Ketika kau bahkan takut untuk memejamkan mata, maka di sinilah aku.
Mandi tidak berpengaruh dalam hidupku. Aku bahkan takut menyentuh air ketika air-air itu bergelombang dan ingin menelanku. Desir angin yang menelusup masuk melalui ventilasi terdengar makin kencang dan membawa suara gemerisik, suara yang mirip sebuah tangisan pilu di tengah malam dan memanggil-manggilku. Aku bahkan tidak menikmati waktu tidurku.
Kuubah posisiku menjadi bangun, bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah lemari.
Tidak ada yang menarik dengan lemari berpintu dua yang berbuat dari jati ini, tidak lebih bagus dan tidak lebih besar dari lemari di kamarku. Kuelus pinggiran lemari yang berpelintur rapi, membaui wangi cat yang menyerbak ketika jari-jariku masih menari di atasnya. Ada sesuatu yang tidak kukenali di sana, bayanganku di cerminnya.
Wajah pucat datar dengan bibir yang mengerut, kantung hitam di sekitar mata, tubuh yang kurus ceking dalam balutan baju berwarna abu-abu, aku lupa sejak kapan wujudku sedatar dan semengerikan ini. Kupejamkan mataku dan merasakan kalau ternyata aku juga tidak hidup, tidak hidup dalam diriku sendiri.
Tidak menangis dan tidak tersenyum, tidak hidup dan tidak di inginkan. Sulit untuk meyakini kalau aku berhak hidup ketika aku mendengar sendiri bagaimana mom berbicara dengan laki-laki itu, kehadiranku adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Empat belas tahun yang lalu, dua puluh tiga-Maret-dua ribu, Maegan West seharusnya tidak lahir dan menjadi beban bagi orang lain.
Kuulurkan tanganku menyentuh cermin, menyatukan tanganku dengan tangan bayanganku. Tangan penuh luka, tangan ini bukan tangan ayah, bahkan aku tidak tahu siapa daging siapa yang membentuk tubuhku selain milik mom. Aku tidak mengenali siapa diriku sendiri, dari mana aku berasal dan untuk apa aku hidup di dunia ini. Lahir dari ketidaksengajaan dan tidak pernah diinginkan oleh siapapun, tidak punya tujuan dan...seharusnya aku tidak hidup.
Aku tidak diinginkan karena aku tidak berguna dan menyusahkan, ayah pergi karena aku anak bandel, mom meninggalkanku di tempat sampah ini karena aku mempermalukannya, tubuhku dikuasai setan karena aku tidak berhak hidup, suara itu menghilang karena aku bukan teman yang baik. Aku ingin mati dan menghilang.
Aku ingin mati, bagaimana cara ayah mati, bagaimana cara orang-orang mati, mengapa aku tidak mati saja? Aku tidak diinginkan dan,
“Argh...” kulayangkan pukulan ke arah cermin. Aku benci diriku sendiri, Mae tidak seharusnya lahir dan menambah sampah di tempat ini. Aku....aku
Suara yang seharusnya keluar dengan teriakan tercekat begitu saja di tenggorokan dan menyakitkan, di telan oleh isakan yang diiringi air mata. Aku menangis, lagi. Di kamar kecil ini, berdua dengan bayanganku dan terisak dengan pilu, ditemani detak jarum jam yang tidak ingin kudengar, aku ingin mati dan menghilang. Namun aku terlalu payah untuk melakukannya, aku tidak mati ketika dulu aku mencobanya, bahkan cermin yang kupukul tidak pecah. Seharusnya cermin itu pecah berantakan dan kugunakan pecahannya untuk menggores nadiku. Mae benar-benar payah dan tidak bisa melakukan hal-hal sesukanya, tidak diijinkan hidup dan tidak dibolehkan mati.
Terisak sekali, aku merosot memunggungi lemari, bersandar di pintunya dengan keadaan meringkuk dan memrihatikan. Bulir-bulir air mata jatuh dan membasahi celanaku, jatuh semakin banyak seiring dengan kesesakan di dada. Mendapati kenyataan aku tidak ingin menangis namun aku menangis membuatku seperti kucing yang dirantai dan siap si penggal, aku tidak bisa menguasai diriku sendiri. Mae tidak pernah menginginkan hidup seperti ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Way
Teen FictionMaegan West merasa dirinya berbeda dari gadis remaja seusianya. Ketika teman-temannya menghabiskan setengah waktunya di sekolah dengan canda tawa, Mae justru harus rela tinggal di rumah sakit jiwa dan menjalani terapi. Gadis ini tidak pernah ingat h...