"Niel.., hiks."
Daniel terperanjat saat mendengar seseorang memanggil namanya sambil menangis. Hatinya senang bukan main saat dilihatnya Sejeong sudah terbangun disana. Buru-buru ia berdiri dari sofa dan berjalan menuju sisi ranjang gadis itu seraya memeluknya erat.
"Sstt.Tenanglah, aku disini. "
"Mereka memukul dan memaksaku meminum itu..hiks."
"Iya, aku tahu. Sekarang tenanglah dan kembali tidur, oke? Ini sudah malam."
Daniel membaringkan Sejeong dan mengelus surainya perlahan-lahan.
Matanya melirik sebuah jam di meja. Pukul 12 malam. Itu artinya ia tanpa sengaja tertidur di sofa sejak tadi sore. Namun pemuda itu bersyukur karena bisa menjaga Sejeong saat ia bangun dan menangis ketakutan.
Sejujurnya Daniel merasa bersalah. Akibat kecemburuan Jennie padanya, Sejeong sampai harus merasakan cairan pembersih lantai masuk kemulutnya dan tak sadarkan diri selama dua hari.
Semua ini memang kesalahannya.
"Niel, ayahku dimana? "Tanya Sejeong tiba - tiba yang berhasil membuat Daniel tersadar dari lamunannya.
Ini tengah malam dan Daniel sudah menerima pertanyaan yang paling dihindarinya. Ia tidak tega untuk mengatakan bahwa selama ini ayah Sejeong belum datang sama sekali meski sudah dikabari.
"Aku sudah mengabarinya lewat ponselmu, tapi.."
"Dia belum datang kesini, ya? " Ucap Sejeong sambil tersenyum getir.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Apa sebegitu tidak pentingnya sejeong dalam hidup ayahnya hingga saat sekarat pun pria itu sama sekali tidak mau datang?
Harusnya sejeong mati saja waktu itu.
"A-ah, mungkin ayahmu masih ada urusan. Pasti nanti dia akan datang. "
Sejeong sangat tahu kalau kata-kata itu hanya Daniel ucapkan untuk sekedar membesarkan hatinya yang pada kenyataannya sudah hancur berantakan.
Sejak sang ibu meninggal, sosok yang ia panggil 'ayah' itu juga berubah.Dia sangat suka meninggalkan Sejeong sendirian dirumah dengan alasan pekerjaan atau tidak mau terus hancur melihat kenangan tentang istrinya.
Padahal Sejeong juga sama hancurnya bahkan mungkin lebih hancur saat melihat ayahnya lebih memilih wanita lain dibanding putrinya sendiri.
Dan hari ini adalah hari pernikahan mereka.
Bibi Joohyun. Atau lebih tepatnya Bae Joohyun. Wanita yang selama ini ayahnya sebut-sebut sebagai calon istri terbaik. Saat pertama kali melihat fotonya, sejeong akui bahwa ia memang terlihat sangat cantik. Selain itu, ayahnya juga bilang kalau dia wanita yang sangat baik.
Tapi, wanita 'sangat baik' mana yang bahkan tidak membiarkan suaminya pulang untuk menengok anaknya yang tengah sekarat?
Atau jangan-jangan mereka memang ingin sejeong mati dan memulai hidup baru disana?
Membayangkan ayahnya akan punya anak-anak lain dari wanita itu membuat hati sejeong perih. Pada akhirnya ia akan tetap dilupakan meskipun masih hidup. Pada akhirnya ia akan tetap ditinggalkan sendirian meski sesabar apapun dirinya menunggu sang ayah pulang.
Benar, kan?
Hidup terkadang seburuk itu.
"Kenapa menangis lagi? Apa sekarang ada yang sakit?kalau begitu sebaiknya aku panggil seseorang kesini untuk memeriksamu dulu, ya? "
Tidak, badannya baik - baik saja.
Sejeong hanya terlalu sakit saat memikirkan kalau bagi sang ayah,
KAMU SEDANG MEMBACA
Curious | Daniel & Sejeong
FanficBerawal dari rasa penasaran Daniel pada sosok 'Drama Queen' yang selalu jadi bahan perbincangan di sekolah nya. Hingga diam - diam dirinya jadi tidak setuju mereka memanggilnya begitu setelah melihat gadis itu secara langsung. Karena alih- alih cap...
