BAB 11

1.1K 92 2
                                        

Prilly mengetuk-ngetuk pelan meja kecil di hadapannya. Gue harus terima apa gak yah?!, batinnya bingung.

"Heh! Ngelamun aja! Kenapa sih kak? Ada masalah?" tegur Raja, satu-satunya adik kandung Prilly. Ia heran dengan sang kakak, masih pagi sudah melamun saja.
Prilly menatap Raja dengan tatapan sebalnya, "Ngagetin tau gak!".

"Kenapa sih kak? Lo putus? Seriusan? Alhamdulillah ya Allah" Raja bersyukur tiba-tiba,  sedangkan Prilly sudah memelototi adiknya itu, rasanya ia pun ingin memakan adiknya hidup-hidup karna secara tidak langsung Raja mendoakan hubungan Prilly dengan Maxime tidak langgeng.
"Raja!!!!. Lo tu yah ngeselin banget sih jadi orang. Lo doain gue sama Maxime putus?" kesal Prilly pada Raja.

Raja meringis saat merasakan perih di pundaknya, "Maksud gue gak gitu kak!. Ya lagian Lo nya juga yang salah, masih pagi udah ngelamun, gue tanya ga di jawab. Ada apaan sih?" tanya Raja lagi dan lagi.

"Gue tuh lagi bingung" curhat Prilly kepada adiknya. Raja sebagai adik yang baik hanya diam menunggu sang kakak melanjutkan ucapannya.
"Gue dapet tawaran buat nyanyi lagi dek. Kolaborasi gitu, lo tau kan dek kalo gue nyanyi nya kolaborasi berarti gue ga sendiri, alias berdua!" lanjut Prilly sembari bertopang dagu.
Raja menatap heran kakaknya itu, sambil mengunyah makanan yang ia ambil dari dalam toples kecil tadi, lalu ia berkata "Bagus dong kak. Ambil aja, enak kan kalo lo nyanyi ada temennya, jadi gak gugup".
"Ish Ja. Lo tuh ga tau" cerca Prilly yang tentu saja membuat Raja semakin heran.
"Apa sih kak" tanya Raja bingung, "Gue kolaborasi sama Ali" jawab Prilly pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Raja.

"WHAATT!!! LO SERIUS KAK? OMG!. KAK LO HARUS TERIMA POKOKNYA, HARUS, HARUS DAN HARUS. GAK BOLEH NOLAK, TITIK GAK PAKE KOMA!" titah Raja tak terbantahkan.

Prilly menjitak kepala adiknya itu, "Rese Lo!".

"Ish kok rese sih kak! Ini tuh bagus tau, menggemparkan, memporak-poranda kan isi bumi,"
"Gak gue ambil deh. Ntar orang-orang salah paham lagi,"
"Kak ayolah. Ini kan masalah kerjaan, jangan di sangkut pautkan sama masalah pribadi dong".

Prilly mendengar ucapan adiknya dengan seksama. Apa yang diucapkan oleh adiknya itu tidak salah alias benar. Ini kan masalah kerjaan, tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi. Apa yang harus ia takutkan?.
"Kak!" tegur Raja menyadarkan kakaknya itu. Prilly menatap Raja, kemudian ia menarik nafas nya dalam-dalam, dan berkata "Oke, gue terima".

Setelah mengucapkan itu, reaksi Raja sungguh diluar dugaan Prilly. Adiknya itu menari-nari sambil berteriak senang. Namun tanpa Prilly sadari pula, dirinya tersenyum manis sekali. Mungkin kah ia bahagia karena melihat adik kecil nya itu bahagia? Atau ada sesuatu? Ah ntah lah.

****
STUDIO 6 EMTEK CITY, JAKARTA.

Prilly saat ini sedang duduk di dalam ruangan bersama seorang aktor sekaligus sahabatnya. Arbani Yasiz namanya. Lelaki tampan yang ternyata juga ikut andil dalam kolaborasi nya nanti.
"Gue gak nyangka loh Prill!. Dapet project bareng lo lagi" kata Arbani sambil tersenyum manis.

"Udah lama banget yah. Lo sih sibuk mulu, jadinya kan jarang ketemu sama gue" balas Prilly menunjukkan ekspresi cemberut nya.

Arbani tertawa melihat ekspresi Prilly yang menurutnya sangat lucu itu. "Lo tuh yah tetep aja gak berubah. Yaudah habis ini, kita makan bareng deh, gue yang traktir" ucap Arbani yang tentu saja disambut Prilly dengan senang hati.

"Sama Ali juga tapi" sambung Arbani yang membuat Prilly terdiam.

Merasa ada yang mengganggu pendengaran, mereka menolehkan kepalanya kearah pintu ruangan. Disana mereka melihat, dua orang anak manusia datang dengan hebohnya tanpa menyadari kalau mereka sedang di perhatikan.

"Anjir Ali!!!!. Kurang asem ya lo" maki Verel pada Ali saat ia jatuh terduduk di depan pintu karena ulah Ali.
Ali tertawa keras, ia merasa puas karena telah berhasil menyiksa sahabat nya itu.

"Rasain! Siapa suruh ngehalangin jalan cogan kaya gue" kata Ali masih dengan tawanya.
Arbani dan Prilly melihat itu, namun hanya Arbani yang beraksi. Sedangkan Prilly? Yang ia lakukan hanya diam sambil menatap kaku Ali.

Arbani berdiri, kemudian berjalan menghampiri Ali dan Verel. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Verel berdiri.

"Thanks bro!'' ucap Verel berterimakasih, Arbani menganggukkan kepalanya.
"Wes!!! Bani, si baby face" sapa Ali yang kemudian bertos ria ala lelaki dengan Arbani. Arbani terkekeh pelan, melihat Ali yang tidak pernah berubah dari dulu, tetap humble kepada siapapun.

"Apa kabar lo Li, Rel?" tanya Arbani kepada dua anak manusia itu. Verel berdehem sebelum ia menjawab pertanyaan dari Arbani, "Kalau gue sih baik yah, karena gue udah gak jomblo, ga tau nih kalau yang di sebelah gue kaya gimana".

Ali yang merasa tersindir pun tentu saja langsung protes tidak terima, "Gue baik lah gila aja Lo Rel!".

"Masih jomblo Li?' tanya Arbani pada Ali, "Jodoh gue belum dateng" jawab Ali singkat.

Verel menatap Ali dengan tatapan jahil nya, "Li itu di pojok siapa? Jodoh lo kan yah? Eh salah, masih ketunda belum pasti, ya kan Ar!" ucapnya meminta persetujuan dari Arbani. Arbani menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Verel, "Sabar Li! Dia masih tersesat".

Ali mengikuti arah tangan Verel yang menunjuk Prilly yang berada di ruangan. Bertepatan dengan itu, ternyata Prilly pun sedang menatap kearah mereka, lebih tepatnya kearah Ali. Kalian tau? Tatapan mereka bertemu walau hanya beberapa menit saja.
Verel dan Arbani melangkah terlebih dahulu menghampiri Prilly yang berada di sudut ruangan.

"Hai Prilly Mahatei Latuconsina jodoh tertunda nya Muhammad Ali Syarief alias Aliando Syarief" sapa Verel pada Prilly sambil menunjukkan cengiran lebarnya.

Arbani geleng kepala saja melihat tingkah Verel, kemudian ia menatap Ali dengan heran, "Li sini! Ngapain lo masih disitu? Mau jagain pintu?," tanyanya membuat Ali sadar dari lamunannya.

Dengan ragu, Ali melangkah mendekat kearah mereka. Kemudian ia mendudukan dirinya di kursi itu, tepatnya disamping kiri Verel.

Posisi mereka duduk saat ini, Arbani yang berada di ujung kursi sebelah kanan, sebelah kiri nya Prilly, sebelah kiri Prilly ada Verel, dan di sebelah kiri Verel ada Ali. Jadilah posisi Prilly seperti dikelilingi oleh pemuda-pemuda tampan dan berbakat.

"Ngapain lo disitu?" Verel bertanya kepada Ali yang tentu saja membuat Ali bingung.

"Hah?" ucap Ali tak mengerti. Verel menghela nafasnya, kemudian ia berdiri dan duduk di samping kanan Ali, tepatnya ia sengaja memaksa menggeser posisi duduk Ali agar sahabatnya itu bisa duduk berdekatan dengan Prilly tanpa ada jarak.

"Eh," ucap Ali dan Prilly bersamaan.

*****

Gantung ga papa yahhhh ahahaha😂😂 maapkeun yawww lama banget updatenya ini ayo gapapa protes aja, maklumin yahh admin admin yang sok sibuk ini😂😂😂. Tunggu kelanjutan story' ini, pantauin terus, love you guys!! Jangan lupa vote, share and comment!!!❤️❤️❤️❤️❤️

Terhalang Ego! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang