BAB 4 : Bully

1.1K 115 0
                                        

Budayakan vote sebelum membaca:)Hargai karya anak bangsa jangan menjadi pembaca gelap!!

----------------

Happy Reading guys🖤

--------------

~Semua akan terasa jika memang sudah benar benar hilang~

🍃🍃🍃🍃🍃

Prilly menatap nanar pada layar ponselnya, mengapa sih apapun yang ia lakukan selalu salah, tidak pernah benar bagi mereka. Tanpa ia sadarai setetes airmata nya jatuh begitu saja, ia menangis.

''Cuma gara-gara pakaian, gue di bully, besok-besok apa lagi?'' tanyanya sendiri. Ia menghela nafas lelah, terlalu lelah dengan keadaan.

Maxime : Semangat sayang gausah perduliin mereka yah:).

Satu pesan masuk ke ponsel yang berada di dalam genggamannya, itu dari Max, kekasihnya. Hanya itu saja?. Itu tidak membuat nya cukup untuk tenang.

"Kerasa banget bedanya". batin Prilly sendu. Ia jadi mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana dia rela malam-malam mendatangi rumah nya, hanya untuk menenangkan dirinya.

Flashback Off

''Assalamualaikum, bunda Prilly nya mana? Masih nangis dikamar?,'' tanya Ali sembari mencium tangan Ully, mama Prilly. Ia bukan sengaja datang malam-malam kerumah Prilly karna Ully memberitahu kondisi Prilly yang di bully oleh orang-orang hanya karna satu hal.

''Iya Li dari tadi gamau keluar kamar, masih nangis juga tuh. Papa udah ngebujukin tapi tetep gak mau juga,'' jelas Ully khawatir akan kondisi Prilly yang sangat tertekan karna bully-an dari hatersnya.

''Ali boleh bantu ngebujuk bunda??? Dan bicara juga ke Prilly,'' tanya Ali meminta izin, dan tentu saja langsung mendapatkan persetujuan dari mama Prilly.

''Kamu keatas aja, bujukin yah Li, dia juga gamau makan, bunda takut nanti dia sakit,'' tutur Ully cemas, Ali menganggukan kepalanya. Setelah itu ia melangkah menaiki tangga yang menghubungkan langsung keatas, tepat nya dimana kamar Prilly berada.

Tok... Tok... Tok...

''Sayang buka pintu nya dong, ini aku,'' ucap Ali langsung tanpa basa-basi mengetuk pintu kamar Prilly.

Tidak ada balasan dari Prilly, dan juga tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan membukakan pintu kamarnya untuk Ali.
Ali tak putus asa, sungguh ia khawatir saat ini dengan Prilly. Apalagi ia juga mendengar isakan kecil dari dalam kamar Prilly, yang Ali yakini suara itu berasal dari Prilly sendiri.

''Sayang hei, ayo dong buka pintunya, sini ngomong sama aku. Ungkapin semuanya,'' bujuk Ali, dan berhasil. Prilly membuka pintu kamarnya, menatap Ali dengan mata sembab nya.

''Uuuu sayang,'' Ali langsung menarik Prilly kedalam pelukan hangatnya,

''Hiks... Hiks... Hiks... Mereka jahat, mereka gak tulus sayang sama aku,'' adu Prilly kepada Ali, tangisnya pecah saat ia mengingat semuanya.

Ali membiarkan Prilly menangis di pelukannya, ia bahkan tidak perduli jika baju yang di pakainya saat ini akan basah dan kotor karna terkena airmata Prilly beserta ingusnya. Setelah cukup lama Ali menunggu, akhirnya tidak terdengar lagi tangisan Prilly, hanya suara Prilly yang sesekali sesegukkan saja yang terdengar.

''Udah nangis nya? Hmmm?,'' tanya Ali kepada Prilly yang di balas anggukan oleh gadis itu. Ali melepaskan pelukan itu, dan mulai memperhatikan wajah Prilly secara instens. Ia menghapus sisa-sisa airmata Prilly, dan jangan lupa ingus yang keluar dari hidung Prilly juga ia bersih kan. Ia sama sekali tidak jijik, dan Prilly senang akan hal itu. Dengan gerakan pelan ia mulai merapihkan tataan rambut Prilly karna sebelumnya rambut gadisi tu sangat acak-acakan,

''Kamu denger yah ucapan aku ini. Walaupun kamu posisi nya disitu salah ataupun benar, tapi kamu masih juga di cibirin, di kata-katain inget satu hal. Mereka ga lebih baik dari kamu sayang. Dan lagi, jangan buat mereka merasa menang karna berhasil buat kamu terpuruk sama keadaan, buat mereka bungkam, buat mereka sadar kalo kamu itu bukan seorang Prilly yang lemah, kamu itu Prilly yang kuat. Kamu mau nangis, nangis aja sepuas kamu, tapi janji habis itu gaada lagi tangis-tangisan, gaada lagi sedih-sedihan. Omongan mereka tuh anggep aja angin lalu, kalo emang omonganya baik ambil sisi positifnya aja. Everything is fine okey, kamu percaya aku kan?,'' Ali menjelaskan itu dengan nada suara seperti biasa, lembut.

Ini lah alasan kesekian kalinya mengapa Prilly bisa jatuh hati kepada Ali. Ali membuat dirinya selalu tenang, selalu menghadapi apapun itu dengan lapang dada, membiarkan omongan mereka yang tidak suka padanya dan membuktikan nya melalui karya-karya yang ia buat.

''Aku percaya kamu. Kamu janji selalu ada buat aku kapan pun itu?,'' tanya Prily mendongakan kepalanya menatap Ali.
Ali tersenyum sembari mengangguk, ia mengapit kedua pipi Prilly dengan gemas yang di balas rengekan oleh kekasihnya itu.

''Makan yuk, kamu ga laper apa hm abis nangis berjam-jam,'' tanya Ali pada Prilly, ''Laper'' rengek Prilly lagi.

''Ayo makan,'' balas Ali menarik tangan Prilly menuju ruang makan dirumah Prilly. Dan Prilly hanya mengikuti Ali dari belakang sambil tersenyum senang, ia tidak sesedih tadi memang. Kehadiran Ali membuat hatinya plong, semua bebanya hilang begitu saja. Ajaib!.

Flashback off

Prilly mendongakan kepalanya menatap langit malam diatas.

''Apa kalo sekarang aku bilang kalo aku ga lagi baik-baik aja kamu bakalan di sini Li? Di samping aku?''. Ia terkekeh sendiri, sadar akan ucapannya itu hanyalah khayalan semata. Ada sedikit penyesalan di dalam hatinya. Mungkin ini akan menjadi pelajaran hidup yang paling mendalam untuk nya, karna saat ia mengalami keadaan yang tidak baik, orang yang dulu berjanji untuk selau di samping nya sekarang malah entah berada dimana. Dan itu semua karna kesalahannya sendiri, setidaknya itu menurut pandanganya.



********


Mjk 6/2/19

Terhalang Ego! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang