Khumairah mulai memberesi barang bawaannya dan bersiap-siap untuk pulang. Kemudian aku muncul di balik pintu.
“Apa kamu marah?” Sapaku melihat Khumairah yang sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
Khumairah tetap bungkam. Dia mulai menyeret koper berwarna ungu dengan ukuran 20 inch tersebut dan melewatiku.
“Maafkan aku, jangan pergi,” pintaku kepadanya. Namun dia mengacuhkanku, sampai pada akhirnya, jurus pamungkas pun kukeluarkan agar hatinya luluh.
“Aku punya cokelat, apa kamu mau?”
Khumairah menghentikan langkahnya ketika mendengar kata cokelat.
"Taktikku berhasil,” kataku dalam hati.
Khumairah membalikkan badan dan menatapku. Dilihatnya sebatang cokelat ukuran besar yang kugenggam. Aku tersenyum kepadanya. Namun, tak ada senyum di wajah yang terbilang manis itu.
Dia menghampiriku dan hendak merebut cokelat di tanganku. Seketika aku refleks mengangkat tangan agar cokelat tak bisa direbutnya. Bahkan, dia melompat-lompat agar kakinya dapat meraih cokelat itu.
Akhirnya dia menyerah. Tingginya yang hanya 155 cm tak dapat menjangkau serta kesulitan untuk meraih makanan kesukaannya.
“Berikan cokelatnya!” masih dengan nada dingin.
“Dengan satu syarat, kamu harus memaafkanku. Bagaimana? Setuju?”
Khumairah nampak berpikir sejenak. Aku tahu telah menyakiti perasaannya. Jadi wajar saja, kalau dia marah kepadaku.
Dia mengangguk, aku pun tersenyum puas seolah memenangkan pertarungan. Tak menyangka semudah ini meminta maaf kepadanya. Hanya dengan cokelat, dia memaafkanku.
Aku memberikan cokelat itu. Raut wajahnya begitu senang. Cokelat yang baru saja diambilnya, segera dilahap. Tanpa dia sadari, bibir mungil itu belepotan penuh dengan cokelat.
Kuambil tisu yang ada di saku celana, dan memberikan kepadanya yang masih asik menikmati cokelat.
“Apa semudah ini meminta maaf kepadamu? Cukup diberi cokelat, dan kamu ... lantas memaafkanku begitu saja,” Kataku sambil geleng-geleng.
“Bukan karena cokelatnya, tapi karena Allah. Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Dia yang punya langit dan bumi saja, masih mau memaafkan hamba-hamba-Nya yang berdosa. Lantas siapa aku? Hanya manusia yang berdosa yang mengharapkan ampunan-Nya. Tak pantas rasanya marah. La taghdob walakal Jannah. Jangan marah bagimu surga.
Bukankah itu sudah di jelaskan?” Menatapku dan tersenyum. Dia melanjutkan melahap cokelat pemberianku.
Aku sedikit takjub mendengar kata-katanya. Pantas saja umi begitu membanggakan Khumairah. Ternyata ini alasannya.
“Lantas, darimana kamu tahu kalau aku menyukai cokelat?” Tanyanya balik.
Aku tersenyum.
“kamu mau tahu? Kemarilah, biar kubisikkan.”
Khumairah menurut. Dia mendekat dan mengarahkan telinga kirinya ke bibirku.
“Rahasia!” bisikku ke telinganya.
Aku tertawa dan menuju ke cafe untuk melanjutkan sarapan yang sempat tertunda tadi. Sedangkan Khumairah, nampak jelas kekesalan di wajahnya.
“Terima kasih ibu mertuaku. Kalau bukan karenamu, mungkin wanita bercadar ini masih marah.”
****
Malam ini aku dan Khumairah berniat membeli oleh-oleh untuk keluarga di sana. Kami mulai memasuki toko pernak pernik souvenir dan memilah-milah barang yang unik menurut kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIDADARI DUNIA
RomantikYusuf bersedia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang wanita bercadar yang bernama Khumairah, akhirnya memilih untuk menikahinya tanpa berlandaskan cinta. Namun, dikarenakan harta warisan kedua orangtuanya yang akan jatuh ke panti sosial...
