedalam rengkuh dan mencumbunya untuk yang terakhir kali. Begitu halus, teramat manis, dan terlampau memabukkan dalam belenggu luka tak bertepi. Ciuman tanpa afeksi, yang rasanya begitu sakit bahkan dalam setiap hela nafas yang menjejas relung paru. Dalam sengguk nafasnya yang putus-putus, diantara ciuman kami yang basah, Jungkook lirih membisikkan kata maaf. Dengan secercah harapan yang tersisa, yang sebentar lagi sirna melebur dalam abu, menyatu bersama debu diantara gemerlap bintang di langit malam.
"Kukira kau mencintaiku, Taehyung."
Dan aku tidak pernah tahu bahwa malam itu, saat sang rembulan jatuh cinta dengan gemerlap bintang, saat dua rasi bintang melebur menjamah sang semesta, aku akan kehilangan boneka kacaku yang berharga. Boneka kaca yang paling kucintai, dan yang membuatku mengerti sebegini sakit rasanya dicintai.
Aku mencintaimu, Jungkook. Masih, dan akan selalu sama. Seberapa keras pun aku berusaha berhenti, semuanya hanya berakhir sia-sia. Karena dipaksa berhenti untuk mencinta adalah pekat yang meredam sepanjang kerongkongan, juga jejas rasa pahit yang menyacah dalam ingatan. Melebur bersama semesta tak bertuan yang dulu kau tawarkan untukku singgah. []
KAMU SEDANG MEMBACA
CLICHÉ ㅡ VKOOK
FanfictionMaka, apa lagi yang bisa kau lakukan jika semestamu telah pergi? BxB fanfiction. TAEKOOK. Top!Tae with Bottom!Kook. 🔞 for Mature Content (contain explicit sex scene and harsh words), Drugs, Mental Illness, and Self-Harm. [On Going] Start : 10/10/20...
