"Masih tidak mau?!" Singto menggeram. Membanting piring putih tersebut. Sungguh kesabarannya sudah habis untuk menghadapi Krist. Sejak pagi pria itu tidak mau makan sama sekali, malah meludahi wajahnya. Singto tidak segan berbuat kasar pada Krist.
Singto tidak suka penolakan. Seharusnya Krist tahu itu. Ah, Krist bahkan tidak pernah menganggap eksistensimu ada Singto!
"Lebih baik kau campur racun ke makanan itu. Baru aku akan makan. Biar aku mati sekalian!" Krist berucap sarkastik. Singto menyeringai.
"Oh, aku tidak akan membuatmu cepat mati." Singto membalas ucapan Krist tidak kalah sarkastiknya. Ia belum puas menyiksa Krist, jika sudah puas. Ia tidak akan segan menembak kepala pria yang suka meludahinya itu.
"Apa maumu sebenarnya?" Tanya Krist mencoba mengajak Singto berbicara. Tapi Singto tampaknya tak mau tahu.
"Aku akan buat kau mau makan!"
.
.
Krist meringis kesakitan ketika Singto mendorong tubuhnya ke tengah sebuah ruangan. Singto bahkan sudah melepas ikatan tangannya. Krist bisa saja kabur, jika dihadapannya bukan sekumpulan pria berbadan kekar.
Singto menyeretnya keluar dari apartemen. Membawanya menggunakan mobil ke sebuah bangunan dengan gaya eropa yang dijaga ketat pria-pria berwajah seram.
Krist tidak tahu ia ada dimana.
"Lawan mereka. Jika kau menang aku akan membebaskanmu." Singto tersenyum miring. Bulu kuduk Krist meremang. Apa Singto gila? Krist memang petarung yang handal namun melawan banyak pria berbadan kekar dengan tubuh lemah dipenuhi luka. Jelas jawabannya ia akan kalah.
"Kau gila?!"
"Lakukan saja." Singto berucap datar. Ia menarik sebuah kursi. Duduk diatasnya. Menunggu dengan sabar Krist akan menghajar pria-pria itu.
Semua orang di organisasi ini menghormati Singto selayaknya menghormati ketua mereka. Singto akan menjadi penerus dan memang sepantasnya ia dihormati. Mereka tidak akan menolak semua ucapan atau perintah Singto. Termasuk menghajar seseorang yang kini memandang mereka dengan pancaran mata sedikit ragu dan takut.
"Apa yang kalian tunggu? Natal? Cepat hajar dia!" Singto berteriak keras. Mereka semua saling pandang sejenak, memberi kode untuk menyerang.
Krist mengumpat kasar. Ia melawan seorang diri pria-pria itu. Luka ditubuhnya bertambah. Kekuatannya seakan hilang. Krist belum makan sama sekali. Wajar jika Krist lengah dan menerima pukulan disana sini. Sampai saat ini Krist belum bisa membaca apa maksud Singto menyuruhnya bertarung. Apa Singto ingin mengukur kemampuannya? Tapi untuk apa? Seratus persen Krist yakin bahwa Singto sudah pandai membaca pola penyerangannya.
Brukk
Tubuhnya ambruk. Krist mengaku kalah.
"Oke, cukup. Bawa dia ke ruanganku!" Singto bangkit dari kursinya, meninggalkan ruangan tersebut. Krist hanya bisa pasrah ketika seorang pria memapah tubuhnya.
Krist dibawa masuk kedalam sebuah ruangan dengan pintu ukiran naga. Ia bisa melihat ruangan itu tidak terlalu terang, terdapat banyak ornamen antik didalamnya. Singto duduk diatas ranjang. Pria itu melempar tubuhnya ke atas ranjang. Kemudian pamit meninggalkan ruangan Singto.
Krist merasa ini kesempatan emas. Dengan tubuh lemah, ia merangkak mencoba meraih pintu. Apalagi ketika Krist melihat Singto diam saja. Krist akan pergi dari sini!
"Arghh!" Krist berteriak sengit ketika Singto menarik kakinya. Menghempaskannya kembali ke atas ranjang.
"Apakah aku harus menghancurkan kakimu, supaya kau tidak lari? Hm? Little kitten?" Krist bergidik ketika Singto berucap datar tanpa intonasi. Mengindikasikan bahwa pemuda jahanam itu serius dengan apa yang di ucapkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fighter [SingtoxKrist]
FanfictionSepuluh tahun lalu bagi Krist, Singto hanyalah bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Penolakan menyakitkan mendorong Singto untuk membuktika pada Krist bahwa dia bukanlah orang yang bisa diremehkan. Singto tumbuh menjadi seorang pembunuh bayaran h...
![Fighter [SingtoxKrist]](https://img.wattpad.com/cover/170186077-64-k629287.jpg)