“Yusuf, dengarkan aku dulu. Ini tak seperti yang kamu pikirkan!” Khumairah terus berusaha menjelaskan sembari mengikutiku dari belakang.
Aku berhenti dan membalikkan badan. Kutatap wajahnya dengan tajam.
“Tak seperti yang kupikirkan? Jadi kamu pikir aku salah paham? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kalian tertawa bersama. Suami mana yang tak marah ketika melihat isterinya bersama lelaki lain malam-malam seperti ini?” Kataku dengan senyum sinis.
“Tolong dengarkan aku, biarkan aku menjelaskan!” Khumairah menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku mengembuskan napas panjang. Memberinya sedikit waktu untuk menjelaskan.
“Apa kamu ingat janji kita sore ini? Aku menunggumu berjam-jam lamanya sampai memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke rumah. Tapi di tengah jalan aku diganggu dua orang jahat. Sampai pada akhirnya akhi Ahmad kebetulan lewat dan menolongku.”
Mendengar itu aku langsung bertepuk tangan.
“Wah ... wah. Sandiwara yang hebat, benar-benar kebetulan ya? Gelang itu darinya juga kan? Jangan bilang kalau itu juga kebetulan.”
Kulihat gelang itu masih terpasang di pergelangan tangannya.
“Bukankah ini darimu? Kenapa kamu tak percaya kepadaku?” Sudut matanya kembali berlinang butiran-butiran air mata.
“Halah ... omong kosong. Ini hanya alasanmu saja. Karena, tak sekalipun aku memberikan gelang itu kepadamu. Dan gelang ini, percuma aku mengambilnya dari Kat kalau ternyata kamu sudah punya gelang dari laki-laki lain.”
Aku mengambil gelang dari sakuku. Gelang dari Kat yang sengaja untuk kuberikan kepadanya. Kuperlihatkan kepadanya, dan tak lama gelang itu kulemparkan entah kemana.
Aku kembali pergi meninggalkan rumah dan memutuskan kembali ke kediaman Kat. Sedangkan Khumairah, hanya bisa menangis saat kutinggal pergi.
Aku tiba di kediaman Kat. Kudapati dia sedang asyik menghisap rokoknya. Entah sejak kapan dia jadi pecandu rokok. Kudekati dan segera kuambil rokok dari bibirnya. Kemudian kupatahkan.
“Berhentilah merokok. Tidak baik untuk kesehatanmu.” Aku membelai rambutnya yang panjang.
Kat tersenyum, kemudian memelukku erat.
“Katakan, kenapa kamu kembali ke sini lagi? Bukankah kamu ingin bersamanya?”
Aku kembali teringat kejadian itu. Rasa kesal masih menyelimuti hatiku. Apalagi mengingat wajah lelaki itu.
“Tidak apa-apa, hanya saja ....” aku kemudian terdiam sejenak.
“Hanya apa? Terjadi sesuatu?” Kat melepaskan pelukannya.
Aku mengangguk dan menceritakan semua kepadanya.
“Ceraikan saja dia, kemudian kita menikah dan hidup bahagia,” ajak Kat.
****
Aku masih terduduk di kursi di ruang tamu sendirian sembari berlinang air mata. Masih teringat kata-kata yang telah dilontarkan Yusuf kepadaku. Bagaimana mungkin dia sedikit pun tak mempercayai ucapanku. Kuseka air mataku yang masih tak mau berhenti.
Aku kemudian memutuskan untuk mencari
gelang, gelang yang telah Yusuf lemparkan entah kemana. Gelang yang semula untukku. Namun tak kutemui gelang itu. Hingga pada akhirnya, mataku tertuju pada kolam renang. Ya, gelang itu ada di dalam kolam renang.
Lantas bagaimana aku mengambilnya sedangkan aku tak dapat berenang?
Aku terus mencari ide agar dapat meraih gelang itu. Kucoba menggunakan jala yang digunakan untuk membersihkan kolam renang. Namun sia-sia.
“Mau tak mau aku harus turun ke kolam renang untuk mengambilnya sendiri,” pikirku dalam hati.
Sedikit ragu untuk melakukannya, namun tak ada cara lain. Aku mulai memasuki kolam perlahan-lahan yang tinggi airnya dua meter.
Air kini telah sampai di leherku, namun gelangnya belum bisa kuraih. Aku terus maju dan maju mendekati gelang itu dan menyelam untuk mendapatkan gelang itu.
Gelangnya berhasil kugenggam. Namun, aku
tak dapat kembali ke permukaan. Sedikit demi sedikit air mulai memasuki tubuhku. Aku mencoba untuk menggerak-gerakkan tubuhku berharap terangkat ke permukaan. Namun sia-sia. Perlahan-lahan aku mulai kehabisan napas. Perlahan-lahan pandanganku memudar. Dan seketika, semua menjadi gelap.
****
“Aku harus pergi,” kataku kepada Kat sembari mengenakan kembali pakaianku.
“Mau kemana?” Kat mengucek matanya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
“Pulang, menemui Khumairah. Perasaanku tidak enak. Takut terjadi sesuatu.”
“Ya sudah, pergilah. Jangan lupa tutup pintunya.”
Aku memacu kendaraanku secepat mungkin. Tak tenang rasanya. Sesampainya di rumah, kulihat mobil lelaki itu kembali terparkir. Aku berlari dan mencari Khumairah.
Dan ketika kutiba di taman belakang, kutemui lelaki itu seperti hendak mencium bibir Khumairah. Sedangkan Khumairah tampak tak sadarkan diri.
Kudekati lelaki itu dan kulayangkan kembali pukulan demi pukulan kepadanya. Sampai akhirnya dia tak mampu berdiri.
“Brengsek, kamu apakan istriku?” sembari mencengkeram kerah baju miliknya.
“Ya akhi, ini salah paham. Khumairah pingsan. Kudapati dia tenggelam di kolam. Jadi aku berniat untuk memberinya pertolongan pertama. Tak ada waktu, segera beri napas buatan untuknya kalau masih ingin melihatnya hidup” katanya terbata-bata.
Aku segera melakukan apa yang dibilang oleh lelaki itu. Kuberi napas buatan untuknya. Dan tak lama, Khumairah sadarkan diri. Air mulai keluar dari mulutnya. Di tangannya, kulihat gelang yang kulemparkan tadi.
Kupeluk tubuhnya yang masih lemas. Dan dia, kembali menangis saat melihatku. Tak lama ambulance datang setelah kutelepon dan mengantarkan Khumairah menuju rumah sakit.
Sedangkan lelaki itu, kubiarkan dia turut mengantar masuk kedalam mobil. Sembari mengobati wajahnya yang babak belur karena ulahku.
CATATAN HATI KHUMAIRAH :
Biarkan aku menjaga hati ini.
Biarkan aku terluka dengan keadaan ini.
Kalau dengan hati yang lain kamu temukan bahagia.
Biarkan aku, tetap mencintaimu.
Sampai waktu yang akan berbicara.
Waktu pula yang akan memisahkan kita.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDADARI DUNIA
RomanceYusuf bersedia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang wanita bercadar yang bernama Khumairah, akhirnya memilih untuk menikahinya tanpa berlandaskan cinta. Namun, dikarenakan harta warisan kedua orangtuanya yang akan jatuh ke panti sosial...
