Bab XV Akhir Cerita Cinta

4.8K 116 35
                                        

Aku terdiam, masih memikirkan semua tulisan akhi Ahmad. Ternyata sudah sejak lama dia menyukaiku. Namun tak pernah sekalipun diungkapkan. Tiba-tiba saja Yusuf suamiku datang memelukku dari belakang dan mengecupku.

"Ya zaujati, sedari tadi aku melihatmu termenung. Ada yang kamu pikirkan?"

Yusuf kemudian duduk di hadapanku.

"Ya Ruhi, sebenarnya memang ada yang mengganggu pikiranku. Ini tentang akhi Ahmad. Ternyata selama ini, d menyimpan rasa kepadaku."

Yusuf menatap wajahku dengan serius. Aku menggenggam tangannya erat.

"Aku baru tahu kemarin, namun aku menganggapnya hanya sebagai kakak. Tidak lebih."

"Iya, aku tahu."

Yusuf kemudian mengusap kepalaku dengan lembut. Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Aku dan Yusuf segera membuka pintu. Seketika aku ketika melihat yang datang adalah Kat.

"Kat ...?" Kata Yusuf yang tak kalah kaget denganku.

"Yusuf, Khumairah, maafkan aku. Aku tahu kalau aku tak pantas untuk dimaafkan. Sebenarnya yang memberikan gelang kepada Khumairah adalah aku. Seolah-olah gelang itu dari lelaki lain. Maafkan aku, juga sekaligus ingin pamit. Aku ingin pulang ke Bali."

Aku dan Yusuf tersenyum. Aku langsung memeluk Kat.

"Alhamdulillah kalau kamu sudah menyadari dan mengakui semuanya. Aku sudah memaafkanmu, Ukhty," sembari berbisik ke telinganya.

"Terima kasih. Khumairah, boleh aku memeluk Yusuf untuk terakhir kalinya?" Pinta Kat kepadaku.

Aku mengangguk. Kat kemudian memdekati Yusuf dan memeluknya.

"Yusuf sayang, maafkan aku. Kalaupun aku tak dapat memilikimu, maka yang lain pun tak ada yang boleh."

Jlebbb ...

Seketika Kat menancapkan belati  perut Yusuf. Darah Pun mulai mengalir.

"Kat ... apa yang kamu ...?"

"Kamu pantas mendapatkannya, sayang."

Kat tertawa lepas. Dan kembali menghunuskan belati itu ke perut Yusuf, dan mendorongnya ke lantai.

Tanpa membuang waktu, dia segera tancap gas dan melarikan diri.

"Yusuf ...!" Aku pun  berteriak meminta tolong.

****

Aku terus melantunan ayat-ayat suci Al-Quran di dekat telinga Yusuf. sudah tiga hari dia tak sadarkan diri. Aku berhenti melantunkan ayat-ayat Al-Quran ketika ku melihat ada ada butiran-butiran air mata yang mengalir di sudut matanya.

"Aku tahu kamu mendengarku sayang. Bangunlah, ayo bangun ... bangun!"

Aku mulai menangis, sudah tiga hari Yusuf tak sadarkan diri. Aku menangis sesegukan dan kubenamkan kepalaku di pinggir tempat tidur yang Yusuf tiduri.

Seketika kurasakan seseorang membelai rambutku. Aku mengangkat kepala untuk memastikan,dan kulihat Yusuf tersenyum kecil kepadaku.

"Akhi ahmad...."

Aku membangunkan akhi Ahmad yang sudah tertidur. Perlahan Yusuf memandang dan  menggenggam tanganku. Kemudian beralih ke akhi Ahmad. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, dia menyatukan tangan kami berdua seolah tanganku dan tangan akhi Ahmad saling menggenggam.

Sementara aku dan akhi Ahmad kebingungan, Yusuf kembali tersenyum dan memejamkan matanya kembali.

Satu tahun berlalu semenjak insiden itu, akhirnya Kat digotong ke kantor polisi setelah satu tahun menjadi buronan bersama orang yang kucintai.

"Sayang, mari kita pulang," ajak suamiku.

Rintik hujan mulai turun. Takut aku kehujanan,suamiku memelukku dengan tangan kirinya untuk lebih dekat dengannya. Sementara tangan satunya memegang payung agar kami tak kehujanan.

Sebelum aku benar-benar berlalu, aku menatap kembali pusara yang telah kubersihkan rumput liarnya. Menaburinya kembang, dan membacakan doa-doa untuknya. Ya, pusara dengan batu nisan yang tertancap sebuah nama Yusuf bin M.Fathir.

TAMAT

BIDADARI DUNIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang