The Way 3

123 6 0
                                    

Day after day, time pass away

Dua minggu sudah kulalui di rumah sakit ini, tinggal dalam kesendirian. Diana, suster yang mengurusiku, masih sering membawaku ke kelompok bermain. Aku tidak ingin, tapi aku tidak bisa menolak. Tylar masih sering menunjuk-nunjukku ketika mentor memberikan perhatian sedikit lebih padaku, bermula dari hari itu. Ingatannya sangat kuat, bahkan ketika aku sulit mengingat karena apa dia marah padaku.

Baru kuketahui kemarin kalau anak-anak itu, penderita OCD. Justin yang sudah berada di rumah sakit selama setahun, terapi berulang kali dan kini dia hampir sembuh. Aku tidak tahu bagian mana yang menyakitinya hingga dia dikatakan sakit. Pantas saja tangannya tipis dan kasar, dia sering mencucinya bahkan sampai ratusan kali sehari, tidak peduli kotor atau tidak. Dia pasti tersiksa, melakukan hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Seharusnya namanya terkurung bukan sakit.

Hidupnya sangat memrihatikan, untung aku tidak seperti dirinya.

Hari ini pakaianku berganti, tidak lagi biru seperti biasanya. Mentor memberiku baju seragam di kelompok bermain yang diciptakannya, berwarna merah muda dengan namaku di bagian depan. Maegan West. Sesi terapi ke tiga akan kujalani sebentar lagi, hanya menunggu Diana membawaku keluar dari kamar. Dari tempat aneh ini.

“Selamat pagi Mae.” Suara itu membuatku sedikit tersentak. Diana menyembul dari balik pintu. “Pagi ini pagi yang indah Mae, apa kamu sudah mengucapkan selamat pagi pada dunia?” aku tidak tahu bagian mana yang menurutnya indah, tapi menurutku senyumannya yang indah.

Diana memasuki ruangan ini, berjalan mendekat ke arahku yang duduk di ranjang. Meletakkan kertas-kertasnya di meja dan mengecek segala sesuatu di kamarku. Aku hanya memerhatikan dan kemudian mengalihkan pandangan pada jajaran keramik di lantai.

You are different in the way worse.

You should not be here.

 

Go to the hell.

 

Bayangan diriku di keramik putih itu menertawaiku, mengatai-ngataiku dan aku tidak bisa melakukan apapun. Senyuman mereka mengejek.

“Di,” entah keberanian dari mana aku memanggilnya, lirih hingga kupikir dia tidak mendengarnya. Namun ternyata dia mendengar dan menjawab panggilanku.

“Ada apa Mae?” Diana beralih padaku dari kamera cctv di dinding atas, untuk selanjutnya menaruh kertasnya di meja dan mendekat ke arahku, duduk di sebelahku. Dia membelai rambutku pelan hingga aku bergeser sedikit menjauh darinya, tidak ingin di sentuhnya.

Kudongakkan kepalaku ke arahnya, mencoba mengeluarkan suaraku yang tercekat di tenggorokan. “Apa yang akan kau lakukan jika ayahmu meninggal?” Aku tidak tahu hal apa yang membuatku sedih, tapi menyebut nama ayah membuat lubang di hatiku terbuka, menyeruak dan menimbulkan bau kematian.

Diana tersenyum samar, “Mungkin aku akan menangis.”

“Setelah kau lelah menangis, apa lagi yang akan kau lakukan?”

“Bersenang-senang.”

The WayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang