Sulit melihat mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi.
Pagi-pagi sekali aku bangun dan kepanikan langsung menghantam diriku, kertas-kertas yang semalam kucoreti hilang entah kemana. Jam baru menunjuk pada pukul empat yang artinya aku baru tertidur selama dua jam. Bagaimana jika kertas-kertasku dicuri? Seharusnya kertas itu berserakan di sekitarku, seharusnya aku menyelesaikan tulisan-tulisanku bukan malah tertidur seperti ini. Bagaimana jika mereka marah padaku?
Beranjak dari ranjang, aku berdiri lalu berjalan ke arah lemari. “Semoga ada.” Kuucapkan harapanku sembari membuka pintunya dengan perlahan. Namun nihil, tak kudapati apa yang kucari, hanya ada setumpuk pakaian dan surat-surat lama yang kuletakkan di bawah lemari.
Napasku semakin memberat begitu kualihkan pandangan ke arah lain, tetap tak kutemukan kertas-kertas itu. Ingin kuabaikan suara di kepala yang terus memerintahku, namun aku tak bisa mengontrol diriku sendiri untuk sekedar mengatur napas. Napasku tak karuan, ini menyesakkan. Semua perasaan menyakitkan itu datang lagi, aku dikendalikan lagi.
Jendela di atas kepala ranjang itu bergerak membuka, disusul hujan yang turun dengan derasnya secara tiba-tiba, memicu suara berisik dan gesekan dahan-dahan cemara yang menakutkan. Ketegangan dalam diriku semakin menjadi kala angin di luar semakin ganas berputar, tetesan-tetesan air masuk melalui jendela yang terbuka, membanjiri lantai yang kududuki. Genangan air itu semakin meninggi dan mulai merangkak naik melewati kakiku, membasahi pakaianku. Belum pernah aku terjebak dalam situasi seperti ini, aku pasti akan mati tenggelam karena aku sama sekali tidak bisa bergerak untuk menghindar.
Udara yang kuhirup namun sesak yang kurasakan, mendadak dadaku seperti terbakar, apa yang telah kuhirup termuntahkan lagi menjadi air. Aku benar-benar tenggelam ketika air sudah mencapai batas hidungku. Masih kupaksakan untuk bernapas melalui mulut, namun setiap kali mulutku terbuka justru air yang semakin banyak masuk ke tubuhku. Inikah akhirnya? Semua orang meninggalkanku dan aku mati oleh kebodohanku sendiri. Kubiarkan diriku dihanyutkan oleh hal yang tidak kumengerti, aku memang tidak pernah bisa menjalani kehidupanku sendiri. Samar-samar kudengar sebuah suara dari kejauhan memanggilku berulang-ulang dengan cara yang sangat lembut.
“Mae, bangun.” Suara Noah, berkali-kali dia memanggilku. Namun apakah dia masih mau berteman denganku setelah aku menyakitinya? Mengapa dia memintaku untuk bangun, apa aku tertidur lagi?
“Mae, mengapa tidur di lantai? Ayo bangun.” Suara itu semakin terdengar dekat dan kurasakan tepukan halus di lenganku., maka pelan-pelan kubuka mata. Awalnya segala hal tampak buram namun perlahan-lahan menjadi jelas seiring kesadaran yang menjemputku. Kutemukan kaki jenjang Noah berada di depanku. Noah kemudian turut jongkok di hadapanku, kami sama-sama duduk jongkok di atas lantai kamarku yang kering. Sama sekali tidak ada air. Tidak ada hujan, jendela kamar tidak terbuka, aku tidak terggelam dan belum mati. Aku hanya tertidur dan bermimpi. Mimpi yang aneh.
“Mengapa tidur di sini?” tanya Noah halus. Tatapannya yang menenangkan memberikan rasa aman untukku.
“Kau tidak pergi kan?”
“Pergi?”
“Iya.” Kutundukkan pandanganku, menatapi jemariku yang penuh coretan pena. Aku malu padanya terlebih pada diriku sendiri, hanya karena aku tidak bisa mengendalikan diriku hingga akhirnya bermimpi aneh semakin membuatku ketakutan. Ketakutan akan kehilangan Noah yang sesungguhnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Way
Teen FictionMaegan West merasa dirinya berbeda dari gadis remaja seusianya. Ketika teman-temannya menghabiskan setengah waktunya di sekolah dengan canda tawa, Mae justru harus rela tinggal di rumah sakit jiwa dan menjalani terapi. Gadis ini tidak pernah ingat h...