"Kita saling membuat luka, tanpa kita sadari. Hati yang terluka itu tetap saling bertautan."
*******
"Bil ... Bil!" Ucup menepuk pergelangan tangan Nabila sehingga membuat Nabila geram.
"Apaan sih lo, Cup. Ganggu gue aja yang lagi ngelelang. Lo juga fokus tuh sama catatan lo, jangan sampai lo salah nyatet!' Nabila merapikan poninya yang berantakan.
"Itu, Bil, ada Bianca. Kayaknya dia marah deh, barang-barangnya semua kita jualin," ucapan Ucup membuat Nabila berpaling ke arah yang ditunjuk Ucup. Sedangkan Yoyo pun reflek melepaskan salah satu barang Bianca yang sedang ditaksir temannya.
Nabila menatap awas Bianca yang berjalan ke arahnya bersama Irene dan Audi. Ada kemarahan terlihat di wajahnya sehingga wajahnya tampak begitu merah. Tatapan Nabila menantang seolah tidak ada ketakutan sedikit pun di wajahnya. Setelah Bianca berdiri tepat dihadapan Nabila, seperti ada begitu banyak kata yang ia ingin ucapkan kepada Nabila.
"Kenapa barang-barang gue malah lo lelang? Lo sama keluarga lo juga udah jatuh miskin sampai-sampai harus ngelelang barang orang lain buat bertahan hidup?" tanya Bianca seraya menaikkan alisnya.
Nabila reflek tersenyum miring. Dari dulu tampaknya, orang tua mantan sahabatnya ini hanya memberikan uang dan uang saja kepada Bianca. Lupa memberikan pendidikan moral dan akhlak sehingga anaknya tumbuh dalam keadaan cantik tapi ucapannya sangatlah menjijikan.
"Masih mending barang lo gue lelang dan itu pun masih ada yang mau. Lah, kalau gue buang ke tempat sampah gimana? Barang lo semua jadi sampah, sama kayak lo," balas Nabila berang.
Bianca tertawa tanpa mengeluarkan suara seraya menatap Nabila dengan penuh kebencian.
"Lo itu harus bisa bedain mana yang sampah mana yang berlian. Orang kayak gue nggak mungkin jadi sampah, kalau orang kayak lo mungkin banget tuh jadi sampah."
"Billa, udah jangan diladenin Bianca. Lo tau dia orangnya kayak gimana?" Irene mencoba melerai kedua sahabatnya itu.
"Lo nggak usah ngebelain dia!" teriak Bianca yang membuat jantung Audi hampir copot. Ia yang tadinya mau melerai juga, langsung cepat-cepat mengurungkan niatnya.
"Gue nggak butuh dibela siapa-siapa. Kalau lo udah nggak peduli sama Sery, seenggak pedulinya lo sama barang-barangnya yang udah lo buang. Lo harusnya juga nggak peduli sama semua temen-temennya yang masih deket sama dia. Terus kenapa lo kecewa barang lo gue jualin?" tanya Nabila menyerang sisi lemah Bianca.
Persetan semua orang tau seberapa kuatnya Bianca. Tapi sebagai orang yang pernah dekat dengannya, ia tahu betul seberapa rapuhnya Bianca.
"Gue emang udah nggak peduli! Tapi gue nggak suka kalau barang-barang itu lo jual, gue lebih suka barang-barang itu dibuang ke tempat sampah."
"Yaudah, karena barang-barang itu udah terlanjur kejual, gimana kalau lo aja yang masuk tempat sampah?"
"Plak ...." Bianca reflek menampar Nabila.
Nabila kaget setengah mati tidak menyangka bahwa ia akan ditampar oleh Bianca. Matanya terbelalak dan tangannya reflek memegangi pipinya yang memerah. Tapi yang jauh lebih kaget adalah Bianca itu sendiri. Dia tidak berniat sama sekali untuk menampar Nabila. Tangannya reflek ingin meraih pipi Nabila, tapi Nabila langsung menghempasnya.
"Gue nggak kaget kok, lo bakal nampar gue. Makhluk sampah dan bar-bar kayak lo emang sering ngelakuin hal itu. Setelah lo ngebuang Sery yang dulunya adalah sahabat lo sendiri. Bukannya, gue harus berterima kasih banget sama lo karena lo cuma sekedar nampar gue dan nggak ngebuang gue, hah?" Nabila pergi seraya menyuruh Ucup dan Yoyo merapikan barang-barang Sery yang masih tersisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serenity
Teen Fiction[ O N G O I N G ] #17 in Teenlitindonesia 28/1/19 Ini hanyalah kisah lima orang sahabat perempuan yang mencoba saling memeluk dan menjaga dengan cara saling menjauh dan membuang. Dan ini adalah kisah para laki-laki yang tidak sadar, bahwa...
