Langit sore ini nampak mendung. Tak nampak ada sinar matahari. Tak lama kemudian hujan turun dengan perlahan. Satu persatu dengan aroma khasnya. Dengan secangkir teh hangat di tangan sembari menyeruput sedikit teh manis hangat itu, Khumairah masih dengan setia menunggu kedatanganku yang telah berjanji sore ini untuk bertemu dengannya di salah satu cafe yang tak jauh dari kediaman kami.
Satu jam, dua jam, sampai lewat waktu isya aku juga tak kunjung tiba. Akhirnya Khumairah memutuskan untuk mengirimkan pesan kepadaku.
[Kamu di mana? Sudah lewat dua jam lebih aku menunggu. Cepatlah datang.]
Bip ... Bip ...
Pesan kuterima. Sial! Bagaimana mungkin aku kembali melupakan Khumairah.
[Tunggu aku, sebentar lagi datang.]
Aku mengirimkan pesan itu kepada Khumairah, hanya dibaca tanpa ada balasan lagi.
Setengah jam berlalu setelah berkirim pesan. Rasa bosan telah dirasa menghampirinya. Ditambah, dia sudah mulai mengantuk.Akhirnya Khumairah memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke rumah. Karena jarak yang tak terlalu jauh. Hitung-hitung olahraga pikirnya. Namun dia masih berharap di tengah perjalanan pulang, aku akan datang menghampirinya.
Hujan kembali turun ke bumi. Khumairah memutuskan untuk berteduh di bawah pohon besar yang rindang tepat berada di pinggir jalan. Tiba-tiba saja sebuah kendaraan bermotor berhenti di tempat yang sama dengannya. Dua orang bertubuh besar dengan kepala plontos ikut berteduh. Wajah yang terlihat sangar di tambah tato di lengan kirinya. Salah satu pria dengan tubuh yang sedikit lebih kurus dari satunya menyenggol lengan tangan temannya. Seakan memberi kode nakal kepadanya.
“Assalaamu’alaikum ukhti?” dengan suara berat mulai menyapa Khumairah
“Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,” jawab Khumairah singkat.
“Mau ke mana ukhty? Sini biar kita antar,” ajak salah seorang dari mereka.
“Tidak, terima kasih. Maaf aku pamit duluan. Assalaamu’alaikum.” Khumairah lantas bergegas meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan air hujan yang masih turun.
Kedua laki-laki itu mengikutinya dari belakang. Khumairah mempercepat langkah kakinya. Perasaannya mengatakan kalau sekarang dalam posisi yang tidak aman. Sampai tiba di suatu jalan yang sepi, kedua lelaki itu berhenti di depan Khumairah.
“Ayo manis, ikutlah dengan kami untuk bersenang-senang. Lagi pula kami begitu penasaran dengan wajahmu yang kamu tutupi cadar. Aku percaya kalau kamu adalah wanita yang cantik.” Dengan sedikit memaksa memegang tangan Khumairah.
“Tolong lepaskan aku, aku mohon!” sedikit berteriak. Namun kedua lelaki tersebut terus memaksa. Laki-laki yang satunya mendekap Khumairah dari belakang. Serta yang satu lagi, berhasil membuka niqab yang dipakai Khumairah.
“Wow ... ternyata benar yang aku bilang, wajahmu begitu cantik,” katanya sembari tertawa puas.
Namun Khumairah tidak kehabisan akal. Dia menginjak salah satu kaki lelaki yang mendekapnya. Khumairah berhasil lepas tanpa menyia-nyiakan waktu, Khumairah berteriak dengan kencang sampai pada akhirnya sebuah mobil berhenti. Seorang laki-laki bertubuh kekar menghampiri Khumairah.
“Anti tidak apa-apa?” tanya lelaki itu.
“Tolong ana akhi. Mereka orang jahat.” Khumairah menangis ketakutan.
“Anti tenang saja, sekarang anti masuk ke mobil. Biar ana yang hadapi mereka.”
Khumairah menurut, segera dia masuk ke dalam mobil tersebut dan dikuncinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDADARI DUNIA
RomanceYusuf bersedia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang wanita bercadar yang bernama Khumairah, akhirnya memilih untuk menikahinya tanpa berlandaskan cinta. Namun, dikarenakan harta warisan kedua orangtuanya yang akan jatuh ke panti sosial...
