Bab III Malam Pertama

4.3K 119 3
                                        

Khumairah masih tidak percaya dengan apa yang dialami sekarang ini. Pernikahan yang begitu dianggap sakral olehnya tak lebih hanya pernikahan kontrak saja. Sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Perih. Itu semua karena diriku, karena warisan abi yang akan disumbangkan ke panti asuhan apabila tak menikahi Khumairah, wanita pilihan kedua orang tuaku.

Ada rasa bersalah ketika kumelihat bulir-bulir air mata yang menetes di pipinya. Surat perjanjian kontak yang hanya berlaku satu tahun itu, pasti lah membuatnya terpukul. Terlebih lagi dengan adanya poin-poin yang kusematkan di dalam isi surat perjanjian itu.

"Maksudnya, kita hanya menikah kontrak?" terdengar lirih

"Maafkan aku."

"Tapi apa salahku? Apa aku tak pantas menjadi isterimu?" seru Khumairah.

Aku menghela napas panjang.

"Bukan karena pantas atau tidaknya, tapi Karena rasa. Tak ada rasa cinta di antara kita."

Khumairah terdiam. Beberapa menit berlalu tanpa adanya kata-kata di antara kami.

"lantas ... kenapa Akhi setuju untuk menikahiku? Tak bisakah Akhi menolak?" Suaranya bergetar.

Khumairah menyeka air matanya.

"Itu karena ... sudahlah, tak perlu di
bahas. Kalau kamu setuju, tanda tangani perjanjian itu."

Tidak mungkin aku memberitahu kepadanya hanya karena warisan itu. Khumairah mengambil pena di atas meja dan menandatangi surat itu. Aku tersenyum puas.

Point pertama, kedua belah pihak tidak boleh saling mencampuri privasi masing.

Point kedua, kedua belah pihak tidak diperbolehkan saling menyentuh atau berhubungan selayaknya suami isteri sampai masa kontrak habis.

Point ketiga, kedua belah pihak tidak boleh tidur satu ranjang.

Point keempat, kedua belah pihak boleh membawa orang lain ke dalam rumah tanpa harus ada izin dari pihak lain.

Point kelima, apabila sedang berada di luar rumah, kedua belah pihak bukanlah siapa-siapa atau tidak mempunyai hubungan apapun.

Aku selesai membaca lima point di dalam surat ini. Entahlah, apakah dia mendengar atau tidak. Yang pasti, aku hanya mengulang membaca agar dia benar-benar mengerti akan point surat itu.

*****

Aku menata kursi yang akan kugunakan menjadi tempat tidur. Baru saja aku hendak memejamkan mata, tiba-tiba saja pintu kamar diketuk oleh seseorang. Sontak saja aku terperanjat dan segera menuju tempat tidur di mana Khumairah sedang tertidur.

Khumairah yang merasakan kehadiranku di atas tempat tidur tiba-tiba kaget dan terbangun.

"Apa yang Akhi lakukan di sini? Bukankah ini tempat tidurku?" tanyanya kebingungan.

"Ssstt ... diam. Jangan berisik, ada yang mengetuk pintu kamar,"
kataku menutup bibirnya dengan telapan tangan kananku.

Khumairah mengangguk pertanda dia mengerti apa yang kukatakan barusan.

"Yusuf ... sudah tidur, Nak? Boleh Umi masuk?"

" Masuk saja, Mi," sahutku dari dalam.

Pintu terbuka. Umi tersenyum saat melihat kami berada di dalam satu selimut.

"Ada apa, Mi?" tanyaku. Aku membelai rambut Khumairah agar terlihat romantis di depan Ummi.

Khumairah yang menyadari hal itu terlihat salah tingkah. Tangannya yang berada di dalam selimut lantas mencubit pinggangku. Spontan saja aku berteriak.

BIDADARI DUNIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang