Aku menangis mendengar Yusuf memanggil namaku. Kudekati dia yang masih terbaring lemah.
"Ka-mu ingat aku?"
Dia menggenggam tanganku dengan lembut. Senyum yang sangat kurindukan akhirnya kembali bisa kulihat.
"Tentu saja aku ingat. Bagaimana mungkin aku melupakan isteriku?"
Secara refleks aku langsung memeluknya tanpa menghiraukan Kat yang masih betah berada di samping Yusuf.
Dengan lembut dia mengusap kepalaku. Serta berusaha menenangkan.
"Sayang, kamu kenapa tiba-tiba jadi begini?" Kat mulai kebingungan dengan perubahan yang terjadi pada Yusuf.
Yusuf yang semula nampak tak menyukai dan dengan gampang mengusirku, kini dengan mudahnya memanggilku dengan kata sayang. Wajar saja kalau Kat menjadi berang.
"Kat, sebenarnya aku ingin mengakhiri hubungan kita!" Kata Yusuf dengan tegas.
Mendengar itu, Kat naik pitam.
"Enak saja ... ya tidak bisa seperti ini dong, Suf."
"Maafkan aku, Kat. Tapi aku mohon, kamu pergi dari hidupku. Aku memang menyayangimu, tapi aku lebih tidak tega melihat isteriku menderita."
Akhi Ahmad yang sedari tadi berdiri, kini berjalan ke arah pintu dan seketika membuka pintu ruangan.
"Maaf, Nona. Pintu terbuka lebar. Sepertinya sudah jelas apa yang dikatakan oleh Yusuf."
"Yusuf ... aku pastikan kamu akan menyesal dengan pilihanmu."
Dengan wajah yang teramat kesal, Kat keluar dari ruangan. Diikuti akhi Ahmad di belakangnya. Aku dan Yusuf tersenyum dan melepaskan kerinduan kami.
****
[Airah, mungkin Ana akan datang sedikit terlambat. Kita bertemu di rumah Ana saja. Kebetulan juga Ummi katanya rindu sama antum. Jadi sekalian bisa silaturahmi. Nanti ana kirim alamatnya.]
Kuletakkan kembali ponsel di dalam tas setelah membaca pesan dari akhi Ahmad. Pagi ini, akhi Ahmad berencana meminjamkan sebuah buku. Buku lama yang sudah tidak diterbitkan lagi. Kebetulan akhi Ahmad sendiri masih menyimpan buku tersebut.
Aku tiba di rumah yang bercat hijau muda. Di halaman depan terdapat berbagai macam pohon buah-buahan yang sengaja ditanam. Perlahan aku mendekati pintu rumah dan menekan tombol bel yang berada di situ.
Tingtong ... tingtong ...
Tak lama perempuan paruh baya muncul di balik pintu dan tersenyum ketika melihatku. Wajah yang telah lama tak kulihat itu masih sama seperti dulu. Tetap cantik walaupun tanda-tanda goresan tua di wajahnya mulai terlihat.
"Assalaamu'alaikum, Mi?" Sapaku kepadanya.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh."
"Maaf, Mi. Akhi Ahmadnya Ada?"
"Kebetulan dia sedang keluar, maaf kamu siapa dan ada keperluan apa?"
"Aku Airah, Mi. Anak pak Irsyad, tetangga Ummi dulu."
"Airah? Airah anak bapak Irsyad yang nakal itu?"
Aku mengangguk dan tersenyum.
"Maa syaa Allah ..."
Mengetahui hal itu ummi akhi Ahmad langsung memelukku dan mencium kedua pipiku. Laksana seorang ibu yang telah lama tak berjumpa dengan anaknya.
"Masuk, Nak," ajak ummi Rahma.
Sembari menunggu akhi Ahmad, kami berbincang-bincang tentang masa dulu. Mengenang masa kanak-kanakku beserta akhi Ahmad. Betapa nakalnya kami dulu. Beliau juga menceritakan bagaimana kelakuan akhi Ahmad semenjak kami berpisah karena dipindahtugaskan ke Kalimantan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDADARI DUNIA
RomansaYusuf bersedia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang wanita bercadar yang bernama Khumairah, akhirnya memilih untuk menikahinya tanpa berlandaskan cinta. Namun, dikarenakan harta warisan kedua orangtuanya yang akan jatuh ke panti sosial...
