Aku dan akhi Ahmad saling melempar senyum ketika mendengar Yusuf mengatakan hal itu. Begitu puas rasanya. Terlihat jelas kalau dia sangat tidak menyukai kehadiran Akhi Ahmad di sini.
"Antum lihat bagaimana ekspresi wajahnya tadi?" Tanyaku kepada akhi Ahmad yang meneguk teh hangat buatanku.
Dia mengangguk dan tersenyum.
"Na'am. Anti senang?" Tanyanya kembali.
"Iya Akhi."
Setelah berbincang-bincang, akhi Ahmad memutuskan untuk pamit. Lagipula suara Yusuf yang sedari terdengar batuk-batuk seakan memberi tanda kalau ini sudah melewati batas untuk bertandang di rumah seseorang.
Aku tahu, kalau itu hanyalah sebuah alasannya. Akhi Ahmad yang menyadari itu pun hanya tersenyum saja. Setelah mengantarkan teman kecilku di depan pintu untuk pulang, aku kembali ke kamar di mana Yusuf seakan telah menanti kedatanganku.
"Dia sudah pulang?"
"Iya, baru saja."
"Baguslah, setidaknya dia tahu kalau yang diajak berbicara sampai selarut malam ini adalah isteri orang lain."
Aku mengambil jam weker di meja. Pukul 20.39 wib. Kemudian kuletakkan kembali.
"Menurutku, ini masih batas waktu yang wajar."
Dia menatapku tajam. Tak ada kata yang terucap, namun bisa kupastikan kalau dia tak suka disanggah.
****
"Boleh aku pergi sebentar?" Tanyaku mengawali percakapan dengannya.
"Ke mana?" Balasnya singkat sambil menelan makanan yang kusajikan pagi ini.
"Toko buku, namun aku pergi bersama akhi Ahmad."
Kutatap wajahnya. Sejenak dia berhenti menyantap makanannya saat mendengar itu. Tak lama, dia melanjutkan.
"Pergilah," katanya kemudian.
"Apa boleh?" Tanyaku kembali
"Tentu saja, kenapa tidak!"
Tak lama terdengar suara klakson mobil. Aku tahu, pastilah akhi Ahmad yang datang. Saat kubuka pintu, benar saja. Wajahnya yang berseri-seri diiringi dengan senyum yang menawan menyambutku. Seiikat mawar merah yang tersembunyi dari tadi dibalik tangannya kini telah ada di depan wajahku.
Aku tersenyum, begitu total dia memainkan perannya untuk membantuku.
"Assalaamu'alaikum, selamat pagi. Aku sengaja membawakanmu bunga mawar ini untukmu. Karena aku tahu, mawar ini begitu indah. Namun keindahannya tiba-tiba sirna tatkala aku melihatmu."
Aku tersenyum. Akhi Ahmad tak pernah berubah, selalu membuatku tersenyum dengan tingkahnya. Namun aku baru menyadari, kalau ternyata dia sosok yang romantis.
Sampailah kami di sebuah toko buku dan mulai mencari buku yang diinginkan.
"Akhi, antum mau tahu sesuatu? Sepertinya Yusuf mulai cemburu kepada akhi."
"Heump ... benarkah? Bukankah itu bagus?" Jawabnya sembari tetap mencari-cari buku yang dikehendakinya.
"Na'am. Tapi ana sedih karena dia masih belum juga mengingat ana."
"Pelan-pelan saja. Tak usah terlalu terburu-buru."
Akhi Ahmad kemudian mengambil sebuah buku dan diberikan kepadaku.
"Ini untukmu."
"Rahasia tahajjud?"
"Iya, bacalah buku ini dan pahami. Maka antum akan sadar apa yang harus antum lakukan."
"Afwan, Ana kurang mengerti."
"Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "Ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah SWT berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan kabulkan permintaannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa yang minta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.(HR Bukhari dan Muslim)."
Aku mengangguk dan tersenyum. Begitupun dengannya. Kami memutuskan pulang setelah berhasil mendapatkan buku yang kami cari. Saat memasuki rumah, kudapati Yusuf dan Kat sedang duduk bersama sembari menonton TV.
Mereka terlihat begitu mesra. Hatiku kembali tersulut api cemburu.
"Assalaamu'alaikum." Kuucapkan salam kepada mereka.
"Wa'alaikumussalam, sudah pulang?" Jawab Yusuf.
"Kenapa dia di sini?" Tanyaku kebingungan.
"Kenapa? Tidak boleh? Bukankah ini juga rumah kekasihku?" Jawab Katherine sembari tertawa kecil.
"Aku minta kamu keluar sekarang!" Tegasku.
Wajahku mulai terasa panas karena menahan emosi. Namun Ahmad menenangkanku.
"Hei, kamu tidak berhak mengusirku. Kecuali Yusuf yang meminta, baru aku akan pergi. Bukankah begitu, sayang?" Katanya kepada Yusuf sembari memegang pipinya.
"Iya dia benar, dia kekasihku. Jadi dia berhak di sini," tambah Yusuf.
Aku seperti hilang kendali. Kudekati mereka dan kutarik paksa tangan Kat untuk mengantarkannya keluar. Namun, Yusuf seketika menahan lenganku dan menghempaskan tanganku dari tangan Kat.
"Yusuf, kamu ...?" Seolah tak percaya yang dilakukannya.
Kat tersenyum puas.
"Khumairah, sebaiknya kamu pergi. Pergilah bersama lelaki itu," ucap Yusuf sembari menunjuk ke arah pintu.
"Kamu tidak dengar? Pergi sekarang!" Kat yang sedari tadi berpangku tangan lantas mendorongku hingga terjatuh tersungkur ke lantai. Akhi Ahmad segera berlari dan menolongku.
"Hei, Nona! Bersikap lah dengan sopan!" Nada akhi Akhmad sedikit meninggi.
"Kamu diam! Tak usah ikut campur!" Yusuf yang keadaannya semakin membaik lantas berdiri dan mendekati Ahmad.
"Bawa dia pergi!" Teriak Yusuf
Buuuuugg ...
Seketika akhi Ahmad kehilangan kendali dan melayangkan satu tonjokan ke wajah Yusuf. Alhasil Yusuf jatuh dan kepalanya membentur sudut meja. Seketika dia tak sadarkan diri.
"Yusuf ..." teriakku bersamaan dengan teriakan Kat. Sementara akhi Ahmad tak sadar dengan apa yang sudah dilakukannya.
Yusuf segera dilarikan ke rumah sakit. Dan menunggu dokter yang sedang menanganinya. Seketika Kat bangkit dari kursi dan menghampiri Akhi Ahmad.
"Ingat, ya! Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Yusuf, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu kepihak berwajib!" Ancam Kat kepada akhi Ahmad sembari menunnuk wajahnya.
Kini kami bertiga berada di kamar tempat Yusuf terbaring. Aku tak henti-hentinya berdoa atas kesembuhan Yusuf. Lantunan ayat suci Al-Quran dikumandangkan. Berharap Yusuf sadarkan diri.
"Yusuf ..." Kat segera menghampiri Yusuf yang mulai sadarkan diri.
"Kat ...?"
"Iya sayang, aku di sini," katanya membelai rambut Yusuf.
Aku bangkit berdiri dari kursi. Kuputuskan untuk pergi ke luar ruangan dengan rasa sedih.
"Khumairah, kamu mau ke mana sayang?"
Mendengar itu seketika aku berhenti dan berbalik badan.
"Kemarilah sayang, kamu mau ke mana?" Ajak Yusuf.
Aku menangis terharu. Akhirnya dia bisa mengingatku. Sementara itu, Kat kaget dan merasa kesal. Akhi Ahmad tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDADARI DUNIA
RomanceYusuf bersedia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang wanita bercadar yang bernama Khumairah, akhirnya memilih untuk menikahinya tanpa berlandaskan cinta. Namun, dikarenakan harta warisan kedua orangtuanya yang akan jatuh ke panti sosial...
