The Way 8

41 5 0
                                    

Kurasa ini bukan diriku lagi.

Hari-hariku berjalan lambat seperti keong sekarat selama tinggal di sini. Jam terus berdetak mengubah siang menjadi malam namun aku sama sekali tak merasakan perubahan signifikan. Perasaan dan pikiranku masih sama seperti hari-hari sebelumnya dan aku benar-benar tidak tahan. Aku ingin berlari dan terjun untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang menyiksa dan terus menguasaiku. Potongan-potongan mengerikan itu sering datang, di susul perasaan cemas dan takut luar biasa yang memaksaku untuk meringkuk dan menangis di pojok kamar.

Sesi ke lima dengan dokter Liam yang seharusnya kujalani kemarin terpaksa harus di tunda karena aku menangis sepanjang siang, menangis bodoh dan begitu menyedihkan. Aku mencoba untuk menekan perasaan anehku untuk tidak menyusahkan orang lain, namun nyatanya aku sendiri tidak bisa mengendalikan diriku. Aku selalu menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal-hal aneh yang tidak aku mengerti, melupakan banyak hal, merepotkan banyak orang, berakhir dengan tinggal di tempat ini dan menjadi beban bagi dokter Liam dan Diana. Aku tidak pernah meminta ini, sudah terlalu banyak Diana menghabiskan kertasnya untuk mencatat setiap tingkah aneh dan semua kegiatan yang kulupakan dan pastinya ini sangat merepotkannya. Sekali lagi kuingatkan, aku dikendalikan dan membiarkan diriku terus disiksa oleh rasa sakit di dada yang tidak kuketahui datang dari mana.

Aku benci hidupku sekarang.

“Mae.” Aku hampir melompat dari ranjang ketika kudapati suara Diana.

“Kau sudah menyelesaikan makanmu kan? Kita ke ruang dokter Liam sekarang ya, beliau sudah menunggu.” Sejurus dengan itu Diana menekan tombol yang tertanam di dinding dan melakukan panggilan, berbicara dengan seseorang di seberang sana kalau aku sudah menghabiskan makanku dan bekasnya bisa diberesi sekarang. Aku hanya memerhatikannya dari tempatku di ranjang. Aku baru sadar aku makan sendiri, dengan tanganku sendiri. Sengaja tadi aku menyuruh Diana untuk membawa makanku ke kamar karena aku sedang ingin bersama Noah di kamar ini. Namun sekarang aku tidak tahu Noah dimana setelah tadi kulihat dia keluar kamar.

“Sekarang kita ke ruang dokter Liam ya.” Tersentak oleh suara Diana yang tiba-tiba, aku segera berdiri sementara dia mengambil kertas-kertasnya yang tadi diletakkan di meja.

“Ayo.”

Lorong demi lorong kami lewati dan pandangan mataku menangkap bahwa semua orang yang mengenakan baju berwarna biru semua di tuntun oleh seorang suster. Kualihkan pandangan turun, sebuah tangan halus membalut tanganku dan menuntunku. Cara Diana menggenggam tanganku membuatku terlihat seperti anak kecil yang akan hilang jika tangannya lepas, hilang lalu ditemukan tewas oleh suatu kecelakaan. Sungguh menyedihkan.

Diana menghentikan langkahnya yang secara otomatis menghentikan langkahku juga. Kami sampai di depan pintu ruang dokter Liam bertepatan saat dua orang keluar dari dalam. Diana langsung membawaku masuk begitu pintu hampir tertutup.

“Mae, kau lebih cepat dua menit.” Dokter Liam menyapa.

Aku hanya diam saja tak membalas sapaannya, yang kulakukan hanyalah duduk di sofa sembari tersenyum kaku. Diana telah berjalan ke arah meja dokter Liam dan mereka berbicara dengan berbisik-bisik. Sementara menunggu mereka menyelesaikan obrolan rahasianya, aku memerhatikan ruangan kecil ini yang mungkin berukuran tiga kali empat.

The WayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang