The Way 11

48 4 0
                                    

Bab 11

Heart, hurt, hole.

Obat rumah sakit tidak memberiku pengaruh untuk cepat tidur meskipun mataku sangat berat. Aku sebenarnya tidak mau meminum obat itu karena aku tidak ingin tidur dan aku sendiri tidak pernah merasa sakit. Ya, hanya tanganku yang di perban karena suatu hal yang tidak aku tahu. Kemarin sore, sepulang dari padang ilalang bersama Justin merupakan hal menyesakkan bagiku. Diana menangis sampai matanya membengkak setelah tahu aku menghilang dan tak kunjung kembali, bahkan aku juga sempat mendengar isu kalau Diana di panggil kepala rumah sakit ini karena di anggap tidak becus mengurusku. Aku membuatnya terjerat banyak masalah karena hal kecil yang kulakukan. Bagaimana kalau dia sampai di pecat karena hal ini? Bagaimana kalau dia marah padaku dan ingin membunuhku? aku tidak ingin sendiri, aku takut. Aku takut jika aku sendiri maka tidak ada yang membantu membebaskanku dari perasaan-perasaan itu. Jika aku sendiri....

Pemikiran-pemikiran itu hilang-timbul di benakku dan meresahkan, oksigen yang kuhirup namun duri yang kurasakan. Aku tersedak oleh duri yang berubah menjadi bara api dan mulai membakar diriku dari dalam. Kutengokkan kepalaku ke arah jendela yang tirainya sedikit tersibak, pukul dua dini hari dan aku belum tidur. Bintang-bintang yang bertaburan di langit malam bersinar terang memasuki kamarku, mengintipku. Bagaimana jika mereka adalah jelmaan iblis yang mengintaiku? Bagaimana jika mereka jatuh dan menimpaku? Segala pemikiran aneh itu muncul lagi dan aku jadi tidak berani menatap apapun, kutundukkan kepalaku bersamaan dengan airmata yang menetes di kaki.

Seharusnya aku tidak membuat Diana dalam masalah hingga dia tidak mengantarku sampai kamar seperti tadi. Seharusnya aku tidak melakukan hal bodoh dengan menghilang ke padang ilalang. Seseorang sepertiku tidak berhak marah pada siapapun, aku merepotkannya dan mungkin akan ada hal buruk yang akan menimpaku setelah ini karena karma. Aku kehilangan orang yang kusayangi lagi karena diriku sendiri.

Gelisah karena pemikiran ini tak kunjung hilang, kuubah posisiku dari duduk menjadi berdiri dan berjalan menuju lemari. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menyentuh benda itu karena selalu Diana yang memilihkan baju apa yang akan kupakai dan mengurusi semua keperluanku. Apakah Diana masih akan peduli denganku setelah kejadian yang membawanya pada masalah? Aku tidak tahu dan kuharap jawabannya masih.

Lemari menampilkan isi yang rapi ketika tanganku membukanya, tumpukan baju warna-warni, kertas-kertas yang ditempelkan Diana sebagai jadwal, dan juga di bagian bawah adalah surat-suratku. Tanganku teralih untuk mengambilnya, sekitar puluhan surat teraup tanganku. Aku menjatuhkan diriku di depan lemari, mencari posisi pas untuk membaca.

Cahaya lilin terapi yang kupasang tepat di sampingku memberi pencahayaan rendah dan kertas-kertas yang kupegang jadi berbayang. Aku jadi ingat Noah kalau seperti ini, dulu aku jarang menulis surat ketika aku bisa menceritakan masalahku pada Noah. Noah adalah teman terbaik yang selama ini kupunya, aku tidak akan pernah menyakitinya. Kembali pada surat, kuletakkan surat-surat lainnya di lantai dan menyisakan satu di tanganku. Perlahan aku membuka lipatannya hingga menampilkan tulisan yang kukenal.

Apa kau lupa, aku bagian darimu. Aku ada karena kau juga, darahmu mengalir di tubuhku.

Kata-kata penyusun kalimat ini begitu menarik perhatianku karena ditulis dalam huruf besar-besar dan sangat kacau, aku yakin ini tulisan tanganku namun aku tidak ingat karena apa aku menulis surat ini. aku tidak mau melanjutkannya karena ternyata sebaris tulisan itu punya mantra yang menyakitiku, dadaku seperti di tusuk oleh pisau yang aku sendiri tidak tahu datang dari mana.

The WayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang