5. Mimpi Buruk itu Terjadi

81 8 82
                                        

"Kadang dalam hidup, kita bisa mengudara setinggi mungkin. Tapi, ada saatnya kita terjatuh begitu dalam... Dan sakit. Bijaklah dalam memperlakukan keduanya, secara sama."

********

Hari ini Sery meminta antar Kenzie ke tempat travel untuk menyetor semua uang yang telah dikumpulkan oleh teman-temannya. Sebenarnya Sery malas, tapi Bianca pasti mengamuk apabila mengetahui Sery menunda-nunda hal yang sudah diperintahnya.

Tadinya Sery mengajak Nabila untuk menemaninya. Tapi Nabila harus les renang sehingga terpaksa ia sendirian. Ketiga temannya, Bianca, Audia dan Irene pasti sedang berada di salon kalau hari libur begini. Akhirnya, ia mencoba mengajak Kenzie. Dan dia tidak pernah sekali pun menolak permintaan Sery selama ini. Hal yang bagus untuk Sery karena itu tandanya ia tidak akan pernah kesepian, ke sana ke sini sendirian.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Dan Kenzie belum datang-datang juga. Sery yang kesal karena Kenzie belum datang-datang juga, akhirnya menghubungi Kenzie. Dan betapa kagetnya Sery sewaktu ia mendengar penjelasan Kenzie. Bahwa sebenarnya Kenzie sudah berada di ruang tamunya dari lima belas menit yang lalu.

Ia segera berlari ke bawah karena kamarnya berada di lantai dua. Sewaktu berlari di tangga, ia melihat ekspresi wajah Kenzie yang sangat datar. Sery menggigit bibirnya sendiri, Kenzie selalu bereskpresi seperti itu kalau ia sedang membuat Sery kesal. Dengan tatapan dingin dan tidak bersalah seperti itu, siapa orang yang mampu menolaknya?

Sery menatapnya tajam, tapi Kenzie sama sekali tidak terpengaruh. Bahkan dia duduk menyender dengan santai di salah satu sofa besar yang berada di ruang tamu Sery. Sery hanya mampu menghela napas melihat sahabat ganteng tapi selalu membuatnya kesal itu.

"Lo bisa nggak sih ganti ekspresi lo yang itu-itu aja? Datar mulu ekspresi lo!" kata Sery yang ikut merebahkan diri di sofa tersebut.

"Dandan lo lama amat, biar lo dandan berjam-jam muka lo juga tetep yang itu juga, nggak berubah," ucap Kenzie datar.

"Ya iyalah, muka gue tetap yang ini. Emang lo pikir gue operasi plastik, sampai harus berubah," balas Sery seraya melemparkan bantal kecil yang berada di sofa. Kenzie diam saja tidak menanggapi, ia membiarkan bantal itu mengenai wajahnya begitu saja.

"Udah gitu ya, lo itu setiap gue lihat-lihat IG lo, pasti deh banyak banget cewe-cewe yang komen di setiap postingan lo. Lo nggak budeg apa setiap hari nerima notif bejibun?" tanya Sery kepo.

"Enggak, biasa aja," jawab Kenzie singkat seraya fokus kepada HPnya.

Sery memperhatikan sahabat laki-lakinya itu dari ujung kaki hingga kepala. Tampan! Itu satu kata yang langsung ada di benak Sery. Tapi tampan saja tidak cukup, Kenzie merupakan laki-laki yang tidak pernah bilang tidak padanya, menuruti semua permintaan Sery, mendengarkan kebawelan-kebawelan Sery yang tidak berujung dan lainnya.

Di sekolah, meskipun semua tahu mereka bersahabat. Tapi tidak ada yang tahu, kalau mereka sedekat ini. Di sekolah Sery sibuk dengan gengnya, dan Kenzie juga hanya sesekali ke kelas Sery dan paling hanya bersama saat istirahat, kalau Sery sedang tidak bersama gengnya. Kenzie, merupakan salah satu orang yang sangat Sery butuhkan. Dulu, sewaktu mamahnya meninggal, di pemakaman papahnya hanya sibuk menangis sendiri.

Beliau lupa, ada anak perempuan satu-satunya juga yang sedang menangis dan membutuhkan pelukannya. Sery mendapatkannya, mendapatkan pelukan serta usapan air matanya yang terus mengalir di pipinya. Meski bukan dari papahnya, tapi semuanya itu ia dapatkan dari seorang Kenzie.

"Apa lo liat-liat? Ntar naksir lagi," kata Kenzie tanpa mengalihkan pandangannya dari Hp.

Sery yang salah tingkah, langsung melempar bantal ke arah Kenzie.

SerenityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang