Apa? Kenzie ada di kamar? Dan ia membiarkan Sery menangis dan putus asa sendirian? Jelas ini seperti bukan karakter Kenzie.
Sery tersenyum mendengar penuturan pengawal pribadi Kenzie.
"Oh, mungkin masih tidur kali ya, Pak, Kenzienya. Yaudah nggak papa, Pak Anto ayo ikut saya kita kembali ke rumah," ujar Sery seraya tersenyum.
"Siap, Non." Pak anto segera bergegas ke bawah untuk menyiapkan mobil. Sementara Bi Ida masih saja mencoba membujuk Sery agar tidak kembali ke rumahnya yang sudah disegel itu. Tapi keputusan Sery sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
Sery melepas pelukan Bi Ida dan berjalan ke bawah dengan wajah tegas. Rumah itu miliknya, siapa orang yang berani mengambil dari tangannya? Papahnya juga tidak bersalah! Ia hanya ditipu, sedangkan sebelumnya semua rumah dan aset lainnya memang milik papahnya pribadi.
Begitu memasuki mobil, muncul sedikit ketakutan dalam benak Sery. Bagaimana kalau memang ia tidak bisa merebut rumahnya lagi? Apakah ia harus benar-benar pergi? Dari rumah itu, bukanlah nominal harga yang ia sayangkan, tapi kenangan-kenangan yang berada di dalamnya. Sungguh berarti baginya, jadi tidak mungkinkan ia akan pergi meninggalkan rumah tersebut?
Sery memandang jalanan dengan tatapan frustasi. Semoga apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Semoga tetap hanya mimpi buruknya. Semoga... semoga.
.....................
"Non, sudah sampai," kata Pak Anto pelan.
Sery terperangah dan reflek menoleh ke arah kiri. Rumah besar yang ber-cat putih berdiri kokoh di depannya. Ia sedikit menyunggingkan bibirnya. Melihat rumah itu seperti melihat papah dan mamahnya. Seperti melihat kenangan-kenangan indah yang tidak akan bisa ia lupakan walau dipaksa sekalipun.
Kenangan indah tentang rumah, tentang kehangatan keluarga kini hilang begitu saja saat ia melihat tulisan merah di gerbang ber-cat putih itu. Hanya satu kata "Di Lelang" tapi mampu merobohkan pertahanan mental seorang Sery.
Sery segera keluar dan menghempas tulisan itu seraya menangis. Meski tulisan tersebut terbuat dari kayu dan tidak mudah dirobek oleh tangan kecil Sery, Ia tetap menariknya berkali-kali, tulisan itu bergerak sedikit tanda adanya paksaan dicopot, tulisan itu tetap bergeming. Kayu bertuliskan "Di lelang" itu terlalu kuat dan tangan Sery terlalu lemah.
Sery tidak menyerah, Pak Anton hanya memperhatikan dengan tatapan nanar. Ia tidak tega dengan apa yang terjadi pada nonanya itu, tapi ia juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Baru setelah ia melihat tangan Sery mengeluarkan darah karena keras kepala ingin melepas tulisan tersebut, Pak Anton baru menghampirinya.
"Non, sudah, Non. Jangan diteruskan, kasihan tangan Non, sudah mengeluarkan banyak darah." Pak Anto mencoba meraih Sery meski Sery terus meronta menggapai-gapai tulisan tersebut.
"Papah ... Mamah ... Di sana ada Papah sama Mamah. Aku nggak mungkin keluar dari rumah ini. Tolong, Pak, tolong. Apa nggak cukup dengan Papah meninggal aja penderitaanku? Apa aku harus keluar dari rumah yang berisikan kenangan tentang Papah sama Mama?" Sery terus menangis getir.
Pak Anton yang mendengar kata-kata Sery pun ikut memangis hingga tenaganya lemah, Sery terlepas dari pelukan Pak Anton dan mencoba meraih tulisan itu lagi.
Sery beradu tangan dengan orang yang tiba-tiba datang di belakangnya. Sery menoleh dengan gusar, siapa yang mencoba menghentikannya untuk ke dua kali setelah Pak Anto. Sery membelalakkan mata, itu Kenzie. Mengapa dia di sini? Bukankah ia sedang tidur di kamarnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Serenity
Novela Juvenil[ O N G O I N G ] #17 in Teenlitindonesia 28/1/19 Ini hanyalah kisah lima orang sahabat perempuan yang mencoba saling memeluk dan menjaga dengan cara saling menjauh dan membuang. Dan ini adalah kisah para laki-laki yang tidak sadar, bahwa...
