"Persahabatan tidak akan pernah sekotor yang kamu bayangkan. Kamu keliru kalau mengkhianatinya."
*************
Lama Sery menangis di pelukan Kenzie. Kenzie hanya memasang ekspresi datar seraya menunggu Sery meluapkan rasa sedihnya.
"Nangis Ser, nangis aja ... selama apapun itu. Aku akan tungguin," bisik Kenzie dengan lembut.
Sery yang mengerti perkataan Kenzie tetap meneruskan tangisnya. Dengan pilu, air matanya keluar deras. Sambil sedikit teriak Sery menumpahkan semuanya.
"Kenapa, Ken? Kenapa? Kenapa hidupku harus tragis begini?" tanya Sery di sela-sela tangisnya.
Kenzie diam tidak menjawab. Ekspresi datar itu tetap melekat di wajahnya. Meski Sery berulang-ulang bertanya, Kenzie tetap bungkam. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
Kenzie menunggu dengan sabar sampai tangisan gadis yang sedang dipeluknya ini mereda. Ingin Kenzie bertanya banyak kepada Sery. Bertanya hal apa yang bisa ia lakukan untuk menggantikan tangisnya ini. Tapi, lebih baik seperti ini. Sery menangis saja dahulu sepuasnya, sampai kesedihan itu menghilang seluruhnya di hati Sery.
Mungkin karena terlalu nyaman menumpahkan semua tangis dan sedih di pelukan Kenzie, Sery tertidur. Pada awalnya Kenzie masih mendiamkan, sampai akhirnya ia mencoba menggendong Sery.
"Bi, tolong bawa semua barang Sery yang sekiranya penting. Semuanya, baju, perlengkapannya, foto-foto Sery sekeluarga, baik foto yang ada di dinding maupun di album, ijazah-ijazah Sery dan semua dokumen penting lainnya. Nanti malam, Bibi sama semua orang yang ada di sini ke rumah saya. Rumah ini akan disegel besok, saya harap nggak sampai tengah malam, semuanya yang sekiranya barang berharga Sery maupun Bibi pribadi udah di packing ya, Bi. Saya duluan bawa Sery ke rumah," ucap Kenzie seraya menggendong Sery yang sedang tertidur.
Bi Ida hanya mengangguk seraya menangis. Ia tahu hari ini akan datang, hari dimana ia akan dipaksa pergi meninggalkan rumah yang telah tiga puluh tahun lebih ia bekerja di rumah itu. Kalau ia saja bisa sesedih ini, padahal ini bukan rumahnya. Bagaimana dengan Sery?
Kenzie menggendong Sery seraya membawa ke mobilnya. Pengawal-pengawalnya Sery segera sigap membantu membukakan pintu mobil Kenzie.
"Den, tolong jaga Non Sery. Den Kenzie nggak keberatan kan kalau Non Sery menumpang di rumah Den Kenzie? Kalau untuk orang-orang di sini mah jangan kuatir." Pak Anto menepuk pundak Kenzie seraya memerhatikan nonanya yang ia sudah jaga sedari nonanya lahir itu.
"Pak Anto, tolong bawa semua orang-orang yang ada di rumah ini untuk nginep di rumah saya seenggaknya untuk satu hari aja. Kayaknya ada yang mau diomongin sama Sery, Pak. Dan itu penting!" seru Kenzie.
Pak Anto mengangguk mengerti.
"Baik, Den. Nanti saya suruh semuanya ke rumah Den Kenzie dulu kalau begitu, setelah membantu Bi Ida membereskan barang Non Sery dan mungkin barang-barang Alm. Tuan yang sekiranya berharga."
Kenzie hanya mengangguk dan langsung memasuki mobil yang di setir oleh supir pribadinya.
********
Hari ini Nabila masuk ke sekolah dengan hati yang kosong. Baginya, tanpa Sery di sekolah membuat sekolah sama sekali tidak seru. Begitu membuka pintu kelas, matanya malah langsung bertabrakan dengan mata Bianca. Ergghh.. Bianca itu, ia benar-benar gemas terhadap mantan sahabatnya yang satu itu.
Bianca membuang muka terlebih dahulu dan Nabila memutar kedua bola matanya. Nyatanya ia sama sekali tidak sudi menatap Bianca yang membuatnya muak. Nabila duduk di bangkunya, menatap bangku di sebelahnya yaitu tempat Sery. Akh.. Sery entah sudah keberapa harinya tidak masuk. Mengurusi urusannya yang panjang dan pasti melelahkan. Nabila menggelengkan kepalanya sendiri. Seandainya ia menjadi Sery, ia tidak akan sanggup menjalani hidup ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serenity
Jugendliteratur[ O N G O I N G ] #17 in Teenlitindonesia 28/1/19 Ini hanyalah kisah lima orang sahabat perempuan yang mencoba saling memeluk dan menjaga dengan cara saling menjauh dan membuang. Dan ini adalah kisah para laki-laki yang tidak sadar, bahwa...
